TAHLILAN SETAHUN WAFATNYA IBU TIEN

TAHLILAN SETAHUN WAFATNYA IBU TIEN[1]

 

Solo, Suara Pembaruan

Peringatan setahun wafatnya Ibu Tien Soeharto atau dalam istilah Jawa disebut pendhak pisan, diselenggarakan tahlilan di Ndalem Kalitan Solo, Selasa, 15/4 malam ini. Tahlilan melibatkan sekitar 1.000 santri serta warga Solo dan sekitarnya, untuk memanjatkan doa kepada almarhumah Ibu Tien.

Penyelenggaraan acara peringatan setahun wafatnya Ibu Tien ini dilaksanakan lebih sederhana, dibandingkan dengan peringatan 7 hari, 40 hari dan 100 hari. Panitia menyebarkan undangan terbatas, tidak seperti peringatan sebelumnya, kata Drs. Hardartono, hari Senin (14/4).

Dikatakan, penyelenggaraan kali ini dilakukan lebih sederhana, sesuai dengan permintaan pihak keluarga Presiden Soeharto. Selain itu karena acara ini hanya semacam peringatan biasa, sehingga dapat dilaksanakan sesederhana mungkin.

Untuk tahlilan di Ndalem Kalitan, menurut Hardartono, didukung oleh para santri dari Kodya Surakarta dengan dikoordinir oleh Kantor Departemen Agama Kodya Solo. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memperoleh undangan dan ingin memanjatkan doa-doa kepada almarhumah, diharapkan oleh panitia agar menyelenggarakannya di tempat-tempat peribadatan seperti musholla dan masjid.

“Yang terpenting dalam pemanjatan doa ini, keikhlasan dan ketulusan dari masyarakat.” kata Hardartono yang juga Kabag Humas Pemda Kodya Solo.

Giribangun

Dalam kaitan peringatan tersebut, lingkungan Astana Giribangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar, dibenahi, khususnya dalam menyambut kedatangan para peziarah, baik dari pihak keluarga ataupun pejabat lainnya. Astana tersebut ditutup untuk umum pada tanggal 15 – 16 April, guna memberi kesempatan bagi pihak keluarga berziarah. Direncanakan Presiden Soeharto beserta keluarga akan berziarah hari Rabu (16/4).

Sejak sepekan lalu, lokasi di sekitar Astana Giribangun telah ditata sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kesemrawutan. Khususnya pembenahan pada kios-kios pedagang di sekitar lokasi Astana yang merupakan pelengkap Giribangun sebagai objek wisata ziarah.

Tentang penutupan Astana Giribangun untuk umum, menurut Wakil Rumah Tangga Ndalem Kalitan, KRMH Sriyanto dilakukan oleh panitia untuk menghindarkan kemacetan arus lalu lintas ke lokasi tersebut. Pada hari-hari biasa, Astana Giribangun padat oleh peziarah dari berbagai kota.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (15/04/1997)

_____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 680-681.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.