SOEHARTO AMBIL PUTUSAN SEPIHAK

SOEHARTO AMBIL PUTUSAN SEPIHAK[1]

 

Jakarta, Merdeka

KITA sulit menduga bagaimana isi hati dan perasaan Pak Harto saat-saat terakhir akan meletakkan jabatan yang dipegangnya selama 32 tahun, Kamis pagi pukul 09.08 kemarin. Yang bisa kita lihat, pria berusia 77 tahun itu tetap berdiri tegak, dengan suara yang jelas dan berirama datar, mengumumkan sendiri pernyataan berhenti dari jabatannya.

Menurat Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra yang di hari-hari belakangan ini sering keluar masuk Istana, pernyataan Pak Harto berhenti dari jabatan presiden itu merupakan keputusan sepihak, sah, konstitusional, karena itu tidak memerlukan persetujuaan dari siapa pun termasuk DPR.

“Pak Harto menyatakan berhenti, bukan memohon berhenti.” katanya.

Pak Harto pun tersenyum ketika menyalami penggantinya BJ Habibie. Juga ketika menyalami para ketua Mahkamah Agung yang menyaksikan pembacaan sumpah jabatan presiden baru itu. Pak Harto lantas mengangkat tangan ke arah wartawan. Pak Harto dan putri sulungnya Ny. Siti Hardiyanti Rukmana juga tersenyum ketika akan naik mobil pribadi, meninggalkan Istana Negara menuju kediaman Jalan Cendana.

Tapi tidak tersenyum bagi yang menyaksikan detik-detik dibacakannya pernyataan berhenti itu, baik yang menonton lewat TV maupun yang melihatnya langsung di Istana Negara. Baik bagi yang selama ini dekat dengannya maupun yang selama ini tidak dekat dengannya. Untuk sesaat semenit itu, semuanya diam dengan perasaannya masing-masing. BJ Habibie yang menggantikannya dengan proses pengangkatan yang simple dan sederhana tak bisa menyembunyikan ketegangannya. Namun saat mengucapkan sumpah jabatan, dia berhasil menata nafas dan irama suaranya. Para Ketua Mahkamah Agung yang disalami Pak Harto seusai mengambil sumpah jabatan Presiden baru itu juga kelihatan tegang dan haru.

Keputusan Pak Harto berhenti dari jabatan Presiden itu memang terasa amat cepat. Dua hari sebelumnya, setelah bertemu dengan sembilan tokoh masyarakat, dia masih berpendirian akan terus memegang jabatan presiden dan memimpin reformasi yang dituntut masyarakat. Dia masih berpendirian tidak meletakkan jabatan, tapi ‘hanya’ akan mereshuffle kabinet, dan membentuk Komite Reformasi.

Rabu, sehari sebelum meletakkan jabatan, pemerintahan Presiden Soeharto masih mengumumkan bahwa Kamis kemarin nama-nama anggota Komite Reformasi akan diumumkan. Itu berarti, keputusan untuk berhenti dari jabatan presiden ‘diproses’ amat cepat hanya beberapa jam saja. Tepatnya pada sekitar Rabu sore hingga malam harinya. Pada saat itu, di gedung DPR/MPR Senayan ratusan ribu massa sebagian besar mahasiswa berkumpul danterus menuntut reformasi dilakukan secepatnya. Para pemimpin dan anggota dewan juga mengambil sikap yang sama.

Kita belum tahu, bagaimana persisnya keputusan berhenti itu diambil. Apakah karena sejumlah orang melakukan desakan langsung di hadapan Pak Harto, atau Pak Harto sendiri yang mengambil prakarsa setelah dengan cermat mengikuti perkembangan terakhir.

Kita juga belum tahu bagaimana persisnya proses keputusan langsung menjadikan Habibie sebagai pengganti Pak Harto itu langsung. Kita tentu tidak mempermasalahkan legalitas naiknya Wapres menjadi Presiden karena memang ada konstitusi yang mengatur.

Yang kita tidak tahu ialah, apakah pengangkatan langsung Habibie itu diputuskan setelah mendengar pertimbangan dewan dan lembaga serta komponen lain yang memiliki kredibilitas baik, yang dikemudian hari bisa diharapkan memberikan dukungan pada presiden yang baru itu.

Jika disimak dari penjelasan yang disampaikan Pak Harto pada saat menyatakan berhenti, keputusan langsung mengangkat Habibie itu tampak lebih didominasi oleh prakarsa Pak Harto sendiri setelah melewati proses pertimbangan yang masak dan pelik.

Siapa pun yang memberi masukan atau desakan ketika proses pengambilan keputusan itu berlangsung, tampaknya kendali tetap di tangan Pak Harto. Ini tercermin dari keputusan politik yang otomatis menyertai pernyataan berhenti itu. Yakni tampilnya Habibie menjadi Presiden yang selama ini juga dikenal sebagai orang terdekat Pak Harto, dan kemudian langsung adanya jaminan dari Panglima ABRI terhadap keselamatan dankehormatan mantan Presiden mandataris MPR, termasuk Pak Harto dan keluarganya.

Keputusan yang diambil Pak Harto tersebut dari sisi hukum ketatanegaraan dinilai banyak pihak telah memenuhi syarat legalitas dan formalitas konstitusi, khususnya pasal 8 UUD’45. Berbagai kalangan juga menyambut baik dan merasa lega dengan turun tahtanya Pak Harto.

Namun, ada sisi lain yang oleh sebagian kalangan dinilai memeRIukan pencermatan khusus. Yakni, pola pergantian langsung ke Habibie tadi. Sekali lagi, bukan karena penggantian itu tidak memenuhi syarat konstitusional tapi ada realitas politik masyarakat yang memperdebatkan pola pergantian itu. Pengamat politik Mochtar Pabottinggi, misalnya menilai bahwa yang terjadi kemarin itu adalah pergantian figure kepemimpinan nasional, tapi belum menunjukkan pergantian rezimnya.

Amien Rais, salah satu tokoh simbol gerakan reformasi pun menyambut baik pernyataan berhenti Pak Harto. Namun demikian, dia juga tidak bisa secara serta merta langsung mendukung kepemimpinan Habibie. Amien menunggu sampai Habibie menunjukkan bukti berupa sikap dan kebijaksanaan menjalankan reformasi sesuai dengan kehendak rakyat. Produk jangka pendek yang diharapkan segera terlihat ialah terbentuknya kabinet yang terpercaya dan bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), serta terselenggaranya pemilu yang benar-benar berlangsung demokratis dalam waktu enam bulan sampai satu tahun mendatang.

Ketua Fraksi terbesar DPR (FKP) Irsyad Sudiro juga mengatakan bahwa realitas politik di masyarakat harus tetap diperhatikan berkaitan dengan pergantian Presiden dari Pak Harto ke Habibie. Karena itu, pihaknya akan terus memantau perkembangan, dan membuka peluang-peluang baru untuk menyempurnakan keputusan politik yang sudah terjadi sekarang ini. Alternatifnya, bisa selesai seperti sekarang, bisa juga ada kemungkinan menggelar Sidang Istimewa MPR yang akan ditentukan oleh interaksi real politik yang berkembang. Itulah yang harus diperhitungkan Habibie. (Tim Merdeka/MG)

Sumber : MERDEKA (22/05/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 477-479.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.