TAJUK RENCANA : DAHULUKAN PENALARAN SEHAT

TAJUK RENCANA : DAHULUKAN PENALARAN SEHAT[1]

 

Jakarta, Merdeka

PIDATO pertanggungjawaban mandataris MPR belum lama menimbulkan berbagai ragam interpretasi. Di antaranya yang paling mencuat adalah bagian yang mengetengahkan bahwa Indonesia akan melaksanakan apa yang dijabarkan sebagai ‘mengatasi kesulitan ekonomi dewasa ini dengan implementasi apa yang diberi penamaan IMF Plus’.

Karuan saja para pengulas ekonomi politik mancanegara, segera menafsirkannya sebagai keengganan Indonesia untuk melaksanakan pasal-pasal yang tertulis dalam Letter of Intent, yang ditandatanganiPresiden Soeharto dan wakil IMF di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sebelum itu, pada Oktober tahun lalu di Pasuruan, Pak Harto telah mengisyaratkan tidak akan meminta uang kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Barangkali sinyal itu yang sekarang ini dijadikan arahan, mengapa Indonesia menghendaki suatu penyelesaian tidak saja utang swasta yang jatuh tempo dan penataan kembali perekonomian Indonesia, berdasarkan apa yang kini populer disebut sebagai IMF Plus.

Pidato Pak Harto yang menimbulkan banyak salah tafsir di kalangan pers Barat itu, dipicu majalah News week edisi 23 Februari 1998 lalu, dikaitkan dengan kedatangan dua orang pakar ekonomi yang anti IMF, yakni Jeffrey Sachs dari Harvard dan Steve Hanke dari Johns Hopkins yang belum lama ini sangat giat berceramah di kota-kota besar Asia yang negaranya terkena imbas krisis moneter. Di bawah judul ‘Economists On The Fly’ (Para Pakar Ekonomi yang Sedang Kiprah), kedua ahli ekonomi dicap Michael Hirsh, penulis artikel sebagai economist provocateur (pakar ekonomi penghasut). Di hadapan para anggota LDP Jepang, Sachs jika menohok politik ekonomi Gedung Putih atau IMF, disambut dengan teriakan banzai yang bergemuruh.

Kita tidak akan mengaitkan pernyataan Prof. Juwono Sudarsono, Aburizal Bakrie, atau lainnya yang mengisyaratkan bahwa Indonesia akan menempuh jalannya sendiri, tidak akan mau didikte negara mana pun, atau IMF sekalipun dalam mencari cara untuk keluar dari kesulitan ekonomi sekarang ini. Karena, masalahnya berkaitan erat dengan harkat dan martabat suatu bangsa, dan kedaulatan negara kita. Yang ingin kita utarakan adalah pentingnya penggunaan apa yang disebut sebagai penalaran waras, atau common sense, sebab kemelut ekonomi bisa berdampak sebagai apa yang dikenal ‘teori domino’. Krisis ekonomi, tak pelak lagi bisa saja memicu krisis lain­lain, seperti krisis politik, krisis kepercayaan, krisis keamanan, krisis persatuan dan kesatuan, serta krisis-krisis lainnya. Selain itu, seorang ahli strategi yang arif tidak bakal mau bertempur di dua ‘front’ sekaligus.

Menghadapi krisis ekonomi sudah menghadirkan cukup kesulitan, jika ditambah konflik dengan IMF dan kelompok G-7 yang perkasa itu, maka situasi akan lebih rancu dan akibatnya akan sulit diramalkan. Marilah kita dalam situasi tanpa kepastian, berusaha mati-matian untuk mengubah bahaya yang mengancam menjadi keuntungan yang membawa hikmah dan kearifan, yaitu menyelamatkan bangsa kita dari musibah yang bisa berkepanjangan.***

Sumber : MERDEKA (09/03/1998)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 720-721.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.