Siswono Yudohusodo: Pak Harto Getaran Kepemimpinannya Terasa

Getaran Kepemimpinannya Terasa

Siswono Yudohusodo (Menteri Negara Perumahan Rakyat dalam Kabinet Pembangunan V)

Suatu hari pada tahun 1973, saya lupa tanggalnya, sekitar jam 11.00-12.30 di Jalan Cendana, saya berjumpa dengan Bapak Soeharto, yang secara tak terduga melewati ruangan tempat saya menghadap Ibu Tien Soeharto. Pada hari itu memang saya sebagai pengusaha di bidang kontraktor bangunan sedang menghadap Ibu Tien untuk membicarakan masalah-masalah proyek pembangunan yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita. Saat itulah pertama kali saya berkesempatan untuk bersalaman dan bertatap muka dengan Bapak Soeharto. Yang mengagetkan ialah bahwa kemudian saya diajak makan nasi pecel bersama-sama Bapak dan Ibu Tien Soeharto.
Hari itu pertama kali saya mendapat kesempatan berdialog langsung dengan Bapak Soeharto. Suatu kesempatan berdialog dengan seorang peniimpin yang namanya sudah lama saya ketahui. Ketika saya masih kecil di kota Kendal, Jawa Tengah, paman-paman saya yang ikut perjuangan fisik banyak berceritera tentang Bapak Soeharto. Menurut cerita paman-paman saya, Bapak Soeharto adalah Komandan Wehrkreise di Yogya yang terkenal sebagai pemimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, yang kemudian menjadi Komandan TT VII/Diponegoro. Begitu pula semasa saya menjadi mahasiswa ITB, saya mengetahui beliau sebagai Panglima Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat (sekarang Irian Jaya), dan kemudian sebagai Panglima Kostrad. Jadi, pada hari itu saya bangga sekali dapat berjumpa dan berdialog dengan pemimpin yang selanjutnya telah menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Pejabat Presiden, dan akhirnya menjadi Presiden ke-2 dari Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.
Menerawang kembali proses perjumpaan dengan Bapak Soeharto adalah ceritera yang panjang. Pada tahun 1972, sebagai Direktur Utama PT Bangun Cipta Sarana, yang bergerak dalam bidang kontraktor, saya mendapat tugas membangun gedung industri untuk penderita cacat Swa Prasidia Purna di daerah Cempaka Putih, Jakarta. Gedung itu dimiliki oleh Yayasan Harapan Kita yang ketuanya adalah Ibu Tien Soeharto. Dalam proses memperoleh pekerjaan itu saya tidak pernah dapat berhubungan langsung dengan Ibu Tien, melainkan melalui Ibu Ibnu Soetowo, Ibu Ali Moertopo, Ibu Latief, dan Ibu Muhono selaku Pimpinan Proyek. Baru kemudian pada suatu hari, dalam tahun yang sama, saya diminta untuk mendampingi ibu-ibu tersebut guna melaporkan pelaksanaan pekerjaan itu. Di situlah, dalam usia saya yang baru 29 tahun, saya dapat bertemu, bertatap muka, bersalaman dan berdialog secara langsung dengan Ibu Tien.
Yang cukup mengejutkan dalam perjumpaan dengan Ibu Tien ialah bahwa selaku Ibu Negara, beliau mengetahui secara rinci seluk­beluk bangunan dan mempunyai cita rasa arsitektural yang sangat tinggi. Dari Ibu Tienlah saya memperoleh petunjuk-petunjuk dan pandangan-pandangan yang sangat rinci tentang pembangunan proyek gedung industri untuk penderita cacat, Swa Prasidia Purna; milik Yayasan Harapan Kita tadi. Dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut, beberapa kali saya berkesempatan menghadap Ibu Tien untuk melapor dan mendapatkan pengarahan langsung. Barangkali, karena pekerjaan pembangunan gedung industri penderita cacat itu dianggap memuaskan, selanjutnya saya diberikan kepercayaan untuk melaksanakan proyek-proyek Yayasan Harapan Kita yang lainnya di Jakarta. Antara lain misalnya Sekolah Keterampilan Puteri di Kramat Jati, perumahan sederhana untuk prajurit di Kelapa Gading, perumahan di Cempaka Putih, perumahan di Rawamangun, kolam di Taman Mini Indonesia Indah, asrama jompo di Cibubur, perumahan di Kramat Jati, dan kelengkapan tenda Pramuka di Cibubur.
Dalam rangka melaksanakan berbagai proyek Yayasan Harapan Kita inilah, secara kebetulan, saya berkesempatan juga berkenalan dengan keluarga Bapak Soeharto, serta berjumpa dengan Bapak Soeharto, sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Setelah itu beberapa kali saya berjumpa dengan Bapak Soeharto, tetapi hanya dalam rangka meresmikan proyek-proyek yang dibangun oleh PT Bangun Cipta Sarana. Antara lain peresmian proyek Pelabuhan III Tanjung Priok Jakarta, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Pulau Bai Bengkulu, pemakaian Jalan Pekan Baru-Dumai, dan pembuatan dam dan pelabuhan di Pulau Batam.
