SETIAP MUSLIM HARUS PUNYA DAYA KONTROL YANG KUAT TERHADAP DIRI SENDIRI

SETIAP MUSLIM HARUS PUNYA DAYA KONTROL YANG KUAT TERHADAP DIRI SENDIRI [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto bersama Wakil Presiden Hamengkubuwono dan puluhan ribu ummat Islam kemarin telah menunaikan ibadah sholat Iedul Adha di Masjid Istiqlal, masjid termegah di Asia Tenggara yang kini terus dalam penyelesaian.

Dalam sholat tersebut juga ikut serta Ketua DPR/MPR Adam Malik, sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan, Kepala2 Perwakilan Diplomatik yang beragama Islam serta pejabat2 tinggi negara lainnya.

Sebelum upacara sholat dimulai pada 7.30, ummat Islam lbukota dan sekitarnya sejak pukul 06.00 sudah mulai berdatangan memenuhi lantai bawah masjid maupun tiga lantai di atasnya yang melingkari lantai utama mesjid itu.

Mereka menggemakan takbir sampai upacara sholat yang diimami oleh KH. Zaini Miftah dimulai.

Menteri Agama ad interim Mintaredja SH dalam khotbahnya mengambil thema “Kesadaran Sosial Dalam Amaliah Islam”. Dikemukakan Iedul Adha, hari raya kurban dan hari raya Haji yang berakar dari sejarah Nabi Ibrahim dan Istrinya Siti Hajar serta putra tunggalnya Ismail itu banyak mengandung makna rohani dan taburan hikmah.

Kepasrahan, ketaatan dan kesediaan Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail berkurban harus diresapi agar setiap muslim memiliki daya kontrol yang kuat terhadap diri sendiri, sehingga diri pribadinya selalu dapat berbuat kebajikan terhadap Tuhan dan sesama manusia, serta menjauhkan diri dari segala bentuk penyelewengan yang merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun ini, kaum wanitanya penting meneladani jejak langkah Siti Hajar. Hal ini mengingat pembangunan itu bagaimanapun juga memerlukan partisipasi dan semangat pengorbanan yang tinggi dari kaum wanitanya.

“Wanita sebagai isteri yang setia akan menciptakan stabilitas rumah tangga. Wanita sebagai ibu yang pandai menjaga keselamatan dan pendidikan anak2nya, akan melahirkan generasi muda bangsa yang sehat dan berakhlak. Wanita sebagai kekasih suami yang tabah dan tahan menderita, akan menciptakan suami2 yang jujur, disiplin dan bertanggungjawab. Wanita dengan iman yang kuat akan menjadi tiang yang kokoh bagi negara dan bangsa,” kata Menteri Mintaredja.

Selanjutnya diharapkan agar generasi muda mencontoh jejak Ismail. Bagi bangsa Indonesia yang bertekad meneruskan usaha pembangunan ini, karya2 yang besar dari generasi muda jelas sangat diharapkan.

Dikatakan pembangunan bukan tanggungjawab generasi tua atau mereka yang duduk di Pemerintahan saja, tetapi juga tanggungjawab generasi muda.

Sumber: SUARA KARYA (22/11/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 534-535.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.