TAJUK : NASIB KITA DI TANGAN KITA SENDIRI

TAJUK : NASIB KITA DI TANGAN KITA SENDIRI[1]

 

 

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto, dalam pidato pertanggungjawabannya selaku Mandataris MPR, di depan Sidang Pleno MPR kemarin (1/3) menegaskan pendirian politik pembangunan nasional Indonesia, di tengah-tengah maraknya langkah-langkah regional dari Internasional yang kini sedang ditempuh untuk mengatasi krisis ekonomi yang melanda beberapa negara Asia.

“Tetapi pada akhirnya, pemecahan (krisis itu) terletak di tangan masing-masing negara.” ujar Kepala Negara seraya menegaskan bahwa tekad kita sudah bulat untuk mengatasi masalah yang kita hadapi ini.

Ketika prahara berupa kesulitan ekonomi menimpa, memang banyak orang yang terlalu mengandalkan penilaian, resep, kemungkinan datangnya bantuan dan uluran tangan, serta bantuan lembaga Internasional dan kebaikan hati sejumlah kepala pemerintahan negara sahabat yang memiliki pengaruh besar dalam percaturan ekonomi global.

“Barat, khususnya Amerika Serikat, tidak akan membiarkan negara­-negara Asia yang kini dilanda krisis ekonomi itu untuk bangkrut.” kata seorang ekonomi Indonesia terkemuka.

Kawasan ini terlalu penting bagi Barat, bukan hanya dilihat dari kacamata geopolitik dan geostrategi, tetapi juga secara ekonomi.

Presiden Soeharto memberi laporan pertanggungjawaban di depan MPR secara jujur, lugas, gamblang, tidak ada yang ditutup-tutupi, dan seperti juga yang digarisbawahinya, tidak terkesan mencari-cari kambing hitam,

“Walaupun kita telah mempunyai dan mulai melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi yang jelas dan mendasar, namun belum ada tanda-tanda bahwa keadaan bertambah baik, malahan keadaan kehidupan rakyat bertambah berat.” Presiden Soeharto mengungkapkan.

Dengan bahasa santun, Presiden Soeharto menyampaikan penghargaan pada IMF serta lembaga-lembaga keuangan Internasional lainnya dan kepada negara-negara sahabat yang telah mengulurkan bantuan pada Indonesia selama menghadapi krisis ini. Padahal masyarakat juga mencatat bagaimana sikap bisnis dan tindakan mereka dalam rangka melindungi dan memperjuangkan kepentingan konstituensi pengusaha dan stake holdernya yang sudah mereka tunjukkan selama berlangsungnya wacana krisis ini.

“Tidak selayaknya IMF menunda pencairan bantuannya kepada Indonesia.” komentar Datuk Anwar Ibrahim, wakil Perdana Menteri Malaysia.

Kalau sudah ada komitmen, katanya, mengapa masih ditangguhkan? Sebaliknya, seorang diplomat sebuah negara di Eropa bahkan memiliki keberanian mengaitkan ‘reaksi pasar’ dengan masalah politik dalam negeri Indonesia, seperti masalah pencalonan wakil presiden dalam Sidang Umum MPR yang sekarang sedang berlangsung.

Reaksi pasar adalah jargon baru dalam diplomasi masa kini untuk mengisyaratkan kemungkinan adanya tekanan ekonomi yang datang dari kepentingan bisnis pengusaha­pengusaha asal negara-negara maju dengan masalah-masalah politik dalam negeri, seperti soal pencalonan wakil presiden dalam Sidang Umum MPR. Maka nuansa nasionalisme baru dalam semangat pidato pertanggungjawaban Presiden di depan Sidang Pleno MPR kemarin patut kita garis bawahi.

Sumber : REPUBLIKA (02/03/1998)

_____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 122-123.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.