TADJUK RENTJANA : KETAHANAN NASIONAL

TADJUK RENTJANA : KETAHANAN NASIONAL [1]

 

Jakarta, Berita Yudha

Pembangunan pertahanan nasional bukanlah hanja soal membangun suatu pertahanan dan keamanan sadja. Demikian diantara lain dinjatakan oleh Panglima Angkatan Darat Djendral Panggabean didalam tjeramah-tejeramahnja pada waktu melakukan inspeksi komando baru2 ini di Atjeh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau Daratan.

Landasan bagi pembangunan alat dan kemampuan pertahanan dan keamanan itu adalah ketahanan keamanan nasional. Ketahanan keamanan nasional jang meliputi segala bidang kesedjahteraan kehidupan rakjat ini adalah sumber fasilitas bagi pembangunan dan pemeliharaan mental dan fisik pradjurit, tjalon pradjurit, tjadangan pradjurit dan pembantu pradjurit bagi pembangunan alat dan kemampuan pertahanan dan keamanan nasional.

Keadaan ekonomi nasional membatasi dan menentukan kemampuan dukungan logistik bagi tugas pertahanan dan keamanan serta membatasi dan menentukan pula fasilitas untuk membangun dan memelihara alat2 serta kemampuan pertahanan dan keamanan itu sendiri.

Kuat atau lemahnja alat dan kemampuan pertahanan dan keamanan nasional bukan terletak pada alat pertahanan dan keamanan itu sendiri sadja, tetapi tergantung pula kepada kondisi negara dan rakjat jang membangun dan jang memeliharanja.

Maka untuk dapat membangun suatu alat pertahanan dan keamanan jang kuat dalam arti mental dan fisik-teknis, adalah sjarat mutlak untuk membuat negara dan rakjat mampu dan kuat didalam arti mental, ideologi, politik, sosial, ekonomi dan hidup kebudajaannja. Rakjat itulah jang membangun alat pertahanan dan keamanan dan rakjat itu pulalah jang mendjadi sumber tenaga pembantu dan pendukung alat dan kemampuan pertahanan dan keamanan itu.

Tugas pertahanan dan keamanan adalah menjangkut kalah atau menang dalam melaksanakan tugas. Bahkan lebih dari pada itu, tugas itu menjangkut hidup atau mati bagi petugas2 pertahanan dan keamanan itu sendiri, malahan lebih lagi dari hidup atau mati petugas sadja, tetapi menjangkut hidup atau mati sebagai bangsa jang merdeka dan berdaulat.

Djelaslah bahwa bagi setiap orang jang mempunjai tanggung-djawab atas pertahanan dan keamanan, soal pembangunan ketahanan dan keamanan nasional itu adalah merupakan sjarat mutlak. Sjarat mutlak untuk membangun suatu Negara jang aman dan sedjahtera, agar rakjat tjinta akan kemerdekaan dan kedaulatan dari negara jang telah memberi kesedjahteraan dan kebahagiaan kepada hidupnja itu.

 Dari rakjat jang menikmati kesedjahtraan kemerdekaan jang demikianlah dapat diharapkan kesediaan untuk mempertahanan negara itu dengan segala daja kemampuannja. Entah sampai dimana kebenarannja, tetapi orang berkata, bahwa tentara Djerman misalnja tidak pernah kalah di medan pertempuran. Kalahnja tentara Djerman adalah karena ketahanan digaris belakangnja, jaitu ketahanan dari rakjatnja mendjadi ambruk karena kekuatan dari luar dan oleh pertentangan didalam sendiri.

Membangun daja kemampuan pertahanan itu tidak karena aspirasi perang, tetapi djusteru karena aspirasi damai sebab kesiapan kekuatan perang sendiri bisa mematahkan aspirasi dan napsu perang dari sesuatu agresor.

Aspirasi dan napsu perang agresor ini tidak bisa dipatahkan hanja dengan membangun kemampuan pertahanan jang teknis modern sadja, tetapi jang lebih menentukan didalam mematahkan aspirasi agresor ini adalah ketahanan keamanan nasional jang mendukung dan jang membina alat dan kemampuan pertahanan nasional itu, sebetulnja inipun sudah sama2 kita ketahui semua.

Maka setiap pradjurit jang sadar akan tugasnja, sadar akan dukungan moril dan dukungan logistic jang diperlukannja untuk dapat melaksanakan tugasnja dengan sukses, pastilah akan merasa wadjib dan mutlak pula untuk ikut serta membangun ketahanan keamanan nasional jang meliputi segala bidang pembangunan untuk kesedjahteraan dan kebahagiaan hidup rakjatnja.

Setiap pradjurit jang menjadari tugasnja, jang menjadari sumber dari dukungan moril dan dukungan logistik jang diperlukannja untuk pelaksanaan tugasnja, mempunjai kepentingan didalam pembangunan ketahanan mental-Ideologis, ketahanan sosial-plitik dan social ­ekonomis dari rakjatnja.

Dengan demikian setiap pradjurit jang menjadari tugasnja, pasti merasa berkewadjiban pula untuk mengamankan dan mengamalkan pembangunan bagi ketahanan itu. Sebab setiap pradjurit jang menjadari djalin ­berdjalinnja tugasnja sebagai pradjurit dengan kondisi ketahanan nasional, akan menjadari pula, bahwa kekatjauan dan kelemahan ketahanan rakjat akan berarti pula lemahnja dukungan moril dan lemahnja dukungan logistik bagi pelaksanaan tugasnja jang amat berat mempertahanan negara dan menegakkan keamanan.

Kalau kita berhasil saling membina pengertian ini, mungkin lebih mudah lagi menegakkan ketertiban dan kerdjasama didalam pembangunan ketahanan jang meliputi segala bidang kegiatan dan kehidupan nasional itu tanpa mentjurigai sesama partner pembangunan sebagai saingan atau rival. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (08/08/1968)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 154-156.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.