TAJUK : MENEPIS SPEKULASI

TAJUK : MENEPIS SPEKULASI[1]

 

Jakarta, Republika

Berita dari Bad Oeynhausen, Hannover, Jerman yang disampaikan Menristek BJ Habibie maupun dr. Reiner Koerfer, tentang kesehatan Presiden Soeharto tentu melegakan seluruh rakyat Indonesia. Kondisi kesehatan Pak Harto ternyata lebih baik dari yang diperkirakan banyak orang.

Penegasan Koerfer, kepala tim pemeriksa dari klinik Pusat Jantung dan Diabe­tes Bad Oeynhausen sekaligus hendak mengakhiri spekulasi politik maupun ekonomi yang mengiringi mencuatnya rencana pemeriksaan kesehatan Pak Harto yang berusia 75 tahun itu.

Betapa tidak pertengahan pekan lalu mulai menyebar rumor-rumor politik di masyarakat. Para wartawan asing pun memuat semua isu di sekitar masalah ini. Pemberitaan media asing ini, menurut Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad mengakibatkan sedikit gejolak berupa anjloknya indeks harga saham di Bursa Efek Jakarta maupun menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di Singapura.

Gubernur Bank Indonesia Sudradjad Djiwandono mengungkapkan kurs dolar AS terhadap rupiah naik sekitar Rp 17 setiap dolarnya. Kenaikan ini sebenarnya masih dalam batas aman yaitu masih Rp 20 di atas batas bawah nilai kurs yang mengharuskan BI mengintervensi. Bahkan ketika nilai kurs mencapai Rp 3.248 per dolar AS normalnya Rp 2.326 sampai Rp 2.327 pun berarti masih di bawah patokan tadi. Sedangkan indeks harga saham gabungan di BEJ sempat anjlok hingga 13 poin.

Pada sisi lain, pada posisi harga seperti itu pun transaksi yang terjadi sangat kecil, hanya antara 50 juta dolar AS (lebih dari Rp 138 miliar). Jika dilihat dari cepatnya penurunan nilai kurs itu, ia mengaku memungkinkan terjadinya rush ramai investor menjual rupiah tapi ia menilai hal itu sangat tipis terjadi jika memperhatikan angka transaksi tadi.

Gejolak itupun hanya terjadi di kalangan perbankan. Di pasar umum nilai rupiah tidak mengalami masalah apa-apa. Setiap harinya bisa tercapai transaksi hingga lima miliar dolar AS. Sebenarnya secara tak langsung isu-isu itu ditepis Pak Harto sendiri, yaitu lewat berbagai penampilan Presiden di muka umum. Misalnya membuka Musyawarah Besar ke-4 Badan Kontak Majelis Taklim, melepas kontingen Indonesia ke Olimpiade Atlanta maupun bermain golf hingga sembilan hole dengan 12 handicap. Di tambah suntikan dana senilai Rp 534 miliar oleh Bank Indonesia ke pasar uang, gejolak pasar uang dan pasar modal berangsur pulih. Rumor politik pun tak berlanjut lebih luas lagi.

Dan gejala ini menunjukkan bahwa situasi ekonomi dan politik Indonesia masih relatif rawan terpaan isu dan ulah para spekulan. Padahal seperti dikatakan Mensesneg Moerdiono serta ditunjukan oleh Pak Harto sendiri, kondisi Pak Harto sehat walafiat. Kepergiannya ke Jerman hanyalah untuk memeriksa kesehatannya di usianya yang mulai menua. Dan hal itu normal saja dilakukan sehingga tak perlu menggelisahkan semua pihak.

Kalaupun ada yang perlu dicermati dalam hal ini hanyalah soal komunikasi. Seperti ditengarai pengamat politik dari Universitas Indonesia Dr. Amir Santoso, kurang sempurnanya penjelasan tentang kepergian Pak Harto berdampak yang semestinya tak perlu. Di beberapa negara lain tugas komunikasi di bebankan pada juru bicara profesional. Sudah saatnya kita mempunyai juru bicara Presiden secara khusus.

Sumber : REPUBLIKA (11/07/1996)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 680-681.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.