SOEHARTO : POSISI MAYORITAS BUKAN SEMATA-MATA KEBANGGAAN

SOEHARTO : POSISI MAYORITAS BUKAN SEMATA-MATA KEBANGGAAN[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto selaku Ketua Dewan Pembina Golkar mengatakan, sesungguhnya posisi mayoritas bukan semata-mata merupakan kebanggaan, melainkan juga harus diimbangi dengan suatu tanggungjawab nasional yang besar.

“Kedudukan Golkar yang sangat strategis itu hendaknya diimbangi dengan kematangan konsep yang diperjuangkannya demi kemajuan bangsa dan negara kita.” katanya dalam amanat yang dibacakan Koordinator Presidium Harian Dewan Pembina Golkar Hartarto pada pembukaan Rapim IV Golkar di Jakarta, Kamis.

Hadir pada Rapim IV Golkar itu Ketua Umum DPP Golkar Harmoko beserta jajaran pengurus tingkat pusat, para pinisepuh, para menteri Kabinet Pembangunan VI selaku anggota Dewan Pembina, Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung selaku pembina Keluarga Besar Golkar jalur A, para Kepala Staf Angkatan dan Polri lengkap dengan seragam kesatuan.

Selain itu, nampak pula para Gubernur kepala daerah selaku Ketua Dewan Pertimbangan Golkar dan seluruh Ketua DPD Golkar tingkat I dan IT seluruh Indonesia.

Agenda Rapim terakhir dalam kepengurusan Harmoko itu antara lain membahas evaluasi keberhasilan Golkar memenangkan perolehan suara dalam Pemilu 1997 yang mencapai 74,51 persen dari keseluruhan suara yang masuk, sekaligus mempersiapkan langkah menjelang Sidang Umum MPR 1998.

Ketua Dewan Pembina Golkar mengatakan,

“Kita harus menyadari bahwa masyarakat pada waktu ini telah semakin dewasa dan kritis. Mereka mampu membaca segala sesuatu yang tersirat di balik berbagai peristiwa politik.”

Hal ini, tambah Ketua Dewan Pembina Golkar, tentu sangat positif untuk perkembangan kehidupan politik bangsa Indonesia, tetapi perkembangan ini harus diimbangi oleh kedewasaan dan kearifan tokoh-tokoh politik agar selalu mendapat tempat di hati rakyat.

Perkembangan dunia Internasional dalam berbagai aspek, katanya, memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan nasional di setiap negara.

“Karena itu masa-masa mendatang merupakan saat-saat kritis. Dalam kaitan ini Sidang Umum MPR yang akan datang sangat strategis.” katanya.

Menetapkan Langkah

Ketua Dewan Pembina Golkar mengatakan, menghadapi Sidang Umum MPR 1998, Golkar perlu menetapkan langkah-langkah strategis yang harus dihayati oleh segenap fungsionaris dan kadernya, sehingga tercermin kesatuan persepsi dan bahasa dalam menanggapi berbagai peristiwa politik : yang terjadi dalam masyarakat.

Pengalaman pembangunan selama ini, katanya, merupakan bahan yang penting dalam mempersiapkan gagasan yang akan dituangkan dalam penyusunan GBHN.

“Masalah-masalah yang kita hadapi dalam melaksanakan pembangunan selama Repelita VI perlu kita kaji. Aspirasi yang berkembang di masyarakat, terutama selama masa kampanye yang lalu, hendaknya mendapat perhatian secara proporsional.” katanya.

Menurut Ketua Dewan Pembina Golkar, selama masa kampanye, Golkar telah menegaskan tekadnya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat yang akan ditempuh antara lain dengan mengentaskan kemiskinan, pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi.

Selain itu beberapa agenda seperti pengelolaan sumber daya manusia, pemantapan pelaksanaan Demokrasi Pancasila, kepastian dan keadilan hukum perlu menjadi perhatian utama perjuangan kader Golkar dalam Sidang Umum MPR yang akan datang.

GBHN 1998 yang akan dirumuskan, katanya, akan sangat menentukan dalam memberikan arah pada perkembangan bangsa dan negara.

“GBHN harus mempunyai keluwesan yang memberikan ruang gerak yang cukup untuk menghadapi perkembangan dunia yang seringkali berada di luar perhitungan kita.” sambungnya.

Untuk itu, tanggungjawab Golkar sebagai organisasi kekuatan sosial politik yang menduduki posisi mayoritas dalam MPR sangat besar, tegasnya.

Oleh karena itu pula, kata Ketua Dewan Pembina Golkar, persiapan konsepsional untuk memasuki Sidang Umum MPR yang akan datang hendaknya benar-benar matang dan dapat dipertanggungjawabkan demi kesinambungan dan peningkatan pembangunan bangsa Indonesia.

Sumber : ANTARA (16/10/1997)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 89-90.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.