SURAT GADIS TUNARUNGU ITU MENDAPAT PERHATIAN PAK HARTO

SURAT GADIS TUNARUNGU ITU MENDAPAT PERHATIAN PAK HARTO

 

Pipin Minta Foto dan Sepeda Mini

“4×4 = 16, Sempat tidak sempat harus dibalas”, begitulah caranya seorang anak SD meminta Presiden Soeharto membalas suratnya yang dikirim dari Tanjung Karang, Lampung, 16 Januari 1984. Memang surat itu dibalas Pak Harto, tentu bukan karena kata-kata “harus dibalas”.

Di tengah segala kesibukannya sebagai Kepala Negara, Pak Harto memang masih meluangkan waktu untuk membaca dan membalas surat-surat yang dialamatkan kepadanya secara pribadi dari anak-anak, pelajar, guru, orang awam, petani bahkan juga orang-orang asing.

Tri Oktaviani Damayanti atau biasa dipanggil Pipin, dalam suratnya yang ditulis tangan di kertas bergaris, meminta foto Pak Harto sekeluarga yang diberi bingkai.

Foto itu menurut Pipin, hendak diletakkannya di ruangan rumahnya. Gadis kecil pelajar Kelas V SD Inpres 36 Tanjung Karang itu juga menanyakan dalam suratnya, bagaimana sampai Pak Harto bisa meraih jabatan Presiden.

Dengan gaya bergurau dia juga meminta satu sepeda mini” …e…e tunggu dulu Pipin ingin minta satu lagi yaitu Pipin ingin minta satu sepeda mini, boleh kan ?” demikianlah bunyi kalimat menjelang bagian akhir surat Pipin.

Tak lama setelah mengirim surat itu, sebuah foto Pak Harto dan lbu Tien serta sebuah sepeda mini tiba di alamat Pipin. Rupanya rasa kebapakan Pak Harto membuat surat Pipin mendapat perhatian bahkan permintaannya dikabulkan.

Anehnya, kemudian sebuah surat kabar Ibu kota yang menulis kisah ini mengungkapkan bahwa Pipin sama sekali tidak meminta sepeda mini dalam suratnya.

Pengakuan itu diungkapkan ayah Pipin kepada wartawan. Rupanya Pipin tidak berterus terang pada ayahnya. Tampaknya keluarga itu kaget juga setelah menerima jawaban surat Pipin berikut foto dan sepeda mini.

Mungkin sekali Pipin kemudian ditegor ayahnya karena dia dianggap lancang menulis surat dan minta sesuatu pada Presiden. Kemudian karena takut dimarahi sang ayah, Pipin, berbohong, tidak mengakui isi suratnya sendiri.

“Kami gembira sekaligus takut,” kata ayah Pipin ketika ditemui wartawan.

Surat-surat dari anak-anak dan remaja yang ditujukan kepada Pak Harto isinya macam-macam.

Seorang pelajar lain dari SD Yayasan Beribu, Jalan Buahbatu, Bandung, mengirim surat kepada Pak Harto menyatakan ingin berkenalan dengan Pak Harto serta Bapak-Bapak Menteri.

Eko Wardhana juga mengirimkan sajak yang digubah bersama temannya Arief Permadhi, berjudul “Surya” yang telah dibacakannya di depan Pak Harto pada tanggal 27 April yang lalu. Membalas suratnya itu, Pak Harto meminta supaya dia dan kawannya membuat sajak tentang pembangunan.

Seorang gadis dari Sekolah Luar Biasa Santi Rama I, Jalan RS Fatmawati, Jakarta, dalam suratnya kepada Kepala Negara menceriterakan awal mulanya dia menjadi tuna rungu.

Ferrawaty Azhar yang berusia 18 tahun ingin bertemu dengan Pak Harto di kantor atau kediaman tetapi takut dan gemetar tidak berani masuk karena pengawal yang menjaga seolah-olah bisa marah, galak. Begitu tulisnya dalam suratnya yang mendapat perhatian Pak Harto dan kini kesempatan bertemu Pak Harto itu sedang disiapkan sesuai jadwal kegiatan kepresidenan.

Dalam menulis surat, anak-anak itu mempunyai cara yang khas. Ada yang menyertakan foto dirinya dan menyebut bintang kelahirannya. Ada yang menulis di buku tulis bergaris tetapi ada juga yang merasa perlu menulis suratnya kepada Presiden di atas kertas berhias lukisan bunga-bunga.

Cara menyapa Presiden di awal surat pun bermacam-macam. Ada yang memulainya dengan “Yang Mulia Bapak Presiden Soeharto/lbu” tetapi ada yang membuka kalimat suratnya dengan “Pak Harto, Sayang”.

Selain surat-surat yang sekedar berkenalan atau meminta foto Pak Harto atau menyampaikan hasrat ingin bertemu, ada pula surat dari remaja yang lebih berupa keluhan warga negara.

Seorang pelajar SMA Negeri I Klaten, Tri Wulandari dalam suratnya kepada Pak Harto mengeluhkan lambatnya listrik masuk desa didaerahnya. Menurut yang didengarnya, listrik baru masuk desanya tiga tahun mendatang, padahal katanya dalam, menunggu selama tiga tahun seperti menunggu orang yang sudah mati saja.

Demikianlah beberapa di antara surat-surat dari anak-anak dan remaja yang ditujukan kepada Pak Harto dan memang mendapat perhatian beliau walaupun setiap hari sibuk dengan aneka tugas kepresidenan.

Surat-surat yang ditujukan kepada Presiden Soeharto biasanya diseleksi oleh Sekretariat Negara kemudian disampaikan kepada beliau melalui Ajudan Presiden.

Jawaban terhadap surat-surat itu diberikan melalui Asisten Menteri Sekretaris Negma Urusan Dokumentasi dan Media Massa.

Karena kesibukan Presiden, tidak semua surat-surat itu dapat diperhatikan dan dijawab secepatnya, namun menurut pihak yang menangani urusan surat-surat itu, pada waktunya jawaban Presiden akan dikirimkan. (RA)

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (16/06/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 953-955.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.