Tajuk Rencana : ADA PERSYARATAN UNTUK JADIKAN KERAGAMAN AGAMA SEBAGAI KEKUATAN

Tajuk Rencana :

ADA PERSYARATAN UNTUK JADIKAN KERAGAMAN AGAMA SEBAGAI KEKUATAN[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

ADA sejumlah kesan yang muncul tatkala kita mengikuti kunjungan Presiden Soeharto di Timor Timur. Kunjungan itu selain untuk peresmian sejumlah proyek pembangunan, memberi kesempatan kepada masyarakat Timor Timur untuk bertatap muka kembali dengan Kepala Negara, yang terakhir mengunjungi propinsi termuda ini sewindu silam. Menjadi harapan kita semua agar dengan kunjungan Presiden ini akan semakin dekatlah pertautan emosional antara masyarakat di propinsi ke-27 ini dengan Tanah Air Indonesia.

Dalam pidatonya ketika meresmikan proyek-proyek pembangunan, Kepala Negara menegaskan lagi, bahwa melalui Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila, negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negara. Lebih Ianjut Presiden juga mengatakan, negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

“Kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar, karena langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan makhluk ciptaan Tuhan. Dengan demikian, kemajemukan agama bukan merupakan kerawanan.” tegas Presiden.

Kita senang bahwa Presiden mengangkat kembali masalah kebebasan beragama dalam kunjungan di Timtim. Dari tempat pidato tersebut disampaikan, tegaslah pesan yang ingin disampaikan Kepala Negara. Harapan kita, secara khusus masyarakat Timtim semakin yakin, bahwa perbedaan agama tidak perlu menimbulkan kekhawatiran atau kecil hati, dan kepada kita semua bangsa Indonesia yang majemuk dalam serba hal ini, penegasan tersebut memperkuat apa yang sudah kita yakini benar selama ini.

KITA juga lega bahwa Kepala Negara menegaskan soal penting ini justru saat kita baru dilanda rasa sedih mendalam karena insiden Situbondo Kamis pekan silam. Kita harapkan, pula, bahwa penegasan Kepala Negara di atas dapat memunculkan kembali kesegaran dalam kehidupan bersama kita yang memang pada kenyataannya ada dalam kemajemukan agama.

Adanya kemajemukan agama dan munculnya kejadian seperti Situbondo, memang lalu mudah menimbulkan persepsi bahwa kemajemukan agama merupakan salah satu kelemahan dan menjadi sumber konflik. Kemarin kita mendengar pandangan, bahwa kedua hal di atas tidak benar. Pertama dari Kepala Negara sendiri, yang justru melihat bahwa kemajemukan agama justru bisa merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan yang dapat kita dayagunakan untuk mendorong maju pembangunan.

Sementara itu NU seperti dikemukakan oleh Sekjen Ahmad Bagdja juga menega skan, bahwa kejadian Situbondo tidak digerakkan oleh kebencian agama tetapi semata merupakan tindakan kriminal.

Masalahnya sekarang, selain perlu mengetahui latar belakang kejadian tersebut secara lebih mendalam, kita juga perlu mengukuhkan premis di atas, bahwa kemajemukan bukanlah kelemahan dan sumber konflik tetapi justru kekuatan.

SATU hal yang kita yakini adalah bahwa menyangkut soal-soal seperti persatuan bangsa, toleransi agama, kita ternyata tidak boleh memandangnya sebagai satu hal yang sudah semestinya demikian atau taken for granted. Soal-soal itu ternyata menuntut upaya yang terus menerus, bahkan boleh jadi dengan usaha keras, tanpa jemu.

Kemajemukan agama akan menjadi kekuatan bagi kita manakala penghayatan kita mengenai persatuan bangsa dan toleransi beragama kita benar-benar telah kita hayati dan terapkan dengan sepenuh dan setulus hati.

Bahkan bias juga kita sebutkan, bahwa hal itu bisa kita capai manakala di atas penghayatan kita akan persatuan bangsa dan toleransi agama, kita telah dapat mengembangkan kasih pada sesame yang tidak lain adalah rasa kemanusiaan- pada diri kita masing-masing.

Kita yakini, kedua hal di atas menjadi persyaratan manakala kita ingin mengembangkan kemajemukan agama sebagai kekuatan potensial untuk menggerakkan pembangunan dan membina rasa persatuan.

SEKALI lagi ingin kita ungkapkan perasaan lega kita, bahwa dalam kunjungan Kepala Negara di Timtim kita telah mendapatkan pandangan, dan lebih bermakna lagi ungkapan pengertian yang diwujudkan dengan dialog antara Presiden Soeharto dan Uskup Dili Mgr Carlos Felipe Ximines Belo. Pembicaraan tentang pembinaan umat Katolik di Timtim antara Presiden dan Uskup Belo bagi kita bermakna lebih banyak dari pada isi pembicaraan itu sendiri.

Kiranya dengan teladan para pemimpin dan pemuka masyarakatlah bangsa kita dapat lebih mendapat kan panutan dalam upaya meningkatkan kerukunan beragama di Tanah Air. Dengan adanya kesadaran dan kedewasaan untuk hidup rukun dalam kehidupan beragama, akan lebih mudah untuk mengatasi problema bersama, seperti kemiskinan atau kesenjangan sosial yang masih sama-sama kita hadapi. Inilah kiranya situasi yang sama-sama kita idealkan dan ingin kita perjuangkan bersama-sama.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (02/11/1996)

___________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 641-643.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.