SIDANG UMUM MPR RI 1998 FRAKSI MPR TENTUKAN SIKAP ATAS PERTANGGUNGJAWABAN MANDATARIS

SIDANG UMUM MPR RI 1998 FRAKSI MPR TENTUKAN SIKAP ATAS PERTANGGUNGJAWABAN MANDATARIS[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

LIMA fraksi di MPR kemarin telah menyampaikan pemandangan umum atas berbagai Rancangan Ketetapan (Rantap) MPR yang telah disiapkan Badan Pekerja (BP) MPR dalam rapat paripurna keenam.

Hari ini Sidang Umum (SU) MPR kembali akan menggelar rapat paripurna ketujuh yang beracara pokok pemandangan umum fraksi-fraksi atas laporan/pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandataris Soeharto.

Seperti dalam rapat-rapat sebelumnya, rapat paripurna MPR, keenam yang berlangsung pagi hingga petang kemarin berjalan lancar dan aman. Kelima fraksi telah mengungkapkan pandangan tentang berbagai hal yang telah dituangkan dalam Rantap­ Rantap MPR hasil musyawarah mufakat di BP-MPR.

Dari suara-suara yang dikumandangkan kelima fraksi, pemandangan umum mereka rata-rata seragam bernuansa ekonomi dan politik. Masalah ekonomi mereka sorot, sebab situasi moneter sekarang ini-yang dampaknya betul-betul menyakitkan rakyat-sedikit banyak telah “mengganggu” kehidupan sosial politik.

Simak misalnya pemandangan umum Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP). Melalui juru bicaranya Endim A.J. Soefihara, fraksi ini menyebut krisis ekonomi tersebut sebagai musibah. F-PP, katanya, memahami betul betapa susahnya hidup di tengah langka dan mahalnya harga dan barang-barang kebutuhan pokok, di tengah melangitnya harga obat-obatan, di tengah melambungnya harga kertas, di tengah susahnya mencari pekerjaan dan sempitnya kesempatan berusaha; serta di tengah tidak menentunya iklim perekonomian nasional.

Fraksi ini mengajak semua pihak untuk merenung secara tawadu dan mawas diri. Bangsa ini dianugrahi tanah air yang subur “gemah ripah lohjinawi,” alam yang ramah dengan matahari dan hujan yang cukup, laksana zamrud khatulistiwa, masyarakat yang agamis, berbudaya dengan falsafah hidupnya yang luhur.

F-PP mengingatkan menghadapi krisis yang sangat hebat ini-bahkan telah memperlihatkan tanda-tanda ke arah munculnya krisis kepercayaan terhadap pemerintah “tidak pada tempatnya kita menyalahkan satu sama lain.” Juga tidak pada tempatnya kita menyederhanakan persoalan dengan mengabaikan kenyataan betapa penderitaan rakyat telah meningkat berlipat ganda dalam bulan-bulan terakhir Fraksi Karya Pembangunan (F-KP) pun, seperti diungkapkan juru bicara Andi Mattalatta, sepenuhnya menyadari bahwa pelaksanaan Ketetapan MPR 1998 yang kelak dihasilkan Sidang Umum MPR, berada dalam situasi dan kondisi yang diliputi rasa keprihatinan yang sangat dalam.

Itu berarti, siapa pun yang kelak memimpin negeri ini, bakal menghadapi tantangan dan ujian berat. Ketiga organisasi kekuatan sosial politik (orsospol) telah bersepakat mencalonkan kembali Pak Harto sebagai presiden untuk masa bakti 1998-2003, dan B.J. Habibie sebagai wakil presiden. Itu berarti kedua tokoh ini, beserta para menteri Kabinet Pembangunan VII, bakal mendapat “PR”(pekerjaan rumah) mahaberat.

Namun kelima fraksi dalam pemandangan umumnya optimistis Pak Harto dengan pasukannya di kabinet-dengan partisipasi rakyat tentunya-akan mampu mengantarkan bangsa ini kepada kondisi sebelum kita mengalami krisis moneter. Lagi pula bukankah Pak Harto dalam pidato pertangungjawabannya selaku mandataris MPR telah mengungkapkan berbagai kiat untuk mengatasi cobaan yang kini tengah dihadapi bangsa Indonesia.

Maka wajar jika sejumlah fraksi, seperti F-KP dan F-UD dalam pemandangan umumnya kemarin telah menyebut-nyebut Pak Harto dan Habibie, masing-masing sebagai calon presiden dan wakil presiden periode lima tahun mendatang.

Meskipun jadwal untuk menyampaikan pemandangan umum atas pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR bam akan berlangsung pagi dan sore nanti, dalam pemandangan umumnya yang disampaikan juru bicaranya Muladi petang kemarin, F-UD secara tersirat bahkan telah menerima pertanggungjawaban Presdien/ Mandataris  MPR  Soeharto.

Pidato pertanggungjawaban yang telah disampaikan Pak Harto pada hari pertama SU-MPR hari Minggu (1/3) lalu, dinilai F-UD mengandung kejujuran politik dan realistik.

Bagaimana dengan F-PDI dan F-PP? Kita tunggu saja hari ini. Kabarnya, isi pemandangan umum kedua fraksi ini tentang pidato pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR cukup seru. (Gty/D-12)

Sumber: MEDIA INDONESIA (04/03/98)

______________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 182-183.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.