SEKTOR PERHUBUNGAN PADA RAPBN 1987/88

SEKTOR PERHUBUNGAN PADA RAPBN 1987/88

 

 

Sektor perhubungan dan sektor pariwisata akan mendapat anggaran pembangunan sekitar Rp 1,2 triliun sekaligus tercatat sebagai sektor prioritas utama dalam pembangunan sepanjang periode 1987/1988.

Hal itu diungkapkan Presiden Soeharto dalam pidatonya di hadapan Sidang Paripurna DPR di Jakarta, Selasa pagi.

“Pembangunan di bidang perhubungan laut, ditujukan untuk memenuhi peningkatan permintaan jasa transportasi laut guna menunjang kelancaran arus barang dan penumpang serta keterpaduan antar moda angkutan,” ungkap Kepala Negara dalam lampiran Nota Keuangan dan RAPBN 1987/1988.

Sektor ini ditujukan juga untuk mendukung terbukanya hubungan dengan daerah terpencil, serta peningkatan keselamatan pelayaran.

Pelaksanaan pembangunan dilakukan dalam peningkatan penyediaan sarana dan prasarana yang sudah ada, meliputi armada pelayaran, fasilitas pelabuhan, telekomunikasi pelayaran, fasilitas pengamanan laut/pantai, serta fasilitas jasa maritim.

Bidang pelayaran, pelaksanaan pembangunan dilakukan dengan menyempurnakan pola pelayaran samudera, nusantara, lokal, rakyat, perintis serta khusus, sesuai dengan jaringan pelayaran yang paling ekonomis.

Dengan demikian kebijaksanaan efisiensi yang dijabarkan melalui Inpres no. 4 tahun 1985 dapat tercapai.

Perhubungan Darat

Pembangunan bidang perhubungan darat meliputi pemanfaatan angkutan jalan, kereta api serta sungai, danau dan penyeberangan.

Periode 1985/1986, pembangunan bidang jalan termasuk jembatan, panjang jalan arteri dan jalan kolektor, meningkat menjadi sepanjang 40.808 km untuk mengimbangi berkembangnya jumlah kendaraan bermotor.

Jumlah kendaraan bermotor secara keseluruhan 1984 mencapai 6.817.464 buah, sedang tahun berikutnya naik menjadi 6.830.481 buah.

Demikian pula pembangunan di bidang angkutan kereta api yang tidak hanya berporos pada mutu pelayanan, tetapi juga pada efisiensi dan efektifitasnya, sehingga berfungsi sebagai angkutan yang murah.

Sementara itu angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP) dalam dua tahun terakhir Pelita IV dilakukan peningkatan pembangunan sarana/prasarana ASDP dalam bentuk pengadaan kapal, pembangunan dermaga, terminal dan penambahan fasilitas keselamatan pelayaran.

Perhubungan Udara

Bidang perhubungan udara, peningkatan frekuensi penerbangan, kemampuan landasan udara, peralatan keselamatan penerbangan, serta penambahan dan peremajaan armada kapal terbang. Dengan demikian, peningkatan pelayanan jasa perhubungan udara, terutama komersial, haji, transmigrasi dan angkutan perintis.

Untuk mengurangi ketergantungan pemakaian peralatan dari luar negeri, secara bertahap diupayakan penggunaan peralatan penerbangan produksi IPTN, peralatan telekomunikasi antara lain seperti SSB, telepon dan peralatan listrik.

Penambahan saluran telekomunikasi antar daerah dan internasional terus dikembangkan, sehingga pada bulan Juni 1986 tercatat 190 stasiun telepon otomat (STO) dengan kapasitas 698.404 SS.

Hingga Agustus 1986, jaringan sambungan saluran jarak jauh (SLJJ) meningkat memasuki 108 kota, walaupun 23 kota di antaranya masih mendapatkan hubungan SLJJ terbatas. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 354-355.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.