SOAL PERGANTIAN PRESIDEN YANG PENTING AMAN, TIDAK LAGI MENCEKAM

SOAL PERGANTIAN PRESIDEN YANG PENTING AMAN, TIDAK LAGI MENCEKAM[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Sejak HM Soeharto mengumumkan berhenti sebagai Presiden RI dan dilakukan pembacaan sumpah BJ Habibie sebagai Presiden baru, suasana lalu lintas Jakarta tetap lengang, padahal sejumlah jalan yang sebelumnya diblokir aparat keamanan sudah dibuka kembali.

Pada sepanjang hari Kamis, yang juga sebagai hari libur Kenaikan Isa Almasih, suasana jalan di Jakarta tidak ada kerumunan massa baik di ujung-ujung gang atau pinggir jalan yang ‘menanggapi’ pengumuman penting dari Istana Negara. Jakarta masih lengang, tak bergairah setelah ditimpa sejumlah kerusuhan yang mengharu biru semua warga, beberapa hari sebelumnya.

Walau begitu tanggapan masyarakat Jakarta, utamanya rakyat kecil tentang berhentinya Pak Harto, serta naiknya BJ Habibie menjadi presiden baru pada hari Kamis (21/5) amat beragam.

Sunardi (35), seorang sopir Mikrolet 37 Jurusan Senen-Pulogadung, mengatakan, berhentinya Pak Harto dan Prof. BJ Habibie sebagai penggantinya merupakan hal yang tiba-tiba.

“Saya tidak menyangka, Mas,” katanya.

Menurut warga Semper Jakut itu, seharusnya penunjukan Habibie melalui musyawarah di MPR sehingga tidak mengesankan hanya main-main, meskipun Habibie memiliki kemampuan.

“Kalau sudah begini, ya nunggu saja Mas. Kita lihat Pak Habibie itu mampu atau tidak, kalau memang mampu silakan terus tapi kalau tidak mampu ya harus mundur.” katanya.

Sedang Rofiq (23), salah seorang calon penumpang di Terminal Tanjung Priok, memiliki pendapat yang agak berbeda dengan Sunardi. Menurut dia, pengunduran Soeharto yang sekaligus Habibie menjadi presiden merupakan langkah yang setidaknya dapat mengurangi beban dan tuntutan masyarakat.

“Semoga hal ini menjadi kebaikan bagi kita, karena yang jelas Pak Harto sudah berhenti.” kata santri Ponpes Al Fakhriyah, Lenteng Agung, Jaksel.

Menurut dia, gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat patut diacungi jempol karena sudah mampu memberikan harapan perubahan di negara yang sedang dilanda krisis.

Namun lain lagi, tanggapan sekelompok cewek yang berkerumun di depan Mall Kelapa Gading, Jakut, mereka hanya tertawa cengengesan.

“Emangnya gue pikirin.” kata salah seorang di antara mereka, Rita (17).

“Kita sih maunya Jakarta aman lagi, tidak sepi mencekam. Banyak tentara dan panser, yang mendirikan bulu roma seolah-olah Indonesia tengah dilanda perang besar.” ujar Bahrun (26) pedagang rokok di kawasan Sabang Jakarta Pusat.

Bagi dia, entah Habibie atau Amien Rais bahkan Megawati jadi Presiden, yang dibutuhkan rakyat adalah ketenangan hidup, keamanan, rasa tenteram jauh dari ketakutan.

“Tragedi 14 Mei 1998 lalu, saat banyak mobil dibakar, rumah warga keturunan dijarah dan dibakar, masih amat mencekam. Kita warga, orang-orang kecil tak ingin hal ini terjadi lagi.” ujar Ny. Bwe Kao, pedagang toko kelontong dijalan Sabang.

Menurut wanita kelahiran Medan, 30 tahun lalu itu, peristiwa penjarahan dan pembakaran rumah-rumah, toko di Jakarta beberapa waktu lalu, menyadarkan bariyak warga keturunan, bahwa rasa aman dan tenteram amat bernilai.

Lain lagi suasana di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur kemarin. Puluhan pedagang bersemangat untuk mendengarkan pidato terakhir mantan Presiden RI Soeharto tentang pengunduran dirinya sebagai Presiden RI.

Semula tidak semua pedagang mengetahui akan pidato tersebut, tiba-tiba saja seorang satpam pasar berteriak,

“Soeharto turun, Soeharto turun..”

Sambil berlari ke dalam arena pasar, dalam waktu sekejap saja puluhan pedagang membanjir di aula kantor pasar Induk Jakarta Timur untuk menonton televisi. Puluhan mata menatap televisi 21 inci tanpa terdengar suara gaduh.

Seorang pedagang bawang merah, Sukirman, tiba-tiba nyeletuk ketika BJ Habibie diangkat menggantikan Presiden untuk sementara waktu.

“Loh kok dia, emangnya dia pengalaman untuk mengatur negara ini.” celetuk Kinnan.

Celetukan Kinnan mengundang komentar pedagang lainnya untuk buka mulut, sesaat suasana gaduh terlihat di ruang aula tersebut. Kegaduhan itu hening ketika seorang satpam meniupkan peluitnya.

“Priiiiit…. mau nonton apa rebut.” tegas Yanto satpam Pasar Induk.

Sumber : MEDIA INDONESIA (22/05/1998)

_____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 504-506.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.