SOEHARTO BAPAK PENGGERAK KOPERASI

SOEHARTO BAPAK PENGGERAK KOPERASI[1]

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto memperoleh anugerah sebagai Bapak Penggerak Koperasi Indonesia pada perayaan Hari Koperasi ke-50 yang berlangsung Sabtu (12 Juli).

Dalam perayaan yang dihadiri sedikitnya 20.000 peserta itu juga diberikan penghargaan kepada pengusaha maupun institusi yang dinilai aktif mendorong kemajuan koperasi dan usaha kecil di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara menyematkan peniti Satyalencana Pembangunan kepada 61 orang. Mereka yang menerima penghargaan itu a.I. Anthony Salim (bos Grup Salim), Rini M.S. Soewandi (Direktur keuangan PT Astra Intema­ tional), dan James R. Moffet (Preskom PT Freeport Indonesia).

Presiden juga menyerahkan Satyalencana Wirakarya kepada koperasi/KUD terbaik, pengusaha kecil terbaik, serta wartawan terbaik bidang penulisan kewirausahaan dan koperasi yang diraih Indra Sutha dari Bisnis Indonesia.

Selain itu, berdasarkan Kepmenkop dan PPK No. 172/KEP/MNU/1997, Surat Kabar Bisnis Indonesia dinyatakan sebagai Pewarta koperasi dan usaha kecil andalan I. Sedangkan Angkatan Bersenjata dan Kompas pada posisi ke-2 dan ke-3.

Mujiyanto dan Eko Widiyatno dari Republika sebagai wartawan terbaik ke-2 dan ke-3 bidang penulisan kewirausahaan dan koperasi. Sementara penulis terbaik I dari kalangan umum diraih oleh M. Junef (Perlindungan hukum merk usaha Warteg, dimuat di Bisnis 5 juni 1996).

Kemampuan Koperasi Tak Perlu Diragukan

Tak ada alasan untuk ragu-ragu terhadap kemampuan koperasi sebab pengalaman bangsa-bangsa lain menunjukkan bahwa di tengah-tengah kemajuan zaman dan persaingan yang ketat, koperasi tetap dapat tetap hidup dan berkembang.

Hal tersebut ditegaskan Presiden Soeharto hari Sabtu pada Peringatan 50 tahun hari Koperasi Indonesia dan Peringatan hari Pertanian Koperasi dan Keluarga Berencana (Pertasikencana) X tahun 1997 di Parkir Timur Senayan Jakarta.

Selain dihadiri Wakil Presiden Try Sutrisno acara itu juga dihadiri sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan VI diantaranya Menteri Pertanian Sjarifuddin Baharsjah, Menteri Negara Kependudukan/Ketua BKKBN Haryono Suyono, Menparpostel Joop Ave serta para duta besar negara sahabat diikuti sekitar 12.000 anggota gerakan koperasi dari seluruh Indonesia.

Pada peringatan 50 tahun Koperasi dan penyelenggaraan Pertasikencana X Kepala Negara sekaligus juga mencanangkan Gerakan Nasional Desa Cerdas Teknologi. Peringatan tersebut ditandai pula dengan pemberian gelar Bapak Penggerak Koperasi Indonesia kepada Presiden Soeharto dari Gerakan Koperasi Indonesia.

Kepala Negara berharap agar bangsa Indonesia tetap yakin bahwa koperasi dapat menjadi wadah bersama bagi kita guna mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar meskipun kita berada dalam situasi perekonomian terbuka dan perdagangan bebas.

“Yang paling penting adalah bahwa kita tidak boleh patah semangat dalam membangun koperasi.” kata Presiden.

“Kita harus terus berusaha dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa koperasi benar-benar dapat tumbuh dengan kuat, sehat dan mandiri di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang maju.” kata Presiden menambahkan.

Kepala Negara mengatakan bahwa Indonesia telah memibki berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat menciptakan iklim yang mendukung tumbuh dan berkembangnya koperasi usaha menengah dan kecil.

Menurut Presiden, untuk waktu-waktu yang akan datang, pembangunan dan pengembangan koperasi harus berada di tangan gerakan koperasi sendiri. Peran pemerintah akan lebih dititiberakan kepada penciptaan iklim yang mendorong tumbuh dan berkembangnya koperasi serta gerakan memasyrakatkan dan membudayakan wirausaha.

Apalagi kita telah memibki berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat menciptakan iklim yang mendukung tumbuh dan berkembangnya koperasi usaha menengah dan kecil.

“Kita terus menerus mengembangkan kemitraan antara pelaku-pelaku ekonomi. Kemitraan yang kita kembangkan itu bukan sembarang kemitraan. Kemitraan yang kita kembangkan itu adalah dalam rangka mewujudkan ekonomi yang berdasarkan Pancasila.” tegas Kepala Negara.

Desa Teknologi

Pada kesempatan itu Kepala Negara juga mengingatkan bahwa sejalan dengan keberhasilan pembangunan, maka peranan sektor industri dalam perekonomian nasional terus bertambah besar.

Namun hal ini tidak berarti bahwa peranan sektor pertanian pada masa yang akan datang menjadi kurang penting. Malahan sebaliknyajustru bertambah penting. Sebab, kehidupan dan mata pencaharian sebagian besar penduduk Indonesia tetap akan berada di berbagai sektor yang berkaitan dengan pertanian. Selain itu wujud masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila yang dicita-citakan tidak bisa lain kecuali berbentuk masyarakat industri maju yang didukung pertanian yang kuat. Pada kesempatan itu Kepala Negara dianugerahi gelar Bapak Penggerak Koperasi dari Gerakan Koperasi Indonesia.

Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (Menkop dan PPK), Subiakto Tjakrawerdaya, yang didampingi Menteri Sjarifudin Baharsjah dan Menteri Kependudukan/ketua BKKBN Haryono Suyono mengatakan, anugerah Bapak Penggerak Koperasi Indonesia yang diberikan gerakan Koperasi Indonesia tersebut sangatlah tepat dan proporsional.

Karena menurut dia, selama kurun waktu Presiden Soeharto telah menjadi tokoh paling gigih dan konsisten pada cita-cita menegakkan ekonomi kebersamaan yang menjadi dasar dari jiwa koperasi dan kemajuan yang dicapai selama ini merupakan wujud nyata dari semua itu.

“Bagi kami, baik sebagai pembantu Bapak maupun sebagai orang yang bergerak dalam dunia koperasi, anugerah itu lebih merupakan simbol kontinuitas perjuangan dunia koperasi sebagaimana kita peringati dengan nada emosional hari ini.” ucap Subiakto.

Masih menurut dia, Presiden Soeharto adalah pemrakarsa dan pelaku yang telah menggoreskan sesuatu yang sangat bermakna untuk masa depan ban gsa Indonesia.

Namun Pak Harto justru mengatakan,

“Dengan penghargaan ini mudah-mudahan tidak melunturkan saya untuk bersama-sama menggerakkan koperasi.”

Sumber : MERDEKA (14/07/1997)

________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 407-409.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.