SUKAMDANI : MEMBANJIRNYA WARALABA ASING PENGURASAN DEVISA

SUKAMDANI : MEMBANJIRNYA WARALABA ASING PENGURASAN DEVISA[1]

 

Jakarta, Antara

Pengusaha nasional Sukamdani SGitosardjono mengatakan membanjirnya usaha waralaba asing dan manajemen hotel asing merupakan pengurasan devisa negara yang mengalir ke luar negeri.

“Itu semua merupakan kebalikan dari upaya pemerintah yang selalu mendengungkan alternatif pemasukan devisa dari nonmigas.” kata Sukamdani pada acara penyematan Satyalencana Pembangunan Bidang Koperasi dan peluncuran buku “Sukses Usaha Lewat Waralaba” di Jakarta, Rabu malam.

Sukamdani memperoleh Satyalencana Pembangunan atas jasa-jasanya turut mengembangkan kemitraan dengan pengusaha kecil dan koperasi melalui bisnis utamanya, yaitu bidang perhotelan. Penyematan Satyalencana itu dilakukan Menkop/ PPK Subiakto Tjakrawerdaya.

Masalah waralaba asing ini sempat disinggung Presiden Soeharto pada peringatan Hari Pangan Sedunia 16 Oktober lalu. Presiden menganjurkan agar masuknya waralaba asing ke Indonesia dibatasi.

Anjuran Presiden itu dinilai Sukamdani sangat tepat dan perlu ditindaklanjuti dalam suatu ketetapan dan pembakuan aturan, karena jika tidak dibatasi bisa saja terjadi pada suatu ketika makanan asing atau impor lebih digemari ketimbang makanan tradisional.

Pembatasan itu, kata Sukamdani, juga merupakan upaya untuk mencegah larinya devisa yang cukup besar ke luar negeri.

Diakuinya, membanjirnya waralaba asing tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menganut devisa bebas serta sikap para konsumen dalam negeri yang cenderung melihat produk luar negeri selalu yang terbaik.

Bisnis waralaba, katanya, merupakan wujud kemitraan yang saling menguntungkan dan merupakan upaya mendorong pengusaha kecil berkembang menjadi pengusaha kuat dan tangguh.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada pengusaha besar dan menengah agar tidak hanya membuat jaringan distribusi saja, tapi juga mengembangkan sistem waralaba ini.

“Kami mengajak semua perusahaan baik BUMN atau swasta untuk menjadikan perusahaannya sebagai pewaralaba nasional atau membentuk divisi khusus mengembangkan bisnis waralaba.”

Sumber : ANTARA  (23/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 471.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.