Serangan Umum 1 Maret 1949

Serangan Umum 1 Maret 1949[1]

 

SI-JARA keras dan lantang Belanda itu dibungkam oleh Letnan Kolonel Soeharto bersama dua ribu prajurit TNI, Polisi, Laskar Pejuang, dan masyarakat Yogyakarta—menyerang markas dan pos tentara Belanda di Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Serangan itu berhasil menduduki kota Yogyakarta selama enam jam.

Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret disaksikan oleh delegasi Komisi Tiga Negara (KTN) yang sedang berada di Yogyakarta, dan diberitakan ke berbagai penjuru dunia, hingga masyarakat internasional mengetahui bahwa Belanda adalah agresor yang bermaksud mengkolonisasi Indonesia kembali, yang selama ini Belanda berbohong, menyebar hoax; Republik Indonesia sudah selesai— -sudah tidak ada.

Mengenai keberhasilan Serangan Umum 1 Maret, Jenderal AH Nasution menuliskan di buku “Memenuhi Panggilan Tugas” jilid 2 halaman 135 sebagai :

“Waktu Komandan Brigade X berkunjung ke posko saya, saya tidak menduga bahwa sekian besar jumlah pasukan yang bisa dikerahkannya sekaligus. Pak Dirman puas sekali dengan keadaan di Yogyakarta. Dalam satu surat beliau kepada saya, disebutkan bahwa Letnan Kolonel Soeharto adalah sebagai ‘bunga pertempuran’.”

Dampak berantai dari serangan itu, selain membongkar hoax Belanda, adalah memaksa Belanda kembali ke meja perundingan.

Hasil perundingan Roem-Royen salah satunya adalah gencatan senjata, Belanda harus meninggalkan Yogyakarta dan daerah republik seluruhnya, serta puncaknya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh pemerintah Belanda.

Setelah Belanda meninggalkan Yogyakarta, 29 Juni 1949— -pada 7 Juli 1945, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, para Menteri yang ditawan oleh Belanda dan diasingkan di pulau Bangka, tiba kembali di Yogyakarta.

Termasuk kembali ke Yogyakarta Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Syafrudin Prawiranegara pada 10 juli 1945.

Pada waktu tentara Belanda melakukan agresi militer kedua, 19 Desember 1948, Jenderal Soedirman masih terbaring sakit setelah operasi paru-paru. Mendengar raungan pesawat tempur Belanda membombardir Yogyakarta, ia bangkit dari tempat tidur dan memerintahkan Kapten Tjokropranolo ke Gedung Agung meminta penjelasan atau sikap pemerintah atas agresi itu.

Dua jam berlalu Kapten Tjokro belum juga kembali hingga Pak Dirman memutuskan datang ke Gedung Agung. Dengan dipapah oleh ajudan Kapten Suparjo Rustam dan pengawal, Pak Dirman masuk ke Gedung Agung dan bertemu dengan Presiden Soekarno.

Presiden Soekarno belum bisa memberi penjelasan karena harus diputuskan dalam sidang kabinet yang masih menunggu Wakil Presiden Mohammad Hatta yang berada di Kaliurang.

Tidak menunggu penjelasan pemerintah, Pak Dirman meninggalkan Gedung Agung, dan meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin perang gerilya. Lebih dari 1000 kilometer rute gerilya Pak Dirman yang ditempuh dengan berjalan kaki, naik andong, dan diusung di atas tandu, dalam kondisi kesehatan yang memprihatinkan.

Meskipun Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Kolonel Gatot Soebroto telah mengirim surat meminta Pak Dirman segera kembali ke Yogyakarta, namun Jenderal Soedirman bergeming.***

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 14-16.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.