SWISS AKAN LEBIH MENINGKATKAN JUMLAH INVESTASINYA DI INDONESIA

SWISS AKAN LEBIH MENINGKATKAN JUMLAH INVESTASINYA DI INDONESIA

Presiden Terima Kunjungan Wapres Swiss

Menko Polkam Jelaskan Situasi Di Asteng

Presiden Soeharto, di Istana Merdeka, Rabu pagi kemarin, menerima kunjungan Wakil Presiden Swiss, Dr. Kurt Furgler. Dengan Presiden, Wakil Presiden Swiss itu mengadakan pembicaraan selama kurang lebih satu jam.

Kepada wartawan yang menemuinya sehabis pertemuan, Wakil Presiden Dr. Kurt Furgler mengatakan, sangat terkesan dengan penjelasan Presiden Soeharto tentang falsafah dan usaha-usaha pembangunart ekonomi di Indonesia.

Demikian pula tentang kerjasama ASEAN dan usaha-usaha menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan ini.

"Kita memang sedang menuju jalan yang sama," kata Dr. Kurt Furgler mengomentari penjelasan Presiden Soeharto.

Wakil Presiden Swiss itu mengatakan, negaranya ingin melakukan investasi yang lebih banyak lagi di Indonesia. Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Indonesia dikomentarinya sebagai suatu kesempatan untuk melaksanakan pertumbuhan ekonomi.

Sesuai dengan hasil pembicaraannya dengan Presiden, ia mengatakan, Indonesia dan Swiss bisa bekerjasama dalam berbagai proyek. Dalam hubungan ini, ia juga mengatakan, kerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, sebenarnya adalah teramat penting .untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian, baik bagi ASEAN, Eropa, dan dunia secara keseluruhan.

Hubungan Dagang

Ditanya komentarnya tentang hubungan dagang antara Indonesia dengan Swiss, Wakil Presiden Dr. Kurt Furgler mengatakan, "sampai sekarang hasilnya cukup baik. Tetapi hal initentu masih bisa lebih ditingkatkan,” katanya.

Untuk meningkatkan hubungan dagang Indonesia-Swiss, menurutnya, masyarakat Swiss dapat melakukan industri manufaktur di Indonesia dengan cara patungan.

"Kami sudah mengetahui di Swiss sekarang ini, bahwa di Indonesia kami diterima dan dipersilahkan datang," katanya.

Melancarkan investasi swasta Swiss di Indonesia, ia mengatakan kontak-kontak pribadi diperlukan, untuk mengetahui secara jelas mengenai peraturan-peraturan dan cara-cara penanaman modal di Indonesia.

Tentang pinjaman yang telah diberikan oleh Pemerintah Swiss kepada Indonesia, ia menyebut sekitar Swiss F.60 juta, namun tidak diperjelas perincian lebih lanjut mengenai pinjaman itu dari tahun ke tahun.

Dikemukakan, dalamkerja sama ekonomi, peranan swastalah yang sangat penting dan hasilnya akan lebih besar.

Sebelumnya kepada wartawan, ia mengatakan, Pemerintah Swiss menginginkan kunjungan Presiden Soeharto ke Swiss untuk mempererat kerjasama kedua negara.

Dalam catatan laporan bulanan Bank Indonesia, modal Swiss yang telah disetujui Pemerintah untuk ditanam di Indonesia sejak tahun 1967 s/d Juni 1979 sudah berjumlah US.$. 56,716 juta.

Modal dari Swiss tersebut antara lain ditanam di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan sebanyak US.$. 12,98 juta, dan di bidang industry manufaktur sebanyak US.$. 42,791 juta.

Kunjungi Menko Polkam

Sementara itu, Menko Polkam Jenderal M. Panggabean juga menerima kunjungan kehormatan Wakil Presiden Swiss, Dr. Kurt Fuigler bertempat di ruang kerjanya, di Jalan Merdeka Barat, kemarin.

Dalam kunjungan tersebut Wakil Presiden Swiss disertai oleh Duta Besar Swiss di Jakarta Roland Wermitth dan sebanyak 5 orang pejabat2 tinggi Pemerintahan Swiss.

Menko Polkam menyatakan, ia merasa mendapat kehormatan dikunjungi oleh Wakil Presiden Swiss dan menggunakan kesempatan tsb untuk menyatakan rasa terima kasih Pemerintah RI atas semua bantuan2 yang telah diberikan oleh negara Swiss kepada Indonesia dalam rangka pembangunan di bidang ekonomi Indonesia.

Wakil Presiden Swiss pun menyatakan rasa terima kasih Pemerintah Swiss atas kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah RI untuk bergerak di bidang ekonomi dalam rangka pembangunan Indonesia, dan yakin bahwa hubungan baik yang telah terjalin antara RI dan Swiss dapat ditingkatkan untuk kepentingan kedua belah pihak di masa depan.

Wapres Dr. Kurt Furgle menyatakan bahwa di bidang produksi, khususnya "manufacturing” dapat dikembangkan usaha bersama antara RI dan Swiss.

Bidang Teknologi

Menko Polkam M. Panggabean menyatakan, ia sependapat untuk meningkatkan hubungan baik antara RI dan Swiss. Bagi negara berkembang yang berorientasi agraris seperti Indonesia, sangat diperlukan bantuan2 di bidang teknologi, terutama yang langsung berkaitan dengan usaha Pemerintah RI untuk meningkatkan produksi ke bidang pertanian, misalnya di bidang pangan, dan lain-lain.

Tidaklah beralasan, kata Menko Polkam, mengapa RI masih terus menerus mengimpor beras dalam jumlah yang begitu banyak, jika teknologi pertanian dan aspek2 yang bertalian dengan itu dapat diterapkan secara tepat.

Dalam hal ini, Indonesia masih memerlukan bantuan dari negara2 yang teknologi pertaniannya maju, kata Jenderal Panggabean.

Menko Polkam juga menjelaskan perkembangan politik dan keamanan di wilayah ASEAN/Asia Tenggara, atas permintaan dari Wakil Presiden Swiss tersebut, diterangkan olehnya bahwa masalah2 Polkam yang dihadapi oleh ncgara2 ASEAN tidaklah sederhana, mengingat adanya ancaman2 dari golongan ekstrim kiri dan ekstrimkanan di setiap negara ASEAN.

Namun dengan Ketahanan Nasional masing2 negara ASEAN yang merupakan Ketahanan Regional, dan kerjasama yang baik dalam berbagai bidang antara negara2 ASEAN, maka kestabilan di wilayah ASEAN tetap dapat dipelihara.

Wapres Swiss menyatakan kekagumannya terhadap kerjasama yang baik melalui wadah ASEAN, dan mengharapkan hubungan yang semakin meningkat antara ASEAN dengan negara2 Eropa.

Menko Polkam kemudian memberikan kenang2an lambang Pancasila kepada Wapres Swiss, yang juga menyampaikan sebuah kenang2an produk Swiss kepada Menko Polkam.

Dalam pertemuan tsb Menko Polkam didampingi oleh Duta Besar RI di Swis Suryono Darusman, Aspollugri Z.A. Samil dan Staf Ahli Bidang Politik dan Keamanan merangkap Sekretaris Pribadi, Dr. Janner Sinaga. (DTS).-

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (10/04/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 562-564.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.