SUBROTO PERKIRAKAN HARGA MINYAK TAK AKAN TURUN DRASTIS

SUBROTO PERKIRAKAN HARGA MINYAK TAK AKAN TURUN DRASTIS[1]

 

Jakarta, Antara

Pengamat masalah perminyakan Subroto memperkirakan harga minyak mentah tidak akan turun secara drastic jika Irak mulai mengekspor 600.000-700.000 barel/ hari setelah AS menyetujui penjualan minyak Irak.

Perkiraan situasi harga minyak itu dikemukakan Subroto kepada pers setelah selaku Rektor Universitas Pancasila menemui Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Jumat.

Subroto mengundang Kepala Negara untuk menghadiri wisuda para lulusan perguruan tinggi ini di Balai Sidang Jakarta tanggal 23 Oktober dalam rangka HUT Universitas Pancasila ke-30 tanggal 28 Oktober.

Pemerintah Amerika Serikat hari Rabu (7/8) mencabut keberatan mereka terhadap rencana PBB mengizinkan Irak menjual minyak mentah mereka selama enam bulan senilai dua miliar dolar AS.

Berdasarkan persetujuan PBB dengan Irak, maka uang sebanyak dua miliar itu antara lain akan dipakai untuk membeli obat-obatan dan makanan guna membantu rakyat Irak yang menderita setelah negara itu terkena embargo Dewan Keamanan PBB akibat pendudukan nya terhadap Kuwait tahun 1990.

Mantan Sekjen OPEC itu mengatakan pasar minyak dunia tidak akan terpengaruh secara negatif dengan masuknya kembali Irak ke pasaran asal seluruh negara OPEC mau mematuhi kuota produksi mereka masing-masing.

Selain itu, kata Subroto, yang sebelumnya juga pernah menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, pasokan Irak tak akan memerosotkan harga asal produsen minyak bukan anggota OPEC juga mampu mengendalikan produksi mereka.

“Kalau produksi OPEC selama triwulan ketiga dan keempat tahun ini sesuai dengan pagu produksinya, maka masuknya Irak tidak akan memberi dampak yang terlalu berarti.” kata Subroto.

Dalam sidangnya di Wina beberapa bulan lalu, OPEC menetapkan pagu produksi 25,033 juta barel/hari atau meningkat dibandingkan pagu sebelumnya sebesar 24,52 juta barel/hari. Subroto merasa optimis harga minyak akan tetap baik karena ia mengetahui bahwa beberapa negara di Teluk seperti Arab Saudi, UAE, Kuwait, Qatar dan Iran berusaha secara maksimal memenuhi kuota mereka.

Menurut Subroto, kestabilan harga minyak juga agak “ditunjang” oleh perbaikan fasilitas perminyakan milik Norwegia.

“Perbaikan fasilitas perminyakan Norwegia ini mengakibatkan produksi mereka menurun sehingga ini ikut membantu jika Irak mulai masuk ke pasar.” katanya.

Produksi non-OPEC adalah sekitar 43 juta barel/hari. Sekalipun negara-negara di Teluk dan negara produsen non-OPEC berusaha mengendalikan produksi mereka, yang perlu diperhatikan adalah produksi sejumlah anggota OPEC di Afrika dan Amerika Latin yang cenderung di atas kuota. Konsumsi dunia adalah 69 juta barel/hari.

Harga minyak Brent sekarang ini sekitar 19,50 dolar/barel dan harga basket OPEC adalah 19 dolar/barel. Menurut Subroto, harga ideal itu berkisar antara 7-21 dolar/barel.

Sumber : ANTARA (09/08/1996)

_______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 379-380.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.