TAJUK RENCANA: ANCAMAN DARI DALAM HARUS DIWASPADAI

TAJUK RENCANA: ANCAMAN DARI DALAM HARUS DIWASPADAI

 

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

MASYARAKAT harus lebih waspada terhadap ancaman yang mungkin muncul dari dalam negeri karena datangnya gangguan dari negara lain telah berkurang akibat perubahan politik di berbagai negara. Yang paling berbahaya sekarang adalah ancaman dari dalam negeri, kata Presiden Soeharto di Tapos, Bogor, Minggu lalu waktu menerima para pemuda peserta Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) yang diantar Menpora Akbar Tanjung.

Yang dimaksud kepala negara dengan ancaman dari dalam negeri itu adalah tawaran gagasan altematif dari luar yang seolah-olah lebih baik untuk menggantikan Pancasila. Karena itulah, katanya, setiap warganegara harus membentengi diri dan mengerti serta mengetahui Pancasila dan UUD 45. Dengan cara itu juga akan dimengerti pengelolaan negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45. Jangan sampai terjadi mereka belum mengerti kemudian menilainya salah. Mereka menawarkan gagasan itu mungkin karena belajar dari bangsa dan negara lain kemudian menyatakan Pancasila dan UUD 45 salah dan pendapatnyalah yang baik, kata Presiden

Generasi muda Indonesia memang dituntut memahami dan meyakini Pancasila sebagai ideologi nasional dan kelebihannya atas ideologi-ideologi lain. Dengan cara itu Pancasila yang digali dari bumi Indonesia sendiri menjadi satu-satunya pegangan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur lewat pembangunan di segala bidang.

Ada masanya Pancasila mendapat saingan keras dari ideologi asing, diantaranya komunisme waktu PKI adalah partai legal. Tapi setelah partai itu untuk kedua kalinya mengkhianati negara lewat G-30-S-1965 yang gaga! itu, tanggal 12 Maret 1966 ia dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Dan itu terjadi di masa jayanya komunisme yang terus melakukan misinya untuk mengkomuniskan seluruh dunia.

Ternyata kehebatan komunis yang didukung oleh angkatan perang yang kuat dan persenjataan canggih itu berdiri di atas dasar yang keropos karena ketidak becusan komunisme dalam pembangunan ekonomi untuk menciptakan surga bagi buruh dan tani.

Kegagalan itu yang membuat rezim-rezim komunis ambruk, mula-mula di Eropa Timur satelit Moskow, sedang tahun 1991 di Uni Soviet sendiri. Gagalnya kudeta 19 Agustus untuk menghidupkan kembali sistem diktator menyebabkan Partai Komunis Uni Sovyet dibubarkan, sedang Desember 1991 Uni Sovyet itu sendiri gulung tikar setelah berdirinya Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS).

Kendatipun di Eropa Timur rezim-rezim komunis sudah mati, di daratan Cina, Korea Utara, Vietnam dan Kuba rezim komunis berusaha menunda kematiannya. Untuk itu Cina umpamanya menempuh jalan kapitalisme seperti pemilikan pribadi faktor produksi seperti tanah untuk meningkatkan produksi, memberi kebebasan berusaha kepada penduduk, mengundang masuknya modal asing, membuka Iebar pintu masuk untuk memajukan kepariwisataan. Padahal dulu praktek-praktek demikian amat diharamkan negara-negara komunis.

Lazim bagi orang-orang komunis untuk bergerak di bawah tanah setelah, partainya dibubarkan dan dilarang, hal yang agaknya juga terjadi di negeri ini, yang membuat timbulnya bahaya Iaten. Inilah ancaman yang selamanya harus diwaspadai, sebab sekali keyakinan komunisme sudah tertanam, sulit bahkan mustahil untuk mencabutnya sampai ke akar-akarnya. Cara yang ampuh pula untuk menangkal komunisme adalah pemerataan hasil-hasil pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan si miskin, karena kesejahteraan adalah lahan kering bagi komunisme.

Menjelang pemilu bulan Juni nanti kewaspadaan itu perlu ditingkatkan agar pemilu itu benar-benar merupakan pesta demokrasi tanpa gangguan. Lewat peningkatan kewaspadaan tertutup peluang bagi goIongan anti Pancasila untuk mengeksploitir unsur-unsur SARA buat menimbulkan kekacauan demi kepentingan politiknya.

Sejak berlakunya lima UU Pemilu 1985 dan dijadikannya Pancasila satu-satunya azas bagi Orpol dan Ormas lenyaplah azas-azas ciri Orpol yang membuat masa kampanye jadi ramai dan ribut. Tapi berkat adanya UU Pemilu itu, pemilu 1987 berlangsungjauh lebih baik dari pemilu 1982, dan selanjutnya pemilu 1992 ini akan lebih maju pula dari pemilu 1987.

Untuk mewujudkannya kewaspadaan harus tetap dipelihara termasuk kewaspadaan terhadap menyusupnya gagasan-gagasan yang berdasar ideologi lain seperti yang diingatkan Presiden tadi.

Untuk itu seluruh penduduk harus membentengi diri dengan memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila, karena sesungguhnya di pengamalan itulah terletak kekuatan dan kesaktian Pancasila. Berkat kesaktian Pancasila itu pula 47 tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan sampai hari ini Indonesia tetap utuh dan bersatu, padahal berapa banyak negara yang berdiri sesudah usainya perang dunia II yang pecah dua, dirongrong oleh perang saudara, dan usaha etnis-etnis bangsa untuk membebaskan diri dari pemerintah pusat dan menjadi negara merdeka.

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (04/02/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 77-79.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.