Akhirnya di suatu hari pada tahun 1974 saya dipanggil oleh Bapak Soeharto di ruang kerjanya, yang kecil dan sederhana, di Jalan Cendana. Inilah untuk pertama kalinya saya berhadap­hadapan dan berdialog secara panjang lebar dengan pemimpin di Republik ini. Pertemuan ini membicarakan soal pelaksanaan pembangunan makam Bung Karno di Blitar.
Ada kesan yang sangat mendalam dalam pertemuan ini. Bapak Soeharto nampaknya sangat memberikan perhatian terhadap segala sesuatu yang menyangkut pembangunan dan filsafat yang melatari pembangunan makam tersebut. Gagasan Bapak Soeharto terutama yang menyangkut latarbelakang filsafat dari makam tersebut di­tuangkan dalam bentuk gambar oleh arsitek beliau. Dalam hal ini beliau menerangkan secara rinci mengenai simbol-simbol kejiwa an dan falsafah dari bentuk bangunan makam. Ukuran, letak bangunan dan jenis tanaman yang akan menghiasi pekarangan makam tersebut, merupakan perwujudan dari falsafah yang melatarbelakangi pembangunan makam tadi. Semua bagian dari makam itu memiliki makna filsafat yang lahir dari gagasan Bapak Soeharto. Waktu itu, saya merasakan bahwa Bapak Soeharto sangat menghargai almarhum Bung Karno dan ingin memuliakannya.
Dengan berkali-kali menghadap beliau dalam rangka pem­ bangunail makam Bung Karno itu, saya dapat lebih mengenal beliau terutama mengenai pandangan-pandangan beliau tentang kejiwaan, filsafat dan berbagai pandangan lainnya yang terkandung didalam pembangunan makam tersebut. Ternyata Bapak Soeharto bukan hanya seorang militer yang sukses dalam karir militernya dan tegas dalam tindakan serta mampu mengambil pilihan-pilihan yang tepat dalam suasana yang pelik saja. Lebih dari itu, beliau adalah juga seorang yang mempunyai pengetahuan filsafat yang luas dan dalam. Hal yang sama saya alami kembali ketika beliau meminta saya bertemu di ruang kerja beliau di Jalan Cendana dalam rangka pembangunan makam Bung Hatta di Tanah Kusir, Jakarta. Seperti juga pada pembangunan makam Bung Karno, dalam pembangunan makam Bung Hatta inipun Bapak Soeharto memberikan petunjuk­petunjuk beliau dengan menguraikan latarbelakang filsafat dan kejiwaan.
Kepercayaan yang diberikan Bapak Soeharto kepada saya untuk membangun makam kedua proklamator tersebut merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi saya sekeluarga, disamping bagi seluruh karyawan PT Bangun Cipta Sarana beserta keluarga mereka. Kesempatan mendapatkan pengarahan yang seringkali terjadi dalam rangka pelaksanaan proyek-proyek tersebut merupakan kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih jauh pribadi Bapak Soeharto, serta mendapatkan masukan-masukan yang sangat berharga bagi perkembangan pribadi saya sendiri.
Mendalami Bapak Soeharto sebagai Kepala Negara, walaupun tidak berhubungan secara langsung, getaran kepemimpinannya telah saya rasakan sejak beliau memimpin negara ini. Itulah sebabnya saya tidak pernah mempunyai pikiran yang bermacam-macam ketika Kolonel Suyono, ajudan Presiden, menelepon saya untuk menghadap Bapak Soeharto di Jalan Cendana pada hari Jum’at tanggal18 Maret 1988, jam 19.00 WIB. Saya hanya menduga akan mendapat tugas untuk membangun makam bekas Wakil Presiden, almarhum Bapak Adam Malik. Akan tetapi ternyata, Bapak Soeharto kali ini memberikan penugasan kepada saya untuk menjabat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat. Ini adalah suatu kepercayaan yang tak ternilai harganya bagi saya.
Sekarang baru sekitar beberapa tahun saya menjadi pembantu Presiden selaku Menteri Negara Perumahan Rakyat. Meskipun demikian saya menjadi lebih sering dapat menjumpai beliau, terutama dalam rangka pelaksanaan tugas selaku menteri. Dalam kedudukan sebagai menteri, sekurang-kurangnya setiap bulan saya bertemu dengan Bapak Soeharto dalam sidang kabinet terbatas bidang Ekuin. Disamping itu, sebulan sekali saya melaporkan di Bina Graha tentang pelaksanaan pembangunan sektor perumahan dan pemukiman, serta memohon petunjuk-petunjuk beliau. Pada kesempatan-kesempatan seperti jamuan makan malam untuk menghormati tamu negara dan upacara-upacara kenegaraan lainnya, saya juga bisa bertatap muka dengan Pak Harto.
