TAHUN 1998 ADALAH TAHUN BERAT YANG HARUS KITA HADAPI BERSAMA

TAHUN 1998 ADALAH TAHUN BERAT YANG HARUS KITA HADAPI BERSAMA[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Tahun 1997 yang penuh cobaan berhasil kita lalui. Patutlah kita bersyukur. syukur kita perlukan untuk memasuki tahun 1998 yang belum akan surut tantangannya.

Adalah Presiden Soeharto yang dalam pidato akhir tahunnya, menegaskan:

“Dewasa ini bangsa Indonesia sedang mengalami ujian yang sangat berat di bidang moneter dan ekonomi.”

Kepala Negara mengingatkan, kita berada dalam suasana prihatin dan sulit. Justru dalam keadaan demikian, putusan dan langkah pemerintah dan masyarakat umumnya tidak menyenangkan,

“Malahan bisa terasa menyakitkan.” Karena itu diperlukan kesediaan berkorban.

UJIAN sangat berat di bidang moneter dan ekonomi itu menumpahkan dampaknya ke bidang-bidang lain. Kita mencemaskan akibatnya untuk para pekerja, jika sampai terjadi pemutusan hubungan kerja.

Kita merisaukan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban, jika hidup sehari­-hari semakin sulit serta pengangguran bertambah banyak, Kejahatan bisa bertambah­-tambah.

Kita khawatir, jika krisis kepercayaan terhadap rupiah berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah, eksekusi kebijaksanaan tersebut, dan kepada pemerintahan.

MASYARAKAT serta dunia usaha diajak agar memberikan dukungan kepada program reformasi ekonomi yang telah dan akan diambil oleh pemerintah. Peranan pemerintah tetap besar dan menentukan.

Karena itu, perlu diperkukuh kewibawaan pemerintah. Kesan seakan-akan lingkungan pemerintah an tidaklah kompak agar diperbaiki. Impresi itu cukup kuat bahkan disertai berbagai ilustrasi dan contoh.

Ketidakkompakan diberi kesan terjadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lain, antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lain, antara menteri yang satu dengan menteri yang lain.

Koordinasi serta kepemimpinan dibuat lebih berwibawa, secara strategis hadir dan efektif, justru karena kita dihadapkan pada situasi krisis yang dampaknya telah merebak ke luar dari sekadar lingkungan moneter dan ekonomi.

KEPADA Mennaker Abdul Latief, Presiden Soeharto berpesan agar pada perusahaan bermasalah, Tunjangan Hari Raya bagi karyawan menengah dan bawah tetap diberikan. Jika akan dikurangi, agar lebih dikenakan pada pimpinan.

Arah dan semangat itu tepat. Sepanjang kita dapat memantau apa yang hidup di kalangan masyarakat, masyarakat bisnis, para pengendali dana keuangan serta lembaga-lembaga keuangan internasional, arah dan semangat itu juga diharapkan serta dihargai.

Bahwa kebijakan dan tindakan-tindakan reformasi ekonomi diambil dan dilaksanakan secara konsisten serta tanpa pandang bulu. Bahkan untuk memulihkan serta memperkukuh kepercayaan masyarakat, diperlukan simbol-simbol tindakan yang menghapuskan kesan diskriminatif apa pun.

Seperti ditunjukkan oleh pengalaman Thailand dan Korea Selatan, reformasi ekonomi lebih efektif jika disertai tindakan-tindakan koreksi yang diperlukan.

KITA garis bawahi pernyataan Presiden bahwa

“Yang diperlukan dari seluruh bangsa ini adalah kearifan dan kesadaran bahwa bangsa ini dapat menarik manfaat dari setiap kondisi yang dialaminya.”

Tantangan besar kita dan bangsa-bangsa lain adalah bagaimana mengendalikan pembangunan ekonomi lewat jalan ekonomi pasar yang pada dasarnya mengacu kepada paham kapitalisme.

Pergulatan itu bukan urusan kita sekarang. Pergulatan itu dimulai sejak paham itu dilaksanakan. Hasilnya menggemparkan. Namun ilmuwan maupun pemimpin masyarakat dan negarawan, serentak juga dihadapkan pada tantangan bagaimana tetap menghadirkan dan mengunggulkan kemanusiaan serta keadilan sosial, bagaimana membuat orang tidak hanyut oleh arus materialisme yang ikut dibawanya.

Berbagai upaya muncul, dari paham, aliran dan doktrin sosial ekonomi sampai ke paham dan sistem politik yang mampu mengendalikan terjadinya kolusi kekuasaan politik dan ekonomi. Mencuat misalnya muncul dan dikembangkannya asketisme sosial yang bervariasi menurut kondisi dan budaya masing-masing bangsa.

PADA tahap yang mendesak, yang kita perlukan adalah reformasi ekonomi dan koreksi. Untuk itu sesuai dengan beratnya keadaan, diperlukan kebijakan dan tindakan yang jelas dan tegas, sehingga efektif serta mengembalikan kepercayaan.

Mau tidak mau kita juga akan mengambil pelajaran secara lebih komprehensif Kita pasti harus mendalami benar, kondisi atau lingkungan global baru, di mana kita berada dan di mana kehidupan ekonomi kita menjadi bagian yang sangat dipengaruhi oleh interaksi global itu.

Kita belajar tentang keharusan tumbuh cepat, tetapi juga keharusan tumbuh secara solid, yang berarti tumbuh dengan akar-akar serta lingkungan yang kuat.

Untuk masyarakat bangsa yang majemuk seperti bangsa Indonesia, pembangunan ekonomi harus menjadi pembangunan bangsa, nation building, juga character building.

Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperoleh

“Kearifan dan kesadaran bahwa bangsa ini dapat menarik manfaat dari setiap kondisi yang dialaminya.”

Sumber: KOMPAS (02/01/1998)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 01-03.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.