SENI RUPA KONTEMPORER ISLAMI TAK HANYA BERUPA KALIGRAFI

SENI RUPA KONTEMPORER ISLAMI TAK HANYA BERUPA KALIGRAFI[1]

 

Jakarta, Antara

Senirupa kontemporer Islami tidak hanya berupa kaligrafi, tetapi juga berupa seni rupa yang figuratif dan simbolik yang mengandung nilai untuk mendukung kemaslahatan manusia, kata Merwan Yusuf, anggota Dewan Kurator Pameran Seni Rupa Kontemporer Islami.

“Kaligrafi merupakan salah satu bagian dari seni rupa kontemporer Islami. Seni rupa kontemporer Islami juga mencakup pada gaya lukisan ekspresif, simbolis, hingga instrumental, baik realisme maupun surealisme.” katanya dalam jumpa pers Sabtu, sehubungan dengan rencana Pameran Seni Rupa Kontemporer Islami yang dibuka 20 April di Taman Mini Indonesia Indah.

Pembukaan pameran itu berbarengan dengan diresmikannya Museum Istiqlal dan Bayt Al-Qur’an oleh Presiden Soeharto di lokasi Taman Mini Indonesia Indah.

Dalam pameran yang berlangsung selama tiga bulan tersebut akan dilibatkan sebanyak 200 seniman yang menghasilkan karya seni rupa kontemporer Islami.

Menurut Merwan yang meraih “Master of Fine Art” dari lembaga pendidikan di Perancis, perkembangan seni rupa kontemporer Islami di Indonesia tergolong pesat dan dapat dikatakan sedang mengalami suatu perubahan yang sangat berarti dengan karagaman karya bersangkutan, yang antara lain tercermin dalam pameran yang digelar dalam Festival Istiqlal.

Ia menambahkan, dinamika keislaman pada seni rupa kontemporer Indonesia mencakup berbagai dimensi, yaitu dimensi kesejarahan, estetik dan sosial serta kultural.

“Dimensi kesejarahan berisi gambaran dan deskripsi tentang asal-usul munculnya kecenderungan keislaman dalam seni rupa kontemporer Indonesia, tokoh-tokoh yang memulai merintis kecenderungan ini, serta perkembangan selanjutnya di masa dekade 80-an dan 90-an.” tambahnya.

Dimensi Estetik

Sedangkan dimensi estetik berisi penampilan ragam gaya, dasar-dasar konseptual yang melandasi kecenderungan seni keislaman dan perbandingannya dengan kecenderungan lainnya.

Selanjutnya, dimensi sosial dan kultural berisi uraian latar belakang sosial dan kultural yang memungkinkan munculnya kecenderungan ini serta kelanjutan di masa depan, katanya.

Ia juga mengatakan, perkembangan seni rupa kontemporer Islami yang terjadi di Indonesia merupakan yang paling mengesankan di banding dengan yang terjadi di negara Islam lainnya.

Anggota kurator lainnya, Mahmud Buchari mengatakan, perbedaan antara seni rupa Islami dan non Islami sangat jelas.

“Dalam seni rupa Islami, tidak ada lukisan yang memperlihatkan aurat seperti lukisan wanita telanjang. Lukisan Islami mengandung unsur pendidikan, etik dan estetik.” katanya.

Ditambahkan, padangan Islam terhadap soal seni juga berlainan dengan pandangan Barat.

“Dalam Islam, seniman harus mempertanggungjawabkan karyanya sekalipun karya itu telah menjadi milik umum. Tapi dalam pandangan Barat, seniman sudah tak bertanggungjawab lagi begitu karya seni itu dipublikasikan ke masyarakat.” katanya.

Sumber : ANTARA (12/04/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 790-791.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.