SOEHARTO-PM GOH TEKANKAN PENTINGNYA VISI ASEAN 2020

SOEHARTO-PM GOH TEKANKAN PENTINGNYA VISI ASEAN 2020[1]

 

Teluk Paku, Kompas

Presiden Soeharto dan PM Singapura Goh Chok Tong menekankan pentingnya visi ASEAN menghadapi era perdagangan bebas di Asia Pasifik tahun 2020. Untuk itu, kedua pemimpin mengharapkan dalam pertemuan puncak ASEAN tahun 1997 ini, yang akan diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, para pemimpin ASEAN lebih memusatkan pembicaraan pada masalah visi ASEAN 2020 tersebut.

Menteri Negara Sekretaris Negara (Mensesneg) Moerdiono kepada wartawan menjelaskan, penekanan pentingnya visi ASEAN 2020 tersebut merupakan salah satu hasil pembicaraan empat mata atau tukar pikiran antara Presiden Soeharto dengan PM Goh Chok Tong selama sekitar 45 menit, usai meresmikan kawasan industri maritim Karimun, PT Karimun Indojaya Corporation dan galangan kapal PT Karimun Sembawang Shipyard, kerja sama RI-Singapura, di Teluk Paku, Pulau Karimun Besar, Riau, Senin (17/3).

Usai peresmian, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan Kesepakatan Bersama, antara Konsorsium Indonesia yang dipimpin Grup Salim, Konsorsium Singapura yang dipimpin Sembawang Grup dan Tomen Corporation dari Jepang, untuk membangun proyek terminal penimbunan minyak di Pulau Karimun. Proyek itu mempunyai kapasitas lima juta barrel minyak dari 10 juta barrel yang direncanakan. Nilai investasi mencapai 177 juta dollar AS (sekitar Rp 407 milyar). Dengan demikian, kawasan Karimun bernilai investasi total 430 juta dollar AS (sekitar Rp 989 milyar).

PM Goh Chok Tong yang di antaranya didampingi Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lee Yock Suan dan Menteri Komunikasi Mah Bow Tan, tiba di Pulau Karimun menggunakan feri Bintan Resort, Aria Bupala. Sedang Presiden Soeharto yang didampingi Menko Prodis Hartarto, Menperindag Tunky Ariwibowo, Mensesneg Moerdiono, dan Menristek BJ Habibie, bertolak dari Batam menuju Pulau Karimun dengan helikopter.

Kepala Negara juga didampingi Menteri PU Radinal Moochtar, Menhub Haryanto Dhanutirto, Menkeh Oetojo Oesman, dan Meneg Agraria/Kepala BPN Soni Harsono yang lebih dulu tiba di Batam, serta para pengusaha di antaranya Soedono Salim dan Ny. Titiek Prabowo.

Cukup Besar

Lebih lanjut Mensesneg mengatakan, kedua pemimpin sepakat menekankan perlunya meningkatkan kerja sama di antara ASEAN, terutama dengan masuknya tiga negara, Kamboja, Laos, dan Myanmar ke ASEAN. Dengan begitu, diperkirakan ASEAN akan memiliki pangsa pasar untuk sekitar 500 juta orang. Menurut Menteri, dilihat dari segi pasar, angka itu cukup besar, bahkan jauh lebih besar dari pangsa pasar Masyarakat Eropa (ME).

Selain itu, kedua pemimpin menekankan perlunya mengembangkan potensi ASEAN, mengingat pertumbuhan ekonomi ASEAN yang cukup tinggi, antara 6 persen hingga 8 persen. Presiden Soeharto dan PM Goh Chok Tong menegaskan, potensi ASEAN tersebut perlu terus digali, khususnya dalam meningkatkan daya saing di wilayah-wilayah lain ASEAN guna menarik minat investor.

Karena itu, baik Presiden Soeharto maupun PM Goh Chok Tong menekankan pula pentingnya mengembangkan kerja sama ASEAN, terutama menghadapi kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA) tahun 2003. Kedua pemimpin juga mengharapkan para menteri kedua pihak yang memiliki tugas untuk mengadakan penelaahan bersama tentang perkembangan masa depan kerja sama ASEAN, mampu menyumbangkan pikiran bagi visi ASEAN menghadapi era perdagangan bebas Asia Pasifik tahun 2020.

Mengingat perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), disepakati melaksanakan era perdagangan bebas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Diputuskan, pelaksanaan perdagangan bebas untuk negara maju dan negara industri baru (NIC) pada tahun 2010 dan tahun 2020 untuk negara-negara berkembang.

“Karena itu, tahun 2020 seluruh negara anggota APEC harus membuka diri.” kata Mensesneg.

Dikatakan, Presiden Soeharto dan PM Goh Chok Tong menggaris bawahi salah satu hasil pertemuan KTT Informal ASEAN di Jakarta, November 1996 tentang visi ASEAN 2020. Karena itu, kedua pemimpin mengharapkan seluruh pemimpin ASEAN mampu meluangkan kesempatan untuk membicarakan masalah visi ASEAN 2020 dalam pertemuan puncak ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1997 ini. Selain masalah ASEAN, kedua pemimpin juga membicarakan masalah bilateral kedua negara, baik ekonomi maupun politik, masalah regional, dan Internasional.

Kawasan Industri

Menyinggung kawasan maritim dan industri Karimun, Mensesneg Moerdiono mengatakan, kedua pemimpin merasa puas dengan kerja sama tersebut, karena telah menunjukkan hasil. Dalam sambutan tertulisnya, Presiden Soeharto menekankan, kerja sama itu menunjukkan, Indonesia dan Singapura merupakan dua negara yang saling melengkapi.

Kepala Negara menegaskan, kerja sama di antara negara-negara tetangga sudah menjadi keharusan.

“Kedua negara kita bertetangga sangat dekat. Kita memiliki batas wilayah bersama. Dalam era saling ketergantungan diantara negara-negara di dunia sekarang ini, dan akan bertambah erat ketergantungan nya di masa depan.” tegas Presiden.

Sebaliknya, PM Goh Chok Tong menilai, kawasan Karimun merupakan lokasi ideal untuk kompleks industri dan maritim, karena mudah mengakses dari Selat Malaka, dan memiliki kedalaman air yang bisa menampung kapal-kapal besar.

“Karena itu, saya yakin, bahwa proyek Karimun akan berhasil.” ujar Goh Chok Tong. PM Goh juga mengusulkan menggunakan kerja sama RI-Singapura dalam proyek Karimun ini sebagai model kerja sama regional Intra-ASEAN.

Dirut PT Karimun Indojaya Corporation Handoko dalam laporannya mengatakan, kawasan industri maritim Karimun merupakan implementasi lanjut perjanjian kerja sama kedua negara dalam proyek kawasan pariwisata Internasional Bintan yang diresmikan tanggal 18 Juni 1996. Untuk itu, disusun rencana induk kawasan industri maritim seluas 1.050 hektar dengan investasi pertama 65 juta dollar AS (sekitar Rp 150 milyar) dan investasi untuk pembangunan tahap kedua sebesar 140 juta dollar AS (sekitar Rp 320 milyar).

Sedang galangan kapal PT Karimun Sembawang Shipyard memiliki sarana utama fasilitas perbaikan kapal dengan bobot mati di atas 60.000 ton. Nilai investasi mencapai 48 juta dollar AS (sekitar Rp 111 milyar). Seluruh sarana itu, kata Handoko, masih akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan diselaraskan dengan pengembangan kawasan.

Sumber : KOMPAS (18/03/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 29-31.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.