SOEHARTO DAN PEMBANGUNAN

SOEHARTO DAN PEMBANGUNAN

Oleh : Solichin Salam

Setiap masa atau zaman itu ada pemimpin yang sesuai dengan tuntutan zamannya.

Dalam sejarah dunia, kita dapat menarik kesimpulan bahwa setiap masa itu ada pemimpin yang sesuai dengan masanya. Setiap pemimpin itu lahir sesuai dengan tuntutan sejarah pada zamannya dan tidak ada pemimpin dalam sejarah bangsa apapun di dunia yang dapat melaksanakan segala tugas. Akan tetapi semua pemimpin itu menjalankan tugas sesuai dengan "mission" sejarah yang dibawanya.

Kehadiran tokoh Orde Baru, Jenderal Soeharto dalam panggung sejarah Indonesia sejak 11 Maret 1966, adalah merupakan suatu tonggak sejarah baru.

Kehadirannya merupakan Lembaran baru dalam sejarah Bangsa Indonesia. Sehingga Era Soeharto adalah merupakan Era Baru yang ditandai dengan derap dan lajunya pembangunan di segala bidang. Itulah sebabnya, Era Soeharto di dalam sejarah akan tercatat sebagai Era Pembangunan.

Berbicara tentang Era Soeharto tidaklah dapat disangkal bahwa sejak kelahiran Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto, kita berada dalam suasana membangun. Hal mana sesuai dengan cita-cita dan tujuan Proklamasi Kemerdekaan kita. Sebab kemerdekaan tiada artinya tanpa diisi dengan pembangunan. Sehingga antara kemerdekaan dan pembangunan ada kaitan dan hubungannya satu sama lain.

Oleh karena cita-cita dan tujuan kita dengan proklamasi kemerdekaan tiada lain adalah untuk mendirikan perumahan bangsa yang berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat ke luar dan ke dalam. Di dalam alam kemerdekaan inilah kita membina segala sarana yang dituntut oleh setiapbangsa yang merdeka.

Kita bina manusianya agar mereka memiliki jiwa yang bebas dari rasa takut, bebas dari rasa dan perasaan rendah diri, bebas dari kelaparan dan kemiskinan, bebas dari kebodohan dan kemiskinan, bebas dari rasa ketidak adilan dsb. Jiwa merdeka itulah ciri dari manusia merdeka yang hidup dalam kemerdekaan.

Pembangunan yang dilaksanakan di masa Orde Baru ini adalah pembangunan di segala bidang, meliputi pembangunan mental spiritual, dan juga pembangunan fisik. Ribuan tempat-tempat ibadah seperti masjid, gereja, kuil dan pagoda telah dibangun sebagai sarana peribadatan. Puluhan ribu gedung-gedung sekolah dari Taman Kanak­Kanak, Sekolah Dasar, SLP, SLA sampai Perguruan Tinggi telah berdiri. Ratusan ribu kilometer jalan yang telah dibangun di seluruh pelosok Tanah Air.

Ratusan buah jembatan telah dibangun. Aneka waduk telah berdiri. Garuda sebagai perusahaan penerbangan sipil telah memperkuat armada udaranya untuk selain melebarkan sayap penerbangan didalam maupun di luar negeri juga telah memodernisasikan jenis-jenis pesawat yang dimilikinya untuk disesuaikan dengan pesawat model mutakhir.

Mengingat negara kita adalah suatu negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau, yang luasnya 2/3 terdiri dari lautan dan 1/3 terdiri daratan untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau-pulau lainnya perlu di bangun sistim komunikasi yang dapat menjangkau seluruh kepulauan Nusantara yang luas itu secara modern.

Untuk itu telah dibangun satelit Palapa, sehingga tidak saja Indonesia dapat menikmatinya melainkan juga beberapa negara tetangga kita bisa ikut memanfaatkannya.

Indonesia yang luas ini telah dapat menikmati pesawat TV dengan baik dan sempurna. Modernisasi di lapangan Telkom tidak ketinggalan pula. Studio­studio RRI maupun TV dibangun di mana-mana di setiap Ibu kota propinsi.

Perumahan rakyat mulai dirintis, untuk mengatasi masalah kekurangan perumahan rakyat. Pulau Jawa makin lama makin padat penduduknya. Untuk mengurangi kepadatan penduduk ini, maka Pemerintah mulai melaksanakan transmigrasi ke daerah-daerah di luar Jawa.

Rakyat Indonesia kini telah berjumlah 150 juta lebih. Untuk mengurangi laju dan pertambahan penduduk agar sesuai dengan pola pembangunan yang sedang kita laksanakan, maka Pemerintah telah melaksanakan KB, tidak secara paksa dan wajib, melainkan secara sukarela berdasarkan kesadaran masing-masing warga.

Di bidang Pertahanan dan Keamanan, di dalam masa Era Soeharto ini ABRI mulai membenahi diri. Tidak saja perumahan dan kesejahteraan prajurit mulai dipikirkan, akan tetapi juga di bidang personil dan persenjataan mulai ditingkatkan mutunya sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman.

ABRI, dengan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara serta POLRI, mulai memodernisasikan persenjataannya agar tidak ketinggalan dengan rekan-rekan Angkatan Perang di negara tetangga kita.

Ini bukan maksud kita membangun ABRI untuk ambisi teritorial dengan mengadakan ekspansi militer ke lain negara, melainkan semata-mata hanya untuk pertahanan negara dari segala kemungkinan serangan dan musuh dari luar.

Sejak masa Orde Baru, kita telah melaksanakan Pemilu selama 3 kali, masing­masing dalam tahun 1971, 1977 dan 1982 ini untuk memilih wakil-wakil rakyat yang sesuai dengan pilihan kita masing-masing yang kita percayai.

Adanya Pemilu ini dimaksudkan sebagai realisasi dari sarana demokrasi dalam negara kita. Meskipun dalam praktiknya kita tidak menutup pintu terhadap kemungkinan adanya ketidak sempurnaan, namun dalam kenyataannya, dengan adanya Pemilu itu rakyat diingatkan untuk menyadari haknya dan dilatih untuk menggunakan hak pilihnya sesuai dengan keyakinan serta pilihan mereka masing-masing.

Guna menjaga adanya kemungkinan bahaya intervensi ideologi dari luar dan untuk lebih memantapkan tegaknya ideologi tunggal. (RA)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (08/06/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 725-727.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.