SEMPAT “RUSH” PEMBELIAN VALAS AKIBAT SAS-SUS PRESIDEN SOEHARTO SAKIT

SEMPAT “RUSH” PEMBELIAN VALAS AKIBAT SAS-SUS PRESIDEN SOEHARTO SAKIT[1]

 

Jakarta, Business News

Jumlah permintaan pasar terhadap valuta asing terutama US$, Sin $, D. Mark, Ringgit, Guilder dan Swiss melonjak tajam pada Kamis (4 Juli) setelah pukul 3.45. Sebagian bank swasta nasional devisa seperti BANK BCA, BANK BDNI, BANK DANAMON dan BANK BALI secara mendadak sontak “kebanjiran” order pembelian yang diajukan nasabah-nasabah besarnya dan sebagian masyarakat pemilik modal lebih. Kalangan tersebut di antaranya investor-investor luar negeri tampaknya berusaha menarik keluar dana-dana jangka pendek yang dibawanya ke sini pada bulan-bulan lalu dengan “memborong” valuta asing khususnya US $, Sin $ dan Ringgit Malaysia, dan Hongkong $. “Rush” pembelian valuta asing itu mulai timbul sekitar pukul 11.20 (4 Juli) dan menjadi lebih kuat lagi pada jam-jam berikutnya. Menyadari hal itu, bank devisa dan pedagang valuta asing pun segera menaikkan kurs jual ­beli berbagai macam valuta asing yang beredar di sini. Misalnya kurs jual US $ dari Rp.2.340,00-Rp.2.345,00 (tgl 2 Juli hingga 4 Juli pagi) melonjak menjadi Rp.2.345.00-Rp.2.350,00 p/1dolar sejak pukul 14.45. D. Mark dari Rp.1.535,00-Rp.1.541,00 menjadi Rp.1.541,00-Rp.1.549.00. Pound dari Rp.3.660.00-Rp.3.682.00 menjadi Rp.3.660.00-Rp.3.709,00,Can. $ dari Rp.1.723,00-Rp.1.746,00 menjadi Rp.1.725,00-Rp.1.760,00 dan seterusnya.

Walau minat beli masyarakat terhadap valuta asing itu kini agak mereda, tapi kurs jual-beli yang ditetapkan sebagian bank devisa dan pedagang valas relatif mantap. Misalnya BANK BCA per 6 Juli 1996 pagi (sekitar pukul 10.30)masih menawarkan Rp.2.349,00 p/1US$. Bank tersebut malah masih menaikkan kurs jual Aus.$ sebesar Rp.10,00, New Zealand$. sebesar Rp.8,00 dan Swiss Franc sebesar Rp.1,00 dibandingkan catatan 5 Juli 1996.

Akibat sas-sus Presiden Soeharto sakit

Terjadinya kasus tersebut akibat di luar tersiar kabar burung, bahwa keadaan Presiden Soeharto kurang sehat dan menjadi agak lebih “serius” pada Kamis 4 Juli itu. Tapi Menteri Negara Sekretaris Negara Drs. Moerdiono membantah berita burung tersebut sambil menambahkan, Presiden Soeharto hanya akan mengecek kesehatannya di Eropa dalam waktu dekat ini.

“Hasilnya memang cukup baik dan jumlah permintaan pasar terhadap valuta asing berkurang terutama pada Jum’at 5 Juli pukul 10.35.”

Walau situasi perekonomian dan politik di sini selama ini tampak “adem-ayem” dan nilai Rupiah pun mantap dan bahkan “menguat” pada minggu-minggu sebelumnya, namun segala-galanya cukup insensitif’. Masyarakat selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi kelak melihat banyaknya aksi-aksi unjuk rasa baik oleh karyawan yang menuntut perbaikan nasib, oleh anggota LSM, politik dan lain-lain. Juga terlambatnya pengumuman Nilai Kurs sebagai dasar pelunasan Bea Masuk, Pajak, dan lain-lain mempunyai andil dari timbulnya macam-macam pertanyaan di kalangan bisnis mengingat keputusan tersebut sudah rutin yakni diterbitkan setiap 3 (tiga) bulan.

Sumber : BUSINESS NEWS (08/07/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 341-342.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.