SOEHARTO TERIMA SULTAN BOLKIAH DAN ANWAR IBRAHIM

SOEHARTO TERIMA SULTAN BOLKIAH DAN ANWAR IBRAHIM[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto kemarin menerima dua tamu penting. Tamu pertama adalah Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, yang datang di kediaman Jl. Cendana, Jakarta pada Pukul 10:00 WIB. Sultan diterima Presiden selama 40 menit.

Presiden Soeharto menyambut dengan hangat kehadiran Sultan Bolkiah di teras rumah kediaman.

Sultan Brunei datang ke Indonesia, kata Mensesneg Moerdiono yang mendampingi Presiden, untuk bersilaturahmi dan menyampaikan selamat Hari Raya Idul Fitri kepada Presiden dan Wapres Try Sutrisno.

Pada siang harinya Sultan dijamu makan siang oleh Presiden dihadiri oleh Wapres dan Mensesneg Moerdiono. Menurut Moerdiono, kesempatan itu digunakan Presiden untuk menjelaskan krisis ekonomi dan langkah yang ditempuh untuk mengatasi krisis tersebut.

Tamu kedua, Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim yang juga diterima Presiden Soeharto di Jl. Cendana tadi malam.

Anwar Ibrahim menilai pembentukan uang tunggal ASEAN dalam rangka menstabilkan nilai tukar valuta Asia Tenggara masih terlalu prematur.

Menurut Anwar Ibrahim, yang juga Menteri Ekonomi Malaysia, usulan yang disampaikan oleh bankir Thailand tersebut hingga kini belum bisa direalisasikan karena masih sangat prematur.

“Ini masih sangat premature.” katanya ketika dicegat pers usai bertemu dengan Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad di Hotel Grand Hyatt Jakarta, kemarin sore.

Pada awal Maret lalu, para menteri keuangan negara-negara ASEAN telah menjajaki untuk membentuk uang tunggal ASEAN (Asean Single Currency).

Anwar Ibrahim didampingi istrinya Wan Azizah Wari Ismail kemarin tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 16:05 WIB. Kedatangannya di Bandara Halim disambut oleh Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad. Mar’ie dan Anwar kemudian menuju ke Hotel Hyatt dalam satu mobil Mercedes hitam dari Kedubes Malaysia.

Anwar Ibrahim menjelaskan kedatangannya ke Indonesia untuk meningkatkan kerja sama ekonomi. Tetapi dia tidak bersedia menyebutkan lebih spesiflk soal kerja sama tersebut.

“Ya, peningkatan ekonomi biasa.” katanya.

Mar’ie juga tidak bersedia menjelaskan tentang hasil pertemuan dengan Anwar Ibrahim. Ia juga tidak bersedia memberi komentar tentang penjajakan pendirian Currency Board System (CBS) yang sedang dipelajari pemerintah.

Sumber : BISNIS INDONESIA (06/02/1998)

_____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 18-19.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.