SIAPKAN DAERAH PENEMPATAN TRANSMIGRAN SEBAIK ­ BAIKNYA

SIAPKAN DAERAH PENEMPATAN TRANSMIGRAN SEBAIK ­ BAIKNYA

 

 

PESAN PRESIDEN :

 

Presiden Soeharto dengan tegas mengingatkan kepada aparat transmigrasi agar dalam menyiapkan daerah penempatan transmigran dilaksanakan sebaik-baiknya, termasuk pemilihan lahan yang tepat, status tanah yang jelas.

Prasarana dan sarana minimal bagi kehidupan mereka “Saudara-saudara saya minta hal ini mendapat perhatian sungguh-sungguh karena ia menyangkut harapan hidup setiap transmigran”.

Demikian Kepala Negara ketika menutup Rapat Kerja Departemen Transmigrasi, Sabtu di Istana Negara.

Menurut Presiden Soeharto, pemindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain, tidak lain supaya di tempat yang baru itu para transmigran benar-benar merasakan kehidupan baru yang lebih baik untuk hari depan mereka. Dengan demikian tidak lagi ada transmigran yang kembali ke daerah asal.

Di lain pihak, daerah transmigran yang berkembang baik selain akan mengembangkan ekonomi daerahjuga menarik transmigran swakarsa. Pada gilirannya melalui transmigrasi itu pula dapat menunjang pembangunan daerah baru dengan terciptanya lapangan kerja, tambahan tenaga kerja dan pertumbuhan produksi.

“Untuk itu program transmigrasi yang telah disusun supaya dilaksanakan sebaik­baiknya sesuai dengan rencana yang telah digariskan. Karena pelaksanaan program transmigrasi mencakup berbagai Departemen dan Instansi, saya minta agar diadakan koordinasi yang mantap,” tegas Presiden Soeharto.

Dikatakan bahwa pelaksanaan transmigrasi menyangkut segi-segi sangat luas. Pelaksanaannya tidak boleh dianggap berdiri terpisah dari kegiatan pembangunan umumnya, melainkan harus terpadu dengan pembangunan prasarana, pertanian, pembangunan daerah, pembangunan industri dan lain-lainnya.

Kepuasan Batin.

Kepada Departemen Transmigrasi, Presiden Soeharto mengingatkan perlunya terus mengkonsolidasi diri agar tugas yang makin berat dan makin rumit di masa mendatang dapat dilaksanakan dengan baik.

“Tugas saudara-saudara memang tidak ringan karena pekerjaan itu menyangkut perbaikan kehidupan manusia. Ini tentu meminta ketekunan bekerja dan kecintaan kepada sesama manusia” ujar Kepala Negara. Namun ia pun percaya kepuasan batin akan dirasakan jika pekerjaan seperti itu dapat berhasil baik.

Pada awal sambutannya Presiden Soeharto menjelaskan adanya kenyataan jumlah penduduk. Indonesia sebesar 160 juta jiwa yang penyebarannya tidak seimbang.

Sebagian besar penduduk tinggal di pulau relatif kecil di Jawa, Bali dan Lombok. Sedang pulau-pulau besar seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Irian Jaya penduduknya sangat tipis. Masalah lain, sebagian berpenduduk hidup di sektor pertanian. Khususnya petani di Jawa, Bali dan Lombok kini tanah garapannya semakin sempit.

Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui transmigrasi. Selain itu, program tersebut juga penting untuk meningkatkan penyebaran tenaga kerja serta pembukaan dan pengembangan daerah baru terutama daerah pertanian. Lebih-lebih dalam Repelita IV ini transmigrasi menjadi semakin penting lagi untuk ikut menciptakan kerangka landasan menuju masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila.

Sebelumnya, Menteri Transmigrasi Martono melaporkan, Raker yang berlangsung dari tanggal 21 sampai 24 Mei 1984 berhasil merumuskan beberapa masalah. Antara lain, meningkatkan koordinasi vertikal dan horisontal, pelaksanaan transmigrasi swakarsa dan upaya peningkatan jumlah transmigrasi dibarengi dengan peningkatan mutu pelayanan.

Jajaran Departemen Transmigrasi, kata Martono sudah sama-sama bertekad melaksanakan program transmigrasi sehingga para transmigran betul-betul merasa betah, aman dan tentram di tempat yang baru.

Dikatakan, dalam Repelita IV ini 3,73 juta harus ditransmigrasikan. Pola transmigrasi sebanyak itu memang belum pernah dilakukan di dunia manapun. Indonesia akan menjadi negara pertama dalam pelaksanaan program transmigrasi besar-besaran. (RA)

 

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (28/05/1984)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 948-949.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.