TAJ MAHAL SUATU MONUMEN CINTA ABADI SEORANG SUAMI Disela-sela Kunjungan Presiden Soeharto ke India (Selesai):

TAJ MAHAL SUATU MONUMEN CINTA ABADI SEORANG SUAMI

Disela-sela Kunjungan Presiden Soeharto ke India (Selesai):

Wanita Yang Datang Ke Taj Mahal Dan Mengambil Air Suci Dari Kolamnya Akan Mendapat Cinta Abadi Dari Suaminya

Oleh : Prihatin Sudiyono

Hari ketiga di India dipergunakan untukmengunjungi Taj Mahal di Agra, kira-kira 200 km sebelah selatan New Delhi. Dari ibu kota India, agra dapat dicapai dengan kendaraan darat, seperti kereta api, mobil maupun bus umum dengan pesawat kira2 memakan waktu 30 menit. Dengan kendaraan darat dari New Delhi, agar dapat dikunjungi dalam satu hari, artinya pagi2 berangkat dari New Delhi dan petang hari pulang kembali. Tetapi bagi yang ingin menginap di Agra, juga tersedia banyak penginapan, dari hotel yang bertarap internasional hingga losmen murahan.

Mengingat sempitnya waktu kunjungan Presiden dan lbu Tien Soeharto dilakukan dengan pesawat terbang, Air India. Karena penerbangan hanya kira-kira 30 menit para penumpang cukup diberi permen saja.

Taj Mahal, merupakan salah satu dari keajaiban dunia yang ada, lainnya adalah Borobudur di Indonesia. Tembok Besar di Cina, Taman Gantung Babilonia, Menara Miring Piza, Pyramide di Mesir dan Menara Eifel.

Masing2 keajaiban dunia ini didirikan atau dibangun dengan masing2 tujuan. Taj Mahal dibangun oleh raja yang pada waktu itu berkuasa ialah Shah Jehan sebagai pernyataan cinta yang murni dan agung kepada istri tercinta.

Sebelum sang istri meninggal, Shah Jehan berjanji bahwa ia akan membuatkan makam yang begitu indah sehingga seluruh dunia akan tahu betapa agung cinta mereka.

Janji Shah Jehan ini ditepati. Ia membangun makam bagi istri tercintanya yang begitu indah dan mewah untuk membangunnya saja diperlukan waktu 22 tahun lamanya. Bangunan seluruhnya terbuat dari batu marmer. Dibagian dalam batu marmer ini diukir dengan motif bunga dan daun2an sangat indah.

Makam istri Shah Jehan terletak tepat di tengah pintu masuk dan tepat pula menghadap sebuah taman dengan kolam yang memanjang kira-kira 500 m. Tetapi kesimetrisan yang telah direncanakan oleh Shah Jehan tadi dirusak oleh putra2nya.

Ketika Shah Jehan wafat, jazadnya dikuburkan di sebelah kanan istrinya sehingga membuat letak makam tidak lagi simetris.

Padahal Shah Jehan punya rencana untuk membuat makamnya, juga sebuah bangunan semacam Taj Mahal di depan makam istrinya itu, sehingga mereka tetap akan dapat saling berpandangan. Gagasan ini ditentang keras oleh putra2nya, karena dianggap suatu pemborosan yang sia2.

Pada akhir hayatnya, Shah Jehan "dipenjara" oleh putra2nya dan setelah wafat jasadnya dimakamkan berdampingan dengan istrinya.

lbu Tien Soeharto sangat berkesan pada Taj Mahal ini. Bukan saja karena hebatnya bangunan fisik dari pada Taj Mahal itu, tetapi lebih2 dilihat dari jiwa atau idea dari pada dibangunnya Taj Mahal itu, yaitu lambang cinta yang besar dari seorang suami terhadap istrinya.

Berkata lbu Tien Soeharto "Andaikata seluruh dunia ini para suami itu cinta kepada hanya satu orang istri, maka akan bahagialah seluruh rakyat di dunia ini".

