SOEHARTO – CHUN BICARA SOAL KERJA SAMA EKONOMI

SOEHARTO – CHUN BICARA SOAL KERJA SAMA EKONOMI

Pembicaraan resmi antara Presiden Soeharto dan Presiden Chun Doo Hwan dari Korea Selatan dijadwalkan berlangsung hari Senin di Istana Chong Wa Dae. Seoul mulai pukul 10.30 waktu setempat (pk 8.30 WIB) selama lebih kurang satu jam. Selama perundingan antara kepala negara itu, para menteri Indonesia mengadakan pembicaraan terpisah dengan pihak delegasi Korea Selatan.

Delegasi Indonesia terdiri atas Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan dan Industri Widjojo Nitisastro, Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, Dubes RI di Seoul R.E. Soeprapto, Sekretaris Kabinet Moerdiono, Dirjen Politik Munawir Sjadzali dan Dirjen Hubungan Ekonomi Luar Negeri Goesti Roesli Noor serta Direktur Urusan Asia Pasifik, M. Satari. ”Antara", melaporkan, pembicaraan antara ke dua pihak diduga lebih banyak ditekankan pada peningkatan kerja sama ekonomi ke dua negara.

Beberapa Masalah

Ekspor Indonesia ke Korea Selatan tahun 1981 bernilai 283 juta dollar AS, sementara ekspor Korea ke Indonesia 488 juta dollar AS pada tahun yang sama.

Dari 283 juta dollar AS itu, sebesar 193juta dollar diantaranya adalah ekspor minyak bumi Indonesia dan hasil-hasilnya (LSWR). Selebihnya sebesar 90 juta dollar AS adalah ekspor Indonesia non minyak ini berarti kurang seperlima ekspor Korea ke Indonesia.

Dari 90 juta ekspor non minyak Indonesia ke Korea, sebesar 58 juta dollar AS adalah pendapatan dari ekspor kayu, sehingga ekspor Indonesia ke Korea di luar minyak dan kayu hanya bernilai 32 juta dollar AS.

Dalam hubungan ini, pembicaraan antara delegasi Indonesia dan Korea hari Senin di Seoul diduga akan menyangkut usaha pihak Indonesia agar Korea mengambil langkah-langkah konkrit guna lebih banyak mengimpor komoditas dari Indonesia misalnya karet, kopi, plywood (kayu lapis) dan sponge iron (besi spong).

Mengenai ekspor minyak bumi Indonesia ke Korea kemungkinan juga dibicarakan, mengingat Korea sekarang hanya mengimpor 10.000 barrel sehari. Padahal Indonesia menyetujui Korea mengimpor minyak bumi dari Indonesia 15.000 barel/hari.

Menurut pihak Korea, hal ini terjadi karena keadaan ekonominya menurun. Kalangan Indonesia berpendapat bahwa dalam rangka peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara, adalah wajar bila impor minyak yang dikurangi itu bukan dari Indonesia tetapi dari negara-negara lain.

LNG

Tentang LNG (gas alam cair) ada dua masalah yang dibicarakan ialah soal tipe kapal pengangkut LNG ke Korea dan harga LNG itu sendiri. Indonesia ingin agar sistem sferis untuk angkutan LNG itu yang dipakai, pihak Korea menghendaki pemakaian sistem membrane.

Mengenai harga LNG, Indonesia mengusulkan tambahan 0,4 juta ton LNG dari produksi yang kini sudah ada. Satu train menghasilkan 1,6 juta ton dan untuk ini perlu dua kapal. Tetapi yang terpakai hanya 1,4 (satu dua per lima) ruang kapal. Ini mengakibatkan biaya angkutan (freight) tinggi. Untuk menekan biaya yang tinggi itulah Indonesia mengusulkan tambahan 0,4 juta ton.

Dalam hubungan ini, pihak Korea setuju, tetapi minta agar harganya sama dengan kontrak lama (1971) dengan Jepang. Indonesia keberatan, karena penambahan 0,4 juta ton itu sebenarnya juga untuk membantu Korea mengurangi biaya freight.

Selain itu, dalam penjualan LNG ke Jepang, negeri Sakura itu menyediakan dana untuk membangun peralatan pencairan gas alam. Dalam hubungan dengan Korea, mengenai dana tersebut diusahakan oleh Indonesia sendiri.

Dalam bidang keuangan kemungkinan dibicarakan persetujuan pajak berganda. Pihak Korea juga diduga mengemukakan perlunya persetujuan jaminan investasinya di Indonesia.

Di bidang jasa konstruksi dibicarakan kemungkinan-kemungkinan kerja sama dalam pembangunan proyek-proyek di Indonesia maupun di negara-negara lain, khususnya di Timur-Tengah.

Masalah-masalah lain yangjuga akan dibicarakan, kemungkinan niat Korea untuk mengerjakan proyek batubara di Parambahan, Ombilin.

Perjanjian udara antara kedua negarajuga diduga akan dibahas. Masalahnya yang menyangkut pengertian wilayah dan rute penerbangan.

Kemungkinan-kemungkinan terbentuknya Indonesian-Korean Liners Conference tidak tertutup kemungkinannya untuk dibicarakan antara kedua delegasi itu.

Presiden Soeharto dan Masyarakat Indonesia di Seoul Minggu malam di Ibu kota Republik Korea, Seoul, Presiden Soeharto mengadakan pertemuan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia di kota itu yang berjumlah lebih kurang 100 orang.

Pertemuan yang berlangsung satu jam itu didahului dengan santap malam bersama Presiden dan Ny. Tien Soearto, Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja dan isteri, Menteri Sekretaris Negara Sudharmono dan isteri, Dubes RI di Seoul Suprapto serta pejabat-pejabat dan warga Indonesia lainnya.

Murid-murid SD turut menyambut kedatangan Presiden Soeharto di Wisma Duta, tempat pertemuan berlangsung.

Presiden juga berdialog dengan beberapa warga Indonesia di Seoul pada kesempatan itu. Selesai melihat kerajinan barang-barang produksi Korea yang dipamerkan pada pertemuan itu, Presiden kemudian kembali ke Hotel Shilla tempat Kepala Negara bermalam.

Dalam pertemuan ramah tamah dengan masyarakat Indonesia, Presiden tidak menyampaikan wejangannya.

Presiden dan Ny. Tien Soeharto bersama rombongan Minggu pagi setelah melakukan peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Nasional di Seoul, melanjutkan perjalanan menuju Chang Won dengan pesawat terbang Kepresidenan, Korea. Penerbangan dengan pesawat tipe HS 748 dari Seoul ke Chang Won itu memerlukan waktu 50 menit.

Ketika tiba di Chang Won, suatu kawasan industri berat Korea yang bernama Korean Heavy Industries and Construction Co. Ltd, Presiden Soeharto disambut Gubernur Propinsi Kyung Nan dan dijamu makan siang. (RA)

Seoul, Jurnal Ekuin

Sumber : JURNAL EKUIN (19/10/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 998-1000.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.