Suara Wanita Desa

Plampang, 23 Mei 1998

Kepada

Yth. Bapak H. M. Soeharto

di tempat

 

SUARA WANITA DESA [1]

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 tepatnya jam 09.00 WIB, melalui layar televisi seluruh rakyat Indonesia menyaksikan dan mendengar secara langsung pidato Bapak H. Muhammad Soeharto, tentang pernyataan pengunduran diri sebagai presiden mandataris MPR masa bhakti 1998/2003.

Pidato tersebut tidak luput sedikit pun dari perhatian saya, yang kebetulan tinggal di pedesaan. Mesti hanya wanita desa saya menganggap pidato tersebut adalah suatu peristiwa yang teramat penting, karena memberikan makna dan arti tersendiri.

Bapak H. Muhammad Soeharto yang Budiman ……

Kalimat demi kalimat dari pidato pemyataan tentang pengunduran diri itu saya menyimaknya dengan baik … Dan berita yang menjadi pusat perhatian saya tersebut, membuat saya merasa sangat terharu, sedih, kemudian spontan saya menangis. Semata-mata terdorong oleh rasa simpati yang begitu mendalam, tulus karena keluar dar lubuk hati yang paling dalam.

Melalui kesempatan ini saya menyampaikan rasa hormat yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat Bapak H. Muhammad Soeharto dan keluarga, yang telah berusaha menjalankan tugas pemerintahan dan pembangunan bangsa Indonesia dengan sebaik-baiknya. Yang juga berani berkorban, memberikan segala-galanya hanya untuk kepentingan negara, bangsa, dan seluruh masyarakat Indonesia.

Ya Allah … betapa mulia dan luhurnya semangat dan niat baik dari yang terhormat Bapak H. Mohammad Soeharto itu. Tidak lain dan tidak bukan semata-mata beliau lakukan karena ingin melaksanakan penghormatan dan kepercayaan dari negara, bangsa, dan seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Allah membalas semua kebaikan-kebaikan itu dengan syurga. Saya berdoa semoga Allah swt melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada yang terhormat Bapak H. Mohammad Soeharto dan keluarga yang tercinta. (DTS)

Sembah sujud dari saya

Salah satu rakyat Indonesia

Nur’aini HB

NTB

[1]     Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 940-941. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto menyatakan berhenti dari kursi Kepresidenan. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.