SOEHARTO DAN MULDOON DUA JAM BERUNDING

SOEHARTO DAN MULDOON DUA JAM BERUNDING

Banyak kesamaan pandangan antara Presiden Soeharto dengan PM Selandia Baru Muldoon, mengenai berbagai masalah Internasional, seperti krisis Kamboja, Afghanistan, TimurTengah maupun konflik lran – AS.

Demikian Menteri Sekretaris Negara Sudharmono menjelaskan, selesai mendampingi Presiden Soeharto mengadakan perundingan dengan PM Muldoon selama dua jam di ruang Jepara, Istana Merdeka Rabu pagi.

Khusus mengenai konflik Iran – AS, menurut Sudharmono, PM Muldoon berpendapat bahwa ketegangan antara kedua negara itu, kalau dibiarkan berlarut-larut tidak menguntungkan semua pihak.

Hal itu berarti, bagaimanapun dan denganjalan apapun ketegangan itu harus diselesaikan. Dalam hubungan ini, menurut Sudharmono, PM Muldoon tidak meminta peranan Indonesia dalam upaya mencari penyelesaian damai.

Dikatakan selanjutnya, dewasa ini Selandia Baru mempunyai hubungan kerjasama Ekonomi dengan Iran yang cukup besar, terutama dengan ekspor daging Selandia Baru ke Iran.

Mengenai masalah Afghanistan. Yang juga dibicarakan dalam pertemuan itu, tidak dijelaskan bagaimana sikap Selandia Baru. Demikian pula mengenai Timur Tengah dan Kamboja.

Panas Bumi

Dalam pembicaraan yang dinilai penuh persahabatan, ramah tamah dan penuh suasana saling pengertian, Presiden Soeharto didampingi Menlu ad interim Mudjono, Mensesneg Sudharmono dan Dubes Sukamto Sayidiman. Sedang PM Muldoon didampingi Dubes Selandia Baru untuk Indonesia, RF Nottage.

Di samping masalah internasional juga dibicarakan kerjasama bilateral, terutama proyek geothermal (panas bumi) di Kemojang Jawa Barat yang mendapat bantuan (grant) dari negara itu, dan kemungkinan memperluas kerjasama itu. Kamis ini, PM Muldoon bersama rombongan meninjau proyek geothermal Kemojang.

"Proyek ini dibantu Selandia Baru, khususnya dalam penggalian, ”ucapnya, yang sudah dilakukan sejak tahun 1974 lalu. Dari proyek geothermal Kemojang akan dihasilkan tenaga listrik sebesar 30 Megawatt.

Impor Sapi

Indonesia akan impor sapi perah dari Selandia Baru mulai bulan Agustus mendatang walaupun harganya US$ 75 lebih mahal dari sapi Australia, Menteri Perdagangan ad interim Bustanil Arifin mengatakan sore ini di Wisma Negara.

Impor sapi dari Selandia Barn dirundingkan antara Perdana Menteri Selandia Baru, Muldoon dengan Menteri Ekuin Widjojo Nitisastro, Menteri Perdagangan a.i. Bustanil Arifin, Menteri Pertambangan Soebroto, Dirjen HESBLN dan Duta besar RI untuk Selandia, Baru, Soekamto Sayidiman.

"Harga sapi itu menjadi US$ 715,- per ekor yang mulai dimasukkan ke Indonesia sebanyak 1.000 ekor pada bulan Agustus, bulan Oktober 1000 ekor dan tahun depan 4.000 ekor," kata Bustanil.

Tekstil

Bustanil mengatakan Selandia Barnjuga berjanji untuk meningkatkan impor tekstil dan kemeja ke negaranya, tidak saja dari Indonesia, tetapi juga dari negara negara ASEAN lainnya.

"Mereka membuka pintu untuk itu," kata Bustanil Arifin.

Bustanil mengatakan impor kemeja ke Selandia Baru tidak akan menjadi masalah dengan Singapura, karena hal itu akan dibicarakan secara bersama antara negara ASEAN.

Menurut Bustanil neraca perdagangan antara Indonesia dan Selandia Baru, lebih besar Indonesia, yaitu sekitar US$ 11 juta.

Pengapalan

Bustanil Arifin mengatakan Indonesia telah minta kepada Selandia Baru agar pengapalan komoditi Indonesia seperti karet dan kopi dikirim langsung, tidak lagi melalui Singapura.

Dengan pengapalan langsung berarti Indonesia tidak lagi menambah "cost", kata Bustanil.

Bustanil mengatakan, pengapalan langsung sekarang hanya dari Jakarta dan Surabaya. (DTS).

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (29/05/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 594-595.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.