SEKTOR PARIWISATA PADA RAPBN 1987/88

SEKTOR PARIWISATA PADA RAPBN 1987/88

 

 

Peranan sektor pariwisata, terutama pariwisata internasional, diharapkan dapat menjadi salah satu penghasil devisa negara yang dapat diandalkan.

Hal itu diungkapkan Presiden Soeharto dalam lampiran Nota Keuangan dan RAPBN 1987/1988, melengkapi pidatonya di hadapan sidang Paripurna DPR di Jakarta, Selasa pagi.

Peningkatan sektor ini disebabkan juga oleh potensi ganda yang dimiliki yakni sebagai pembuka lapangan kerja dan lapangan berusaha yang menunjang pertumbuhan ekonomi, serta sebagai wadah yang memperkenalkan sekaligus melestarikan alam dan kebudayaan Indonesia.

Tanpa merinci jumlah anggaran pembangunan yang akan diberikan bagi sektor ini, Presiden mengatakan sektor pariwisata dan perhubungan secara bersama akan menerima anggaran pembangunan sekitar Rp 1,2 triliun.

“Pemberian prioritas yang tinggi pada sektor ini, merupakan usaha untuk tetap memperkuat prasarana ekonomi,” katanya.

Di akhir 1985, tercatat kenaikan penerimaan devisa sejumlah 525,3 juta dolar AS, dibanding pendapatan 1984 yang hanya mencapai 519,7 juta dolar.

Sedang selama semester pertama 1986, jumlah wisatawan asing yang masuk melalui tiga pintu masuk utama-Bandara Soekarno Hatta Jakarta, Bandara Polonia-Medan serta Bandara Ngurah Rai-Denpasar-mencapai 315.801 orang.

Dibanding tahun 1985 yang hanya meraih 749.351 orang wisatawan asing dari berbagai penjuru dunia, diharapkan angka total pengunjung sepanjang 1986 akan mengalami kenaikan yang menggembirakan.

Melengkapi sarana wisata untuk menghadapi kemungkinan semakin besarnya arus wisatawan asing ke Indonesia, pembangunan beberapa hotel baru maupun rehabilitasi kamar yang sudah ada dilakukan dari tahun ke tahun.

Sepanjang 1983, tercatat sejumlah 38.627 kamar yang tersedia pada berbagai jenis hotel. Sedang kemajuan yang sangat pesat dapat dilihat pada 1984, dengan bertambahnya jumlah kamar yang tersedia menjadi 79.262 buah.

Demikian juga peningkatan yang dicapai dalam pengembangan restoran/rumah makan dan usaha jasaboga. Tahun 1984 tercatat 1.614 restoran dengan kapasitas 94.679 kursi dan 130 perusahaan jasaboga.

Pada tahun 1985, terjadi kenaikan jumlah yang cukup besar yakni tercatat 2.111 restoran dengan kapasitas 110.833 kursi dan 131 perusahaan jasaboga.

Menurut Presiden, beberapa perkembangan yang terjadi di sektor pariwisata itu membawa dampak positif berupa tertampungnya sejumlah besar tenaga kerja.

Tahun 1983 tercatat 113.928 pekerja yang tertampung dengan adanya penambahan hotel/kamar. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 165.321 tahun 1985, selain jumlah yang tertampung akibat peningkatan aktivitas biro perjalanan, restoran dan jasaboga.

Pengenalan obyek daerah tujuan wisata terus dikembangkan melalui peningkatan promosi, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain itu kemudahan bebas visa bagi kunjungan yang tidak melebihi waktu dua bulan, diberikan kepada masyarakat dari 28 negara tertentu. Sedang jumlah pintu masuk bagi wisatawan asing diperbanyak dengan lima pintu lagi, di samping tiga pintu utama yang sudah ada sebelumnya. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/01/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 353-354.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.