TABUNGAN BUKAN UNTUK BAYAR UTANG, TETAPI MEMERANGI KEMISKINAN

TABUNGAN BUKAN UNTUK BAYAR UTANG, TETAPI MEMERANGI KEMISKINAN

  [1]

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan, tabungan masyarakat tidak akan digunakan untuk membayar utang pemerintah, tapi betul-betul untuk membiayai pembangunan, guna memerangi kemiskinan keterbelakangan dan kebodohan.

“Utang pemerintah bisa dibayar oleh utang itu sendiri, karena pinjaman itu bukan untuk dimakan lantas menjadi tahi.Tapi utang itu digunakan untuk membiayai proyek­ proyek hingga berhasil,” kata Kepala Negara dalam temu wicara dengan 54 anak dari 27 provinsi di Indonesia yang menjadi penabung teladan di Jakarta, Sabtu (2/9) siang.

Dikatakan, anak-anak harus waspada, karena ada yang mengatakan buat apa menabung, nanti hanya digunakan untuk membayar utang saja. Utangnya sudah banyak, yang menjadi utang generasi sekarang,atau yang akan datang. Itu tidak benar. Menabung adalah untuk menghimpun modal. Soal membayar utang, dari basil pinjaman itu bisa membayar sendiri.”Tidak perlu takut kalau ada yang mengatakan anak-anak nanti di apusi (dibohongi-Red) oleh pemerintah. Diapusi oleh pak guru, bu guru supaya menabung, akhirnya untuk bayar pinjaman yang sudah 100 miliar dolar jumahnya,” ujar Kepala Negara

“Tidak- tidak perlu takut,” kata Kepala Negara lagi sambil menambahkan, menabung untuk menyusun modal guna pembangunan soal pinjaman, sudah bisa bayar sendiri. “Pernah saya katakan dari mana bayamya. Kok bisa bayar 100 miliar dolar, bagaimana bayarnya sudah saya jelaskan, bahwa semua pinjaman ini kita gunakan bukan untuk dimakan, lantas menjadi tahi,tapi kita gunakan untuk membiayai proyek­ proyek itu sampai berhasil Proyek iniuntuk mencicil utang kita, juga proyek ini masih ada nilainya”

Di mana-mana sekarang ada pabrik pupuk, pabrik semen, baja, telekomunikasi, pesawat terbang. Semuanya dibiayai dari pinjaman. Sekarang ada 180 perusahaan negara. Semua pabrik-pabrik itu ada nilainya. Berapa jumlahnya, Rp 359 triliun. Kalau dijadikan dolar/kurang lebih 129 miliar dolar AS. Kalau tidak mau utang, ini dijual saja. Utang 100 miliar, berarti masih lebih. Jadi jangan takut kalau dikatakan anak-anak yang manis membayar utang kita. Sekarang pun juga, kalau tidak ada pinjaman dari luar negeri, ini bisa digunakan sebagai sumber pembiayaan. Sebagian kita jual sahanmya. Sepertiga saja kita jual sahanmya di bursa luar negeri, jumlahnya 60 miliar. Padahal tiap-tiap tahun kita butuh pinjaman 5 miliar dolar. Jumlah tersebut dibagi 5 adalah 12. Berarti kita bisa selama 12 tahun mempunyai sumber untuk membiayai, kalau tidak ada pinjaman dari luar negeri.

“Jadi tabungan tidak digunakan untuk membayar utang, tapi untuk membangun. Mengapa kita membangun, karena masih ada yang miskin. Kita sudah berusaha, tapi masih ada yang belum  , karena masih tinggal 26 juta rakyat kita yang miskin. Jadi kita masih membutuhkan modal untuk membangun, menolong yang miskin,”kata Presiden.

Berbudi Luhur

Dalam temu wicara itu, Presiden Soeharto juga berdialog dengan penabung teladan tersebut. Dari berbagai daerah yang dipanggil. Kepala Negara ditanya cara mereka menabung, jumiah tabungan, di sekolah ranking (peringkat) berapa serta cita­ citanya. Umumnya, mereka menabung dari menyisihkan uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya. Ada yang menabung sejak SD kelas I, hingga tabungannya bisa mencapai Rp 3juta dari penyisihan uang jajan Rp 300 per hari ditabung dari Rp 500 yang diterima dari orang tuanya. Presiden mengingatkan bahwa untuk mencapai cita-cita, selain otak dan keterampilan, yang penting juga adalah watak dan budi luhur.

Sumber : MEDIA INDONESIA (03/09/1995)

_______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 379-380.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.