Saya mempunyai kesan bahwa Bapak Soeharto, sebagai pemimpin kabinet, menguasai permasalahan yang dihadapi pemerintah bukan hanya yang makro saja, melainkan sampai ke detailnya. Beberapa rekan menteri juga mengatakan kepada saya bahwa Pak Harto menguasai masalah-masalah yang dihadapi oleh rekan-rekan menteri tersebut tidak hanya dari aspek makronya saja tetapi juga aspek mikronya. Dengan demikian saya menganggap bahwa beliau adalah tipe pemimpin yang tahu apa yang harus dilakukan; seringkali beliau harus memilih dari berbagai alternatif pilihan yang paling pelik. Yang saya rasakan ialah bahwa beliau mampu memberikan pengarahan yang jelas, sehingga kita menjadi lebih terarah dalam melaksanakan apa yang harus kita kerjakan. Konsistensi beliau terhadap arah yang ingin dicapai dan luwes didalam upaya mencapai sasaran tersebut membuat kita menjadi mantap dalam usaha mencapai sasaran-sasaran yang diharapkan
Sebagai Kepala Negara, beliau menyiratkan seorang figur yang mampu menciptakan ketenangan dan kemantapan. Dalam suasana yang krisis pun beliau tetap tenang. Saya belum pernah melihat beliau meledak-ledak. Pengendalian diri Bapak Soeharto sangat mengagumkan dan kemampuan beliau untuk bisa melihat jauh ke depan sulit untuk dicari tandingannya. Sebagai satu contoh misalnya kita melihat dalam hal penerimaan masyarakat terhadap asas tunggal Pancasila. Dalam hal ini bertahun-tahun, dengan penuh kesabaran dan ketegaran, beliau membimbing masyarakat yang akhirnya mau menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi sosial­kemasyarakatan dan sosial-politik, tanpa menimbulkan kesan pemaksaan. Saya kira, tidak banyak pemimpin lainnya yang sanggup menempuh tahapan-tahapan itu. Sebab, pencapaian seperti itu membutuhkan kesabaran, keyakinan, ketegaran, dan, mungkin pula, saat-saat yang penuh ketegan an dan keruwetan.
Dalam kesibukannya yang luar biasa dan beban tugas yang begitu luas, beliau juga merupakan seorang pendengar yang baik. Beliau bersedia mendengarkan dengan tekun laporan-laporan yang disampaikan sehingga tidak ada kesan bahwa beliau terlalu banyak pekerjaan (overloaded). Meskipun relatif belum lama saya membantu beliau, saya mengalami hal ini terutama sewaktu melaporkan pelaksanaan pembangunan sektor perumahan. Setiap kali saya menghadap beliau untuk membicarakan masalah perumahan dan pemukiman, beliau memberikan perhatian yang penuh terhadap permasalahan yang saya ketengahkan. Dengan tekun beliau mendengar­ kan semua laporan saya beserta alternatif kebijaksanaan yang akan dibuat. Padahal saya tahu pada hari itu ada sederet masalah yang perlu mendapat petunjuk beliau, sebab ada beberapa menteri yang telah lebih dahulu menghadap beliau, disamping beberapa menteri lainnya yang akan menghadap sesudah saya. Sedikit pun tidak ada kesan bahwa emosi dan pikiran beliau masih melekat pada persoalan lain, yang mungkin cukup berat, sewaktu persoalan yang saya bawa dibicarakan dengan beliau.
Setelah beliau mendengar segala persoalan yang saya ketengahkan, barulah beliau memberikan petunjuk-petunjuk. Saya hanya minta petunjuk pada masalah-masalah yang memang kewenangannya ada pada beliau, atau masalah yang sangat prinsipil yang bisa berdampak luas. Disamping itu, juga masalah-masalah yang melibatkan instansi-instansi lain, dimana pembicaraan pada tingkat antar-instansi belum diperoleh kesepakatan atau masih terdapat beberapa alternatif. Petunjuk-petunjuk yang beliau berikan selalu didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional dan jelas. Disamping itu petunjuk beliau juga dilatarbelakangi oleh suatu tujuan jangka panjang yang telah ditetapkan, yang secara konsisten dipegang oleh beliau. Oleh karena itu saya merasakan bahwa beliau adalah orang yangbisa membagi waktu dengan baik, dan mampu memberikan perhatian yang seimbang. terhadap berbagai sektor. Tidak ada kesan bahwa beliau mengutamakan sesuatu sektor lebih dari yang lain.
