Sejarah Pembentukan TNI

Sejarah Pembentukan TNI[1]

 

PADA tanggal 5 Oktober 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan menetapkan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat Letnan Jenderal. Keesokan harinya, 6 Oktober, Supriyadi ditetapkan sebagai Panglima TKR dengan pangkat Jenderal.

Supriyadi adalah mantan opsir Pembela Tanah Air (PETA) sebagai Chudanco (komandan kompi), namanya mencuat menjadi populer setelah ia memimpin pemberontakan PETA di Blitar pada Februari 1945. Sedangkan Oerip mantan opsir KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger) dengan pangkat Mayor.

Oerip adalah orang Indonesia yang paling senior di KNIL dan sudah berdinas selama 25 tahun. Dengan kapasitas sekaligus kapabilitasnya sebagai opsir KNIL yang sangat mumpuni dalam bidang kemiliteran, bukan tidak mungkin jika Oerip merasa dikerdilkan atau dimarjinalkan atas penunjukan Supriyadi sebagai Panglima TKR sedangkan Oerip sendiri hanya menjadi Kepala Staf.

Pada waktu itu ada anggapan pada KNIL sebagai tentara kolonial Belanda yang perannya bukan menghadapi musuh dari luar melainkan melakukan represi ke dalam. Opsir KNIL tercemar karena dianggap tentara bayaran yang melakukan tindakan anasionalis. Selain itu, opsir KNIL terstigma sebagai kolaborator Belanda. Sedangkan opsir PETA setidaknya punya citra sebagai tentara patriotik meskipun dibentuk oleh fasisme Jepang.

Selain itu, Opsir PETA distigma sebagai “perwira jadi-jadian” yang dihasilkan hanya berdasarkan latihan militer beberapa bulan (latihan militer PETA 4 sampai 6 bulan)—bukan dari akademi militer (KMA 3 tahun). Karenanya, opsir PETA dianggap minim pengetahuan dan strategi kemiliteran.

Perbedaan lainnya; jika opsir KNIL mengangkat sumpali setia pada Ratu Belanda, opsir PETA tidak ada ikatan apapun dengan Tenno Heika.

Gesekan atau “perseteruan senyap” antara mantan opsir PETA dan opsir KNIL yang terjadi di awal pembentukan tentara terus mewarnai jalan sejarah Tentara Indonesia.

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 5-6.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.