SOAL GELAR

SOAL GELAR

Dari Rozahan, Palembang

Tertarik akan Tajuk harian Merdeka, hari Sabtu, tanggal 3 Desember 1981 halaman VII yang berjudul "Bapak Pembangunan", saya menyatakan pendapat sebagai berikut:

Kalau benar seperti kata Wakil Ketua DPR bahwa Presiden Soeharto pribadi tak begitu senang dengan pujian/pujaan/sanjungan seperti itu, saya kira memang patut mendapat perhatian dari pihak sponsor-sponsor pemberian gelar tersebut, karena sifatnya yang negatif. Apakah artinya sebuah gelar?

Terlepas dari perasaan pro dan kontra, saya ingin menceritakan pengalaman saya lebih kurang 36 tahun yang lalu yang mungkin mirip dengan peristiwa ini, yaitu kira-kira awal tahun 1946, sebagai berikut:

Pada waktu itu saya bertugas sebagai krani Rumah Sakit Umum di Pringsewu, Lampung Selatan, sebuah Rumah Sakit ex-milik Missie R.K., yang oleh pemerintah pendudukan Jepang dijadikan Rumah Sakit Umum, kemudian sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945, dilanjutkan oleh Pemerintah NRI Keresidenan Lampung.

Waktu itu di seluruh Keresidenan Lampung hanya ada 4 (empat) orang dokter dan kebetulan dokter/pemimpin RSU Pringsewu ini mendapat tugas baru/ditunjuk oleh Residen Lampung NRI waktu itu untuk mengambil oper Jawatan Kesehatan pemerintah pendudukan Jepang (Eiseika) sambil menyusun/membentuk suatu seksi Jawatan Kesebatan Tentara Republik Indonesia untuk daerah Karesidenan Lampung, dengan berkedudukan di Tanjungkarang.

Oleh karena sang dokter hams pindah dari Pringsewu, maka diadakanlah suatu acara perpisahan oleh karyawan/karyawati RSU Pringsewu. Sebagai juru bicara/wakil dari karyawan/karyawati RSU tersebut ditunjuk seorang mantri­juru rawat yang tertua waktu itu, mantri-juru rawat X.

Pada pidato-pidato yang diucapkan oleh sang juru bicara/wakil tadi, banyak sekali perkataan yang memuji-muji, menyanjung-nyanjung, mengalem-ngalem sang dokter/pemimpin RSU tersebut.

Selesai juru bicara/wakil tersebut menguncapkan pidatonya, sang dokter/pemimpin RSU tersebut spontan memberi sambutan dengan nada yang agak kurang senang dan juga menyesali.

Saya sebenarnya tak senang/tak setuju dengan pujian-pujian, sanjungan­sanjungan mantri-juru rawat X. Tadi, karena itu diucapkan di hadapan saya sendiri, jadi seolah-olah saya dianggap sebagai seorang yang "pandir" (masal-olok) (= orang yang senang dipuji-puji/disanjung-sanjung = maniac.) Dan setiap orang itu, selama ia masih hidup belumlah dapat dinilai buruk/baik amal/perbuatannya.

Sampai hari ini masih baik, tetapi belum tentu lagi esok/lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan dan seterusnya. Sampai akhir/hayatnya. Nah, kalau sudah sampai ke-akhir hayatnya, barulah dapat dinilai buruk/baik amal/perbuatannya. (= Tutup buku dulu, baru dibuat neraca).

Jadi kesimpulannya, memang untuk peristiwa semacam ini, pendapat seseorang berbeda dengan seseorang lain, tergantung dari kepribadian orang yang bersangkutan sendiri.

Umumnya peristiwa ini sangat disenangi oleh rnasyarakat yang masih primitif, seperti di Afrika Tengah (ex-Kaisar Bokasa), di-Uganda (diktator Idi Amnin), di Abesinia (Ex-Kaisar Haile Sclasie) dan mungkin juga di Indonesia, tetapi pada zaman dahulu kala waktu masyarakat masih primitif.

Cerita saya diatas bukan isapanjempol, melainkan benar-benar terjadi. Nama dokter yang dimaksud adalah: Dokter Baderil Moenir (alm), abang dari Prof. dr. Bahder Djohan (alm) dan dr. Hj. Roesmali (alm).

Memang beliau-beliau ini adalah sarjana-sarjana didikan zaman penjajahan Belanda dulu, seperti dr. Baderil Moenir alm. Lulus Stovia tahun 1920, tetapi dalam hati kepribadian (karakter) bolehlah dibuat contoh teladan. (DTS)

Palembang, Merdeka

Sumber: MERDEKA (17/12/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 324-325.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.