SUARA WONG CILIK : “HATI SAYA SERASA PLONG”

SUARA WONG CILIK : “HATI SAYA SERASA PLONG”[1]

 

 

Solo, Republika

Pernyataan mundurnya Pak Soeharto dari jabatan Presiden dan tampilnya Prof. Dr. BJ Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia yang baru disambut rakyat Indonesia dengan beragam ungkapan. Rata-rata dari mereka merasa senang, karena akhirnya Pak Harto berbesar hati untuk meletakkan jabatannya.

“Hati saya terasa plong. Akhirnya, Pak Harto bersedia mundur juga.” ujar Ny. Sipon Triyono (45), salah seorang pedagang di Pasar Klewer Solo.

“Saya mengucapkan syukur, alhamdulillah. Langkah, beliau rela meletakkan jabatan ini, akan membuat lega semua pihak sambungnya”.

Ny. Sipon rupanya juga paham bila semua ini berkat petjuangan mahasiswa. Karena itu, ia menilai mundurnya Pak Harto juga sebagai wujud kemenangan mahasiswa yang selama ini telah memperjuangkan reformasi.

“Kemenangan mahasiswa itu saya ibaratkan dengan istilah ngluruk tanpo bola (maju ke medan laga tanpa bala tentara). Hanya dengan bekal tekad gigih membuahkan hasil memuaskan. Mereka menang mutlak hingga Pak Harto lengser keprabon.” jelas Ny. Sipon.

Hal senada juga dilontarkan Ny. Siti Aisyah, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Pasar Klewer, Solo.

“Saya bersyukur, Pak Harto bersedia mundur. Saya pikir, ini kunci utama untuk meredam aksi massa. Tuntutan hanya satu beliau mundur. Coba kalau tidak mau mundur, aksi maupun tindak kerusuhan bakal muncul di mana­ mana.” ujarnya

Menurut Ny. Siti Aisyah, mundurnya Pak Harto itu, sekaligus bisa dijadikan cermin bahwa semua atribut duniawi, tak ada yang langgeng.

“Tidak selamanya orang bakal hidup mewah, bergelimangan harta benda. Juga pangkat atau jabatan, tak ada yang langgeng. Ini perlu disadari oleh siapapun. Terutama, pemegang jabatan pemerintahan”.

Karena itu pula, Ny. Siti berharap banyak bahwa Pak Habibie yang kini menjadi Presiden mampu bekerja lebih baik dan bisa menghindarkan diri dari penyakit KKN (Korupsi, kolusi dan nepotisme).

“Ketiga penyakit moral itu yang ternyata merusak bangsa ini.”

Lain lagi dengan komentar Tulus Basuki, loper koran di bilangan Wates Yogyakarta.

“Saya sangat puas dengan turunnya Soeharto.” katanya tegas.

“Tapi di sisi lain, dengan naiknya Habibie sebagai Presiden, terus terang kurang puas. Sebab saya meyakini, sistem atau polanya pasti sama dengan Soeharto. Ya semoga saja perkiraan saya ini keliru. Yang pasti, saya butuh figur seperti Pak Amien Rais.” sambungnya.

Mbok Supinahpun, ikut gembira dengan lengsernya Pak Harto.

Pedagang sayur di pasar Beringharjo Yogyakarta ini, mengaku sangat senang.

“Semoga demonstrasi tak ada lagi, sehingga saya bisa berjualan lagi tanpa was­was. Tapi saya dengar banyak yang belum puas, sebab yang menggantikannya Pak Habibie, kok bukan Pak Amien Rais.” tuturnya polos.

“Lha kalau tidak puas berarti ada mahasiswa yang demo lagi. Dan nanti tukaran (berkelahi) lagi dengan tentara. Wah, kalau begini terus, kapan selesainya. Kapan negoro ini bisa disebut  Loh Jinawi Tata Tentrem kerta raharja seperti yang dikatakan dalang Anom Suronto.” sambungnya.

