SOEHARTO INTRODUSIR KONSEP ‘IMF PLUS’ Dewan Mata Uang Ditimbang, IMF Tak Akan Ditinggalkan

SOEHARTO INTRODUSIR KONSEP ‘IMF PLUS’

Dewan Mata Uang Ditimbang, IMF Tak Akan Ditinggalkan[1]

 

Jakarta, Merdeka

Pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto di depan Sidang Umum MPR kemarin berisi pengakuan tentang situasi ekonomi moneter yang memprihatinkan belakangan ini beserta implikasinya, juga tentang upaya-upaya yang telah dan akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah itu.

Presiden mengatakan, gelombang gejolak moneter datang menghantam sejak pertengahan tahun lalu. Seakan-akan semua yang kita bangun dengan susah-payah, kadang-kadang dengan kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja tergoyang­-goyang.

Musibah ekonomi itu sebenarnya sudah diketahui sebelumnya, bahkan di waktu­waktu lalu Presiden sudah mengingatkan bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita pasti merasakan pengaruh menjadi satunya perekonomian dunia. Ternyata pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang kita dapat bayangkan.

Ternyata ketahanan ekonomi kita cukup kuat menghadapi pukulan dan lagipula, di samping pengaruh dari luar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini adalah juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri.

“Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas kepentingan kita masing-masing.” kata Presiden Soeharto.

Kepala Negara menyebutkan pula, dalam menstabilkan nilai rupiah, telah dimintakan kepada IMF dan para kepala pemerintahan lainnya untuk dapat membantu Indonesia menemukan alternatif yang lebih tepat.

“Saya tidak akan ragu sedikit pun melakukan apa saja untuk mengatasi keadaan, untuk meringankan beban kehidupan rakyat yang bertambah berat. Saya telah mulai melaksanakan dan terus melaksanakan program-program reformasi dan restrukturisasi ekonomi yang mendapat dukungan IMF,” ujar Kepala Negara.

Tetapi, tanda-tanda perbaikan belum juga tampak. Kunci utamanya adalah stabilisasi nilai tukar rupiah pada tingkat yang wajar.

Selama ini belum tercapai, saya tidak dapat melihat perbaikan keadaan dalam waktu dekat ini. Itulah sebabnya saya meminta IMF dan para kepala pemerintahan lainnya kiranya dapat membantu kita menemukan alternatif yang lebih tepat.

“Saya nama kan konsep yang lebih tepat itu sebagai konsep IMF Plus.” katanya.

Presiden juga sedang menimbang-nimbang dengan penuh ketelitian dan kehati­hatian kemungkinan menerapkan Sistem Dewan Mata Uang (CBS). Langkah-langkah apa pun yang akan kita ambil, kita memerlukan dukungan IMF sebagai lembaga keuangan dunia yang berwibawa dan mempunyai reputasi tinggi.

“Sangat jelas, pada akhirnya, nasib kita berada di tangan kita sendiri.” ujar Kepala Negara.

Kepala Negara juga mengatakan, hilangnya kepercayaan sumber utama berbagai masalah berat yang dihadapi sekarang ini. Dengan melaksanakan sungguh-sungguh program-program IMF, diharapkan pulih pula kepercayaan pelaku-pelaku ekonomi di negeri sendiri maupun di luar negeri. Untuk menjamin pelaksanaan yang sebaik­baiknya dari program itu, Presiden telah membentuk dan memimpin sendiri Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan.

Sesuai jadwal waktunya, sebagian program telah dilaksanakan dan sebagian lainnya menyusul kemudian.

“Kita berbulat hati melaksanakan sepenuhnya program ini.” kata Presiden Soeharto.

Langkah-langkah yang telah diambil adalah merevisi RAPBN 1998/1999, yang sekarang telah disetujui DPR. Langkah berikutnya adalah melaksanakan program rehabilitasi perbankan dalam rangka membangun kembali sistem perbankan yang sehat. Program ini meliputi dua unsur utama. Yang pertama adalah penyediaan jaminan penuh oleh pemerintah kepada seluruh nasabah deposan dan kreditor bank-bank umum nasional. Yang kedua adalah pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional yang bertanggungjawab untuk memperbaiki bank-bank yang pada saat ini dalam kondisi tidak sehat dan tidak memiliki prospek yang baik, untuk dipulihkan kesehatannya.

Presiden mengatakan pula, telah disetujui penggabungan empat bank milik negara, yaitu BDN, BBD, Bapindo dan Bank Eksim. Bank baru sebagai hasil penggabungan itu diberi nama Bank Catur. Sedangkan untuk menyehatkan dan memperkuat daya saing bank-bank swasta, pemerintah telah menetapkan jumlah modal minimal dan mendorong penggabungan diantara mereka.

Langkah-langkah penting lainnya adalah memperlancar perdagangan dalam dan luar negeri, memperlancar penanaman modal, menghapus monopoli serta menghapus kemudahan-kemudahan khusus untuk mobil nasional (Mobnas) dan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). (FN)

Sumber: MERDEKA (02/03/1998)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 712-714.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.