SUKAMTO DAN PUDJO DILANTIK SEBAGAI DUBES

SUKAMTO DAN PUDJO DILANTIK SEBAGAI DUBES

Presiden Soeharto mengingatkan apabila Indonesia tidak waspada dan berhati­ hati dalam mengendalikan politik luar negeri, secara sadar atau tidak mungkin tetjebak dalam siasat kepentingan lain dari luar, yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan nasional.

Presiden Soeharto mengatakan hal itu Sabtu pagi di Istana Negara ketika melantik Mayor Jenderal Soekamto Sayidiman menjadi Dubes RI di Selandia Baru dan Brigadir Jenderal Pudjo Prasetyo menjadi Dubes RI di Laos.

Dia mengatakan, pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif tidaklah gampang, lebih-lebih karena dunia masih penuh dengan berbagai benih ketegangan dan konflik, tidak sepi dari saling berebutan pengaruh di antara kekuatan-kekuatan besar.

Keadaan dunia sekarang memang telah jauh berbeda dengan keadaan dan kebutuhan perjuangan sewaktu RI menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan dahulu, kata Presiden. Namun politik luar negeri RI yang bebas aktif tidak akan ditinggalkan, melainkan tetap dilaksanakan selurus-lurusnya, tambahnya.

"Politik luar negeri yang bebas aktif itulah yang akan membimbing kita untuk memantapkan kemerdekaan nasional kita, ialah merdeka di lapangan politik dan merdeka di lapangan ekonomi," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, Indonesia tidak pernah ragu-ragu dalam mengemudikan politik luar negerinya, dan juga tidak akan bergeser sedikit pun dari arah yang telah ditunjukkan oleh UUD dan GBHN.

”Pelaksanaan politik luar negeri yang bebas aktif diabdikan kepada kepentingan nasional terutama untuk kepentingan pembangunan di segala bidang,” kata Presiden.

Presiden Soeharto mengatakan apabila Indonesia dahulu berjoang untuk merdeka, bukanlah hanya untuk memperoleh kedaulatan politik di tangan sendiri melainkan juga untuk berdaulat di lapangan ekonomi.

Surat Kepercayaan

Presiden Soeharto pada siang hari itu juga di Istana Medeka telah menerima surat-surat kepercayaan duta besar luar biasa Lebanon, Rabia Haidar, untuk Indonesia.

Kepala Negara mengatakan Indonesia tetap teguh pendiriannya dalam masalah Kamboja ialah memihak pada perjuangan yang syah dan adil dari rakyat Palestina dan Timur-Tengah.

Presiden Soeharto mengatakan, Indonesia bersimpati terhadap bangsa Lebanon dan mengharapkan dapat mengatasi cobaan yang dihadapi dewasa ini. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (05/05/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 585-586.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.