Tadjuk Rentjana: KABINET PEMBANGUNAN

Tadjuk Rentjana: KABINET PEMBANGUNAN [1]

 

Djakarta, Berita yudha

Kabinet Pembangunan jang sudah lama ditunggu-tunggu, tadi malam telah diumumkan susunan dan personalianja oleh Presiden Soeharto.

Di dalam menilai dan meletakkan harapan kepada Kabinet ini di samping memperhatikan susunan dan personalianja, menurut pendapat kami tidak kurang pentingnja pendjelasan jang diberikan Presiden tentang djalan pikiran didalam menetapkan susunan dan personalia dari Kabinet itu.

Pertama dikemukakan oleh Presiden mengenai susunannja, bahwa segi2 efisiensi dan efektivitas dari organisasinja, karena Kabinet itu harnslah di dalam menghadapi dan melaksanakan Tugas Pokok jang diberikan oleh MPRS dapat merupakan suatu team, suatu kesatuan, jang berarti bahwa tiap Departemen harus dapat saling sandar­-menjandar, harus saling support di dalam mensukseskan tugas Departemen masing2 di dalam menjelesaikan bahagian dari Tugas Pokok jang telah ditetapkan oleh MPRS itu.

Bukan masing2 Departemen harus berlomba untuk mensukseskan Departemen masing2 tetapi masing2 Departemen harus dapat bekerdja-sama untuk mensukseskan pelaksanaan Tugas Pokok sebagai keseluruhan.

Tentu sadja hal kerdjasama sebagai satu team ini djuga penting di dalam memilih personalianja diantara mereka jang memenuhi sjarat2 MPRS dan sama2 mempunjai keahlian.

Sebab jang harus sukses bukan Departemen setjara terpisah antara satu dengan jang lain jang harus sukses djuga bukan Menterinja, tetapi Kabinet setjara keseluruhan melaksanakan Tugas Pokok jang diberikan MPRS.

Di dalam hubungan mentjapai efektivitas dan efisiensi organisasi Kabinet sebagai satu kesatuan itulah, Presiden rupanja memilih personalia menurut sjarat2 jang djuga ditentukan oleh MPRS, sehingga djika dilihat dari representasinja, personalia Kabinet itu terdiri 8 orang dari parpol, 6 orang dari ABRI dan 9 orang non-partai dan non­ ABRI, sedangkan kalau dilihat dari segi ilmiah dan spirituilnja, di dalamnja terdapat 11 sardjana, 5 Alim Ulama dan diantaranja 2 pula sardjana, dan 7 Perwira Tinggi ABRI.

Kami tidak akan mentjoba membitjarakan keahlian dan kemampuan pribadi dari masing2 Menteri untuk Departemennja masing2 karena sebagaimana sering kami kemukakan di mimbar ini, selain pendapat kita di dalam hal ini akan selalu bersifat subjektif.

Kemampuan Menteri demi Menteri itu tidak bisa dilepaskan dari pada kerdja-sama atau team-work dari Kabinet itu sebagai satu kebulatan, terutama mengingat kondisi masjarakat jang harus dibawakannja supaja ikut memberikan support di lapangan di dalam pelaksanaan program-kerdja dari masing2 Departemen.

Apalah jang bisa dikerdjakan oleh 23 orang dibandingkan dengan 110 djuta, kalau dia setjara bersama tidak berhasil membangkitkan spontanitas dlm aktivitas dari masjarakat sendiri.

Kami tidak melihat Kabinet Pembangunan ini hanja dari 15 muka lama dan 8 muka baru, kami tidak apriori menilai Kabinet Pembangunan ini dari golongan jang diwakilinja, bahkan kami djuga tidak apriori menilai kemampuan Kabinet itu dari djumlah sardjana dan tenaga ahli jang ada didalamnja.

Karena jang terpenting untuk menentukan suksesnja nanti adalah kerdjasama dan wibawa jang dapat ditegakkannja untuk membangkitkan kepertjajaan dan spontanitas didalam Departemennja masing2 chususnja, didalam masjarakat umumnja, sehingga baik kedalam masing2 Departemen ataupun keluar dapat dibina kemampuan fisik, teknis dan mental untuk melaksanakan Tugas Pokok jang telah digariskan oleh MPRS.

Kabinet Pembangunan ini sebagai pemimpin pembangunan harus dapat terlebih dahulu menegakkan koordinasi sebagai pembawa, supaja djangan terbawa oleh simpang-siur arus di dalam masjarakat jang djusteru harus dibawakannja kepada satu kegiatan dan satu arah pembangunan.

Tanpa mengurangi pentingnja peranan dari Departemen lain di dalam menegakkan wibawa sebagai pembawa itu, tetapi jang langsung menjangkut aspek2 spirituilnja, kerdja-sama jang erat dan rapih antara Departemen2 Tenaga Kerdja, Penerangan, Agama, Pendidikan, dan Kebudajaan bersama dengan Menteri Negara untuk penjempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara akan besar artinja di dalam membina wibawa yang kami maksudkan itu kedalam ataupun keluar.

Dengan menjadari bagaimana berat dan kompleksnja masalah jang dihadapi oleh Kabinet Pembangunan ini, kami memberi kesempatan bekerdja dan mengutjapkan selamat bekerdja.

Kami selalu memberi support dan kontrol kepada sesuatu Kabinet bukan berdasarkan personaliannja, tetapi berdasarkan integritas pribadi dan prestasinja didalam menanggulangi Tugas Pokoknja terhadap Negara Rakjat dan Agama. (DTS)

Sumber: BERITA YUDHA (07/06/1968)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku II (1968-1971), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 50-52.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.