Selesai peninjauan, lbu Tien cuci tangan dan cuci kaki di air kolam, yang katanya bila wanita menyentuh air dalam kolam ini, ia akan dicintai oleh suaminya seperti Shah Jehan mencintai isterinya. Penulis pun ikut2 mengambil air kolam di depan Taj Mahal itu. Siapa sih orangnya yang tidak ingin dicintai suaminya. Semoga saja apa kata orang itu, benar adanya.

Selain Taj Mahal, Presiden dan Ibu Tien juga meninjau Benteng Agra yang letaknya kira-kira 2 km dari Taj Mahal. Benteng ini adalah tempat pembuangan Shah Jehan.

Masuk pintu gerbang sampai ke ruangan tempat tinggal kira2 berjarak 1.000 m di pagari tembok tinggi. Tembok ini dibuat dari batu merah, bukan bata. Di dalam benteng ini ada halaman agak luas, kemudian ada ruangan, kalau di Jawa kita kenai sebagai pendopo, di sini ada juga bangunan yang agak tinggi, mungkin untuk duduk Shah Jehan bila dihadap oleh anak buahnya yang duduk di pendopo.

Di teras yang tinggi letaknya itu ada pintu yang langsung masuk ke bagian dalam rumah. Bagian dalam ada juga semacam halaman yang dikelilingi kamar2, katanya kamar2 ini tempat tinggal selir (harem) Shah Jehan jumlahnya lebih dari 200 orang.

Selesai meninjau Benteng Agra Presiden dan Ibu Tien Soeharto singgah di Intercontinental Hotel Agra untuk sejenak beristirahat Bagi para tourist, hotel menyediakan sesuatu yang khusus yaitu onta dan gajah untuk dinaiki.

Sekali naik putar halaman hotel dikenakan bayaran Rs 10 atau kira2 Rp 750,-. Ny. Sudharmono, istri Mensekneg, Joop Ave, kepala protokol kepresidenan memanfaatkan waktu istirahat itu untuk putar2 halaman hotel di atas punggung gajah.

Siang itu juga sehabis makan siang, rombongan kembali ke New Delhi. Sebelum meninggalkan Agra, pesawat Air India yang kami tumpangi ber-putar2 dengan sangat rendahnya di atas Taj Mahal, suatu pemandangan sangat indah.

Sore hari masih ada satu acara lagi, yaitu pertemuan Presiden dan Ibu Tien Soeharto dengan masyarakat Indonesia di India. Menurut Dubes kita Samsul Basri, jumlah masyarakat Indonesia di India hanya sekitar 130 orang jadi di Pakistan lebih banyak, karena di Pakistan ada sekitar 240 orang Indonesia.

Pertemuan malam itu diisi pula dengan malam kesenian dan bazaar. Suatu idea yang bijaksana dari Dubes kita di India tetapi penulis yakin bahwa itu adalah ide istri Dubes yaitu Ny. Samsul Basri. Dengan adanya bazaar di KBRI ini berarti memberi kesempatan membeli oleh2 bagi anggota rombongan dari Indonesia.

Karena memang selama berada di India tidak ada waktu luang untuk dapat melihat2 toko. Biasanya waktu luang hanya pada waktu makam siang, kira-kira 2 jam, yang biasanya digunakan untuk istirahat.

Tetapi bagi wartawati. waktu luang yang hanya sedikit itu digunakan se-baik2nya. Biasa untuk lihat2 harga di pasar. Pernah penulis dengan wartawati majalah Kartini. Ny. Anggraeni memberanikan diri keliling kota dengan taksi, karena cari2 mobil dari panitia tidak ada, ee… benar saja, disesatkan dan akan diperas oleh sopir taksi.

"Ea ….jangan dikira kita makanan yang empuk, ya, biar kita perempuan" kata Ny. Anggraeni sewot sambil maki2. Rupa2nya sopir taksi takut juga melihat perempuan cantik marah2, akhirnya kami diantar ke tempat yang karni maksud. Sebenarnya penulis ingin juga merasakan naik bajaj di India ini tetapi dilarang rekan2 lain, takut kalau hilang.

