SOEHARTO – LEE MENGHARAPKAN KERJASAMA HADAPI RESESI DUNIA

SOEHARTO – LEE MENGHARAPKAN KERJASAMA HADAPI RESESI DUNIA

Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono mengakui bahwa kerja sama ekonomi pengembangan kawasan industri Pulau Batam antara Indonesia dengan Singapura hasilnya masih kurang nyata.

Menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka seusai pembicaraan antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang berlangsung duajam kurang lima menit, Sudharmono berkata: "Yah, yah… tentu ada kemajuan, tapi memang dirasa perlu ditingkatkan. Artinya, tidak gampang."

Kerja sama pengembangan Pulau Batam sebelumnya telah dibicarakan oleh kedua Kepala Pemerintahan dalam suatu pertemuan di Yogyakarta awal Juli 1980 dan kemudian membuahkan suatu perjanjian pada akhir Oktober 1980.

Menurut Mensesneg, yang penting adalah bagaimana mendorong Singapura untuk turut menanam modal dalam pengembangan Pulau Batam, guna mempercepat pembangunan infrastruktur yang kini dilaksanakan oleh Indonesia.

Partisipasi Singapura dikatakan antara lain dibidang perlistrikan, tapi ini juga tidak gampang. Maksudnya, apakah Indonesia akan membeli dari Singapura, siapa yang membangun "power" dan sebagainya.

"Kerja sama", ujar Sudharmono, "harus feasible (layak-Red) dan memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Kalau, ndak itu bukan kerja sama namanya."

Mensesneg menggambarkan, sebagaimana biasa, pertemuan antara Kepala Pemerintahan di Negara-negara ASEAN berlangsung dalam suasana persahabatan, persaudaraan terbuka untuk saling menukar pandangan tentang masalah-masalah yang terjadi di dunia, bilateral maupun masalah-masalah bersama yang dihadapi ASEAN.

Karena itu, dia menilai, pertemuan antara Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang kini sedang mengadakan kunjungan tiga hari di Indonesia adalah sangat bermanfaat, baik demi peningkatan kepentingan hubungan bilateral ataupun dalam rangka ASEAN.

Berkata Sudharmono: "Memang maksud ASEAN adalah meningkatkan kerja sama dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional masing-masing, sehingga dengan demikian diharapkan bisa meningkatkan ketahanan regional".

Mengenai masalah bilateral yang kemungkinan bisa ditingkatkan, Sudharmono menunjuk keinginan Singapura untuk bekerja sama dalam memanfaatkan sumber­sumber gas di Indonesia.

Sudharmono berkata: "Tentu perlu penelitian dan studi lebih lanjut sebelum bisa dilaksanakan."

"Apakah kerja sama ini ditawarkan oleh Presiden Soeharto?" tanya wartawan. "Bukan,"jawab Mensesneg, "yang menanyakan kemungkinan adalah pihak Singapura".

Selain itu, menurut Sudharmono, kedua Kepala Pemerintahan juga membicarakan bagaimana meningkatkan kerja sama di bidang turisme. Artinya. bagaimana meningkatkan turis yang bila di Singapura untuk terus ke Indonesia.

Dikatakan, pula bahwa pelaksanaan dari proyek-proyek industri ASEAN yang telah disepakati juga dibicarakan, karena yang berjalan baru proyek pupuk di Indonesia dan Malaysia. Yang belum dilaksanakan termasuk proyek mesin diesel di Singapura.

Pada bagian lain dari keterangannya, Sudharmono mengemukakan bahwa masalah-masalah dunia yang dibicarakan antara lain menyangkut resesi.

Di sini yang diharapkan adalah kerja sama di antara negara-negara ASEAN, sehingga bisa memperkecil akibat dari resesi tersebut.

”Diusahakan bagaimana ada kesamaan pandangan dan langkah-langkah dalam menghadapi resesi dunia," tegasnya.

