SUMBANGAN PEGEL TERHADAP EKSPOR HARUS DITINGKATKAN SAMPAI 20 PERSEN

SUMBANGAN PEGEL TERHADAP EKSPOR HARUS DITINGKATKAN SAMPAI 20 PERSEN[1]

 

Jakarta, Antara

Menkop Subianto Tjakrawerdaya dan Ketua Inkopkar Agus Sudono menilai sumbangan pengusaha kecil (pegel) terhadap ekspor hasil industri harus ditingkatkan sampai 20 persen.

Pemerintah menargetkan sumbangan pegel ini bisa mencapai minimal 10 persen pada Repelita mendatang, kata Menkop kepada ANTARA seusai Pidato Presiden pada pembukaan rapat paripurna terbuka masa sidang 1996/97 di Jakarta, Jumat.

Sementara itu, Ketua Inkopkar Agus Sudono menegaskan semestinya sumbangan pegel terhadap ekspor hasil industri bisa ditingkatkan sampai 20 persen mengingat jumlahnya yang demikian besar.

Dalam sambutannya pada rapat paripurna tersebut, Presiden Soeharto mengatakan nilai ekspor industri kecil tahun lalu mencapai 2,1 miliar dolar AS. Jumlah ini merupakan 7,2 persen dari keseluruhan ekspor hasil industri non-migas.

Guna meningkatkan kemampuan pegel bertarung di pasar internasional, menurut Menkop, efisiensi industri mereka perlu ditingkatkan melalui alib teknologi dan perbaikan manajemen.

Yang tidak kalab pentingnya, menurut Subiakto, jiwa kewirausahaan perlu dikembangkan dalam masyarakat Indonesia karena mental dan budaya masyarakat masih dilingkupi tradisi konsumtif Ia juga menilai masih banyak masyarakat Indonesia yang boros, senang berfoya-­foya dan berjudi terhadap pendapatannya.

Subiakto juga berharap pemberian insentif berupa pembebasan pajak (tax Holiday) juga bisa dimanfaatkan oleh koperasi dan pengusaha kecil.

“Kita juga mengharapkan agar pengusaha besar yang mendapat fasilitas tersebut dapat meningkatkan program kemitraannya dengan pengusaha kecil dan koperasi.” kata Subiakto.

Menurut Agus Sudono sumbangan pegel terhadap ekspor hasil industri idealnya mencapai 20 persen.

Dengan demikian, jumlah kredit yang nantinya mereka terima juga akan meningkat sebanyak 20 persen dari total pinjaman yang dikeluarkan perbankan dalam negeri.

Diingatkannya bahwa industri merupakan wahana yang paling efektif dalam melaksanakan pemerataan karena kemampuan mereka dalam menyerap tenaga kerja yang cukup besar.

Agus menegaskan pemerataan basil pembangunan tersebut nantinya juga berdampak pada terjaganya kestabilan politik karena pembangunan pada akhirnya bermuara pada peningkatan ekonomi masyarakat banyak.

Cukup Manajemen Sehat

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mengatakan bahwa pegel masih menghadapi banyak kendala dalam memperoleh kredit karena bank selalu meminta jaminan dalam bentuk fisik.

Padahal, menurut dia, perbankan dalam negeri juga dapat menyalurkan kreditnya kepada pegel dengan jaminan manajemen industri kecil itu sehat dan bukannya jaminan dalam bentuk fisik seperti tanah dan bangunan.

Pemerintah juga dapat memacu kegiatan pegel seandainya 25 persen dari utang 160 pengusaha besar sebanyak Rp 4,2 triliun yang dibapuskan (write-off) bisa disalurkan ke tangan pengusaha kecil dan koperasi.

Guna memperkuat kemampuan pegel dalam bersaing di pasar internasional, Agus mengatakan, peningkatan SDM melalui pelatihan dan pendidikan hendaknya dititik beratkan pada penciptaan wirausaha swasta menengah dan kecil.

Dengan demikian, alih teknologi dan manajemen yang baik bisa dipercepat dari pada yang terjadi sekarang ini.

Jika hanya kemampuan teknis saja yang ditingkatkan, tegasnya, hal itu belum

Menjamin terciptanya lapangan kerja yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja yang semakin meningkat jumlahnya.

Sumber : ANTARA (16/08/1996)

__________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 386-388.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.