Kesan saya mengenai tipe kepemimpinan Pak Harto dalam mendelegasikan tugas dan tanggungjawab kepada pembantu beliau adalah bahwa beliau memberikan kepercayaan penuh. Kepercayaan itu sekaligus juga menumbuhkan tanggungjawab yang besar bagi saya, karena kepercayaan dari seorang Presiden/Mandataris MPR adalah suatu kehormatan yang sangat tinggi. Melalui kepercayaan itu lahir pula prakarsa dalam melaksanakan tugas di sektor-sektor pembangunan, khususnya bagi saya di sektor perumahan dan pemukiman. Kalaupun ada sesuatu yang bisa diartikan sebagai pem­ batasan, maka hal itu hanyalah pengarahan beliau agar suatu kebijaksanaan yang terkait ataupun mengait dengan instansi lain, dan yang mempunyai dampak luas sebaiknya dibicarakan secara mendalam dengan pimpinan instansi-instansi atau menteri-menteri lainnya. Jadi persoalannya bukanlah pembatasan keleluasaan, melainkan masalah koordinasi dengan instansi lain. Memang demikianlah seharusnya, karena pembangunan yang dilaksanakan pemerintah adalah pembangunan yang menyeluruh, dalam arti bahwa kaitan antara sektor yang satu dengan sektor yang lainnya harus merupakan suatu simfoni yang harmonis dan bukannya setiap sektor lari sendirisendiri.
Yang juga menarik dari Bapak Soeharto adalah sense of humor beliau yang tinggi, disamping daya ingat yang tajam. Dalam menanggapi laporan-laporan yang disampaikan para pembantu beliau misalnya, ada kalanya Pak Harto mengkritik sambil bergurau sehingga kita tidak merasa hal itu sebagai suatu kritikan yang tajam. Beberapa rekan menteri juga pernah mengemukakan pada saya mengenai daya ingat beliau. Beliau selalu ingat mengenai setiap perkembangan sektor-sektor perumahan yang telah saya laporkan. Oleh karena itu bilamana kita membuat laporan, maka harus selalu ada konsistensi dengan laporan yang sebelumnya.
Masih mengenai daya ingatan beliau, saya punya satu pengalaman pribadi. Sebelum saya menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat, beberapa kali saya ikut bersama masyarakat luas bersilaturahmi dengan Bapak Soeharto di hari Idul Fitri. Yang paling mengagetkan saya ialah bahwa ketika bersalaman, beliau selalu menyebut nama panggilan saya. Padahal ketika itu saya hanyalah seorang Direktur Utama dari sebuah perusahaan swasta yang memang sedang mengerjakan beberapa proyek dari Yayasan Harapan Kita dan dari pemerintah. Tetapi perlu diingat bahwa saya bukanlah seorang Direktur Jenderal ataupun Direktur dari sebuah departemen pemerintahan. Oleh karena itu saya tak habis pikir bagaimana beliau bisa ingat nama panggilan saya, sebab, tentunya, ada begitu banyak orang yang berhubungan dengan beliau. Barangkali hal ini yang merupakan salah satu bentuk kehangatan dan perhatian yang beliau berikan terhadap orang lain.
Kesan lain yang menarik dari pribadi Pak Harto ialah rasa kesetiakawanan, dan rasa kemanusiaan beliau yang sangat menonjol. Saya banyak mendengar mengenai cara beliau membantu ternan-ternan lama beliau yang sedang dalam kesulitan. Terhadap para bekas anak buah beliau dan masyarakat yang kurang mampu, beliau selalu memberikan perhatian yang besar. Ini bisa kita lihat dari gagasan-gagasan beliau untuk mendirikan berbagai yayasan sosial, antara lain Yayasan Trikora, dan Yayasan Supersemar. Semua itu tentunya menunjukkan betapa besarnya rasa kesetiakawanan, dan rasa kemanusiaan beliau. Semua yayasan yang didirikan beliau ber­ tujuan urituk membantu seluruh anggota masyarakat agar dapat ikut merasakan kesejahteraan lahir batin.
Untuk menyebutkan segi yang tidak menarik dari pribadi Pak Harto nampaknya hampir-hampir tidak ada. Kalaupun ada, barangkali, kalau beliau sedang batuk, yang tampaknya bersumber dari alergi di tenggorokan. Kalau melihat Pak Harto sedang batuk, langsung muncul rasa iba hati saya. Karena itu, kalau beliau sudah batuk, saya hampir tidak sampai hati untuk mengetengahkan persoalan, takut kalau hal itu akan menambah beban pikiran Pak Harto. Tetapi ini hanyalah perasaan saya saja. Meskipun demikian saya pernah menganjurkan beliau untuk tidak minum cairan lain kecuali air kendi. Tetapi entahlah apakah beliau mengikuti anjuran saya atau tidak.

***

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.