Mengenai penyelesaian terhadap masalah Kamboja, Sudharmono mengatakan bahwa Indonesia yang juga menjadi sikap ASEAN adalah bagaimana melaksanakan resolusi PBB, Yaitu, agar masalah Kamboja bisa diselesaikan dengan jalan politik dan Vietnam menarik kembali pasukan dari Kamboja serta memberi kesempatan kepada rakyat Kamboja untuk menentukan nasib dan Pemerintahannya sendiri.

"Tidak disinggung secara eksplisit," kata Sudharmono ketika kepadanya ditanyakan apakah kedua Kepala Pemerintahan juga membicarakan masalah Pertahanan Keamanan.

Pembicaraan antara Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Jusuf dengan rekannya Goh Chok Tong berlangsung terpisah di Merdeka Barat.

Kepada wartawan, Jenderal M. Jusuf mengatakan bahwa kunjungan rekannya itu merupakan salah satu upaya peningkatan kerja sama di bidang Pertahanan Keamanan berdasar persahabatan, perdamaian serta stabilitas pertahanan menara masing-masing.

Dijelaskan, antara kedua negara sebagai sesama negara ASEAN dan tetangga secara geografis yang paling dekat dengan Indonesia, maka kerja sama tersebut sudah berjalan baik.

Namun, diingatkan bahwa upaya ke arah peningkatan yang lebih baik lagi tetapi dilakukan dengan saling mengunjungi untuk tukar pikiran.

Menjawab tentang hubungan lintas batas kedua negara, M. Jusuf mengatakan tidak ada persoalan baru, karena selama ini berjalan dengan sangat baik. Begitu juga tentang kerja sama di bidang pendidikan tetap berlangsung ditandai dengan tukar menukar siswa.

Pertemuan kedua Menteri Pertahanan berlangsung hampir satu setengah jam dalam suasana, penuh persahabatan, diakhiri dengan tukar menukar kenang-kenangan.

Sebelum pertemuan, Menteri Pertahanan Singapura itu diterima oleh Menhankam/Pangab dalam suatu upacara kebesaran militer diiringi lagu kebangsaan Singapura di halaman Markas Staf Hankam.

Menteri Pertahanan Singapura disertai pula oleh Menteri Negara Urusan Pertahanan Yeo Ning Hong, Sekjen Menhan Lim Siong Guan, Director Ministry of Defence Eddie Too, Deputy Director Ministry Off Foreign Affairs Ton Seng Chey dan atase Pertahanan Singapura Kolonel Syed Hashim Ajieffrey.

Menteri Pertahanan Singapura pada kesempatan itu sekaligus juga mengundang Menteri M. Jusuf untuk datang ke Singapura di waktu-waktu mendatang. Jenderal Jusuf menerima baik undangan tersebut, tapi kapan waktunya masih menunggu kesempatan yang lebih baik.

Sebelumnya, Perdana Menteri Singapura ketika, selesai mengadakan pembicaraan dan berjalan menuju Wisma Negara kepada wartawan mengemukakan rasa puas dan gembiranya atas pertukaran pandangan yang baru saja berlangsung dengan Presiden Soeharto.

Dia menegaskan bahwa pembicaraan mencakup berbagai masalah, termasuk perobahan perobahan politik internasional seperti di kawasan Pasifik dan Timur Tengah.

Lee yang berpakaian batik lengan panjang kendatipun dengan ramah menghadapi wartawan, tapi mengatakan bahwa dia tidak akan mendahului berbicara lebih banyak.

Dalam pembicaraan secara terpisah di Istana Merdeka hari ini tampak pula Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, Pangkobkamtib/Wapangab Laksamana TNI Sudomo, Sekretaris Kabinet Moerdiono, Sekjen Departemen Perhubungan A. Tahir Sekjen/Depnakertrans Urip Widodo dan Dirjen Politik Deplu Munawir Sadzali. (RA)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (09/09/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 824-826.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.