“Sopo sing jadi presiden sekarang ini saya nggak tahu, tapi semoga dengan Presiden sekarang ini bisa mengamankan rakyatnya, tidak ada kerusuhan harga-harga menjadi murah dan terjangkau kembali oleh masyarakat seperti kami ini.” ujar Sutrimo, pedagang pisang goreng di Jl. A Yani, Kodya Bandar Lampung.

Luapan rasa gembira juga terlontar dari masyarakat Padang.

“Pak Harto kan sudah mundur, saya sedih juga. Tapi tak apalah, Pak Habibie mungkin bisajadi Presiden. Yang penting bagi saya hentikanlah perkelahian, pembakaran dan kerusuhan.” kata Rusdi, pesuruh di Kantor Kanwil Depnaker Sumbar di Padang, Kamis (21/5).

“Yang penting aman, itu harapan saya, kalau tak aman, percuma saja orang Jakarta itu pintar-pintar.” kata Mumiati, guru SD Kampung Kalawi Padang.

“Pak Harto turun, Pak Habibie naik, saya tak mengurus reformasi yang penting rumah tangga saya tak goyah lagi setelah ini oleh krisis moneter, syukurlah.” kata Lastri, penduduk warga Perumnas Belimbing, Padang.

Mundurnya Pak Harto dari jabatan Presiden, juga menimbulkan rasa haru dari kalangan generasi tua. Nyonya Aisyah (73) yang tinggal di Desa Loloan Barat, Negara, Bali, misalnya, mengaku sedih mendengar Pak Harto mundur dari jabatannya. Dia menilai, jasa Pak Harto cukup banyak dalam membangun negara, karenanya setelah mundur dari jabatan, dia berharap agar Pak Harto tidak disakiti lagi.

Nyonya Aisyah menggunakan logika sederhana. Kendati pun Pak Harto membuat kekeliruan, agar hal itu bisa dimaafkan. Di mana kesediaan mundurnya Soeharto dari jabatan Presiden karena desakan dan tuntutan masyarakat, dia nilai sudah merupakan hukuman yang cukup berat.

Beda dengan Ny. Aisyah, Ny. Bariah pedagang dhawet (cendol) asal Madura, mengaku tak sulit menyatakan perasaannya.

“Saya tahu Pak Harto mundur dari televisi pagi tadi. Yah gimana ya rasanya? Ah nggak tahulah. Ada rasa kasihan juga melihat wajah bekas presiden kita itu. Habis sudah sekian lama saya tahunya hanya Pak Harto saja (yang jadi presiden). Tapi ada juga senengnya. Ya, syukurlah kalau ada yang bisa dan mampu menggantikannya.” ujarnya.

Di Medan, pernyataan mundurnya Pak Harto disambut dengan lontaran harapan, Presiden sudah berganti?

“Wah, bagi saya siapa pun penggantinya tidak jadi soal. Yang penting bagaimana keadaan pada masa mendatang, lebih baik daripada hari-hari belakangan ini. Barang­-barang tidak mahal. Suasana aman. Tidak seperti sekarang ini. Uang seperti tidak ada nilainya. Tentara kok ada di mana-mana. Sedang ada apa rupanya di negara kita ini.” Hotman Simanjuntak (58) Tukang Becak di Tanjungmorawa, Medan.

“Lalu, kalau presiden berganti apa semua ini akan bisa berubah? Mudah-mudahan begitulah. Sebab kalau dulu wakil Pak Soekarno diganti, keadaan menjadi lebih baik. Sekarang, kalau Pak Soeharto diganti oleh Pak Habibie mestinya keadaan harus lebih baik lagilah.” Sambungnya.

Harapan serupa juga terlontar dari ucapan Mbok Supiyem, pemilik warung nasi di Palembang, ia mengaku tahu Pak Harto diganti Pak Habibie dari cerita orang­-orang yang mampir ke warungnya.

“Bagi Mbok, orang kecil, terserah siapa saja yang jadi presiden. Mau Pak Harto diganti atau tidak, pokoknya siapa pun, tidak jadi masalah. Bagi kami yang penting harga barang sehari-hari tidak mencekik seperti sekarang ini.” katanya.

Sumber : REPUBLIKA (22/05/1998)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 502-504.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.