Terharu juga rasa hati ini dirantau orang melihat ibu2 menyanyi dan anak2 menari tarian Indonesia. Dan masyarakat Indonesia di India terutama di New Delhi sangat giat berlatih kesenian, terutama kesenian Jawa. Malahan penulis dengar untuk keperluan ini telah didatangkan khusus pelatih tari Jawa dari Indonesia.

Penulis tidak heran, karena istri Dubes kita di India ini memang seniwati, ahli dalam tari menari Jawa. Menurut rencana pada bulan Februari tahun depan tim kesenian Ratna, Budhaya pimpinan Ny. Mashuri juga akan mengadakan perlawatan ke negeri gajah ini untuk memperkenalkan kebudayaan, terutama kesenian Indonesia, agar Indonesia lebih dikenal oleh rakyat India.

Oya, penulis teringat ketika diundang oleh Konsul India di Jakarta sebelum rombongan berangkat ke India. Sekretaris II, Kedutaan Besar India mengatakan agar penulis menyarankan kepada pejabat Indonesia untuk menghubungi pejabat India, dalam bidang penerangan tentunya, agar film2 Indonesia dapat diputar di India.

Selama ini boleh dikatakan di gedung bioskop India belurn pernah diputar film2 Indonesia. Sedangkan di Indonesia, film India ini banyak penggemarnya. Paling tidak sebulan sekali di Jakarta diputar film India, bahkan ada gedung bioskop yang setiap hari memutar film India ini. Suatu saran yang baik. Saya kira dalam hal ini Dep. Penerangan RI dapat mengambil peranan penting.

Pertemuan antara Presiden dan lbu Tien Soeharto dengan masyarakat Indonesia di India berlangsung hingga agak larut malam. Pagi hari 4 Des 80, kita, semua telah siap mengakhiri kunjungan ke India selama 4 hari, dan akan segera kembali ke Tanah Air.

Kesimpulan

Kunjungan muhibah Presiden Soeharto ke Pakistan dan kunjungan balasan ke India berjalan baik, mendapat sambutan hangat dari rakyat masing2 negara. Pembicaraan2 resmi berjalan lancar, luwes, tidak kaku karena adanya persamaan pandangan antara Indonesia dengan Pakistan, maupun antara Indonesia dan India.

Harapan yang dapat diletakkan pada kunjungan Presiden Soeharto ke Pakistan maupun ke India dalam bidang ekonomi, ialah makin lebih berkembangnya hubungan ekonomi antara Indonesia – Pakistan dan Indonesia – India. Demikian pula masalah2 lain seperti masalah kerjasama tehnik, industri dan lain2. Masalah selanjutnya tinggal tergantung pada realisasi oleh eselon pelaksanaannya.

Dipandang dari segi sosial politis, kunjungan Presiden Soeharto ke Pakistan akan mengingatkan kembali adanya hubungan yang telah ada antara Indonesia dan Pakistan.

Ketika Indonesia sedang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatannya, Pakistan memberikan bantuannya. Demikian pula ketika Pakistan berjuang untuk bertanah air sendiri, Indonesia juga memberikan bantuannya. Dengan adanya kunjungan Presiden ke Pakistan ini diharapkan hubungan yang telah ada dapat lebih ditingkatkan dan dieratkan lagi.

Dengan India, kunjungan Presiden Soeharto iniakan dapat menggugah kembali nostalgia hubungan erat yang pemah terjalin antara Indonesia – India di tahun 1950 dengan dicetuskannya gagasan dan kemudian dilaksanakan Konferensi Asia Afrika yang kemudian menghasilkan Dasasila Bandung yang mempunyai pengaruh besar akan tampilnya dan keinginan untuk berdiri sendiri negara2 Asia dan Afrika.

Semoga kunjungan Presiden ke India akan lebih mempererat hubungan yang telah ada, baik ekonomi, sosial budaya dan lain2 antara Indonesia dan India. Dirgahayu Pakistan, dirgahayu India dan dirgahayu Indonesia. (DTS)

New Delhi, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (17/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 748-752.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.