SEGALA PERBEDAAN DISELESAIKAN DENGAN DAMAI

SEGALA PERBEDAAN DISELESAIKAN DENGAN DAMAI

Pernyataan Bersama Soeharto – Van Dong :

Presiden Soeharto dan PM Pham Van Dong dalam pernyataan bersama mereka menyatakan sepakat segala perbedaan diantara negara2 di Asia Tenggara harus diselesaikan dengan jalan damai, saling mengerti dan tanpa campur tangan dari luar.

Pernyataan bersama yang memuat 19 pasal itu ditandatangani oleh kedua Kepala Pemerintahan, PM Republik Sosialis Vietnam Pham Yan Dong dan Presiden Soeharto di Istana Merdeka hari Sabtu kemarin, sesaat sebelum PM mengadakan konferensi persnya.

Mengenai hubungan bilateral disebutkan, bahwa kedua pemimpin setuju untuk meneruskan pembahasan atas kemungkinan2 mendatang mengenai persetujuan kerjasama ekonomi, ilmu pengetahuan, teknik.

Mereka juga setuju untuk melanjutkan pertemuan2 untuk mencari persetujuan akhir mengenai batas landas kontinen yang relevan terhadap perundang-undangan nasional dan hukum internasional serta kebiasaan2nya.

Mereka juga menyatakan keinginannya untuk mengirimkan utusan2 masing2 untuk menyelesaikan pembicaraan bagi penandatanganan persetujuan pos dan telekomunikasi dalam waktu dekat ini.

Kedua pemimpin menyatakan rasa kepuasan mereka atas perkembangan hubungan bilateral antara RI dan RSV.

Damai, Bebas dan Netral

Kedua Kepala Pemerintahan telah mengutarakan pandangan2nya mengenai Asia Tenggara sebagai daerah damai merdeka bebas dan netral, untuk itu Presiden Soeharto menyatakan, bahwa Indonesia telah kommit terhadap konsep ASEAN bagi suatu daerah yang damai, bebas dan netral.

Kedua pemimpin juga sependapat, bahwa tugas utama rakyat Asia Tenggara adalah untuk meningkatkan pembangunan ekonomi mereka bagi mencapai kehidupan yang lebih baik dan meningkatkan usaha perdamaian dan stabilitas wilayah ini.

Dengan menyadari akan pentingnya perdamaian dan stabilitas bagi pembangunan di negara masing2 dan wilayah Asia Tenggara, kedua Kepala Pemerintahan menyatakan tekad mereka untuk secara tegas menghormati kemerdekaan, kedaulatan, integritas tentorial dan sistem politik masing2 menghindarkan penggunaan senjata atau mengancam penggunaan senjata dalam hubungan bilateralnya, menghindari campur tangan kedalam masalah dalam negeri dan menjalankan kegiatan subversi secara terang2an atau tersembunyi terhadap yang lain.

Menyelesaikan perbedaan diantara kedua belah pihak secara damai melalui perundingan dalam semangat, persamaan, saling mengerti dan saling menghormati.

Non-Alignment

Kedua pemimpin juga menyatakan kembali akan komitment mereka terhadap prinsip2 non-alignment. Sehingga gerakan ini akan dapat melanjutkan dan meningkatkan peranannya yang penting sebagai kekuatan kemerdekaan dalam arena internasional.

Juga telah dicatat dengan rasa puas, bahwa dengan susah payah lelah bekerja kearah konsolidasi kedaulatan politik dan ekonomi para anggota2nya dan bagi pembentukan satu Orde Ekonomi Internasional Baru.

Dalam pernyataan bersama itu juga disebutkan, bahwa PM Vietnam atas nama Presiden Republik Sosialis Vietnam telah mengundang Presiden dan lbu Tien Soeharto untuk berkunjung ke Vietnam pada suatu waktu yang dianggap paling baik. Undangan ini diterima baik oleh Presiden.

Akrab

Presiden Soeharto dan PM Pham Van Dong nampak "berpelukan" akrab dan hangat segera setelah menandatangani pemyataan bersama, Sabtu pagi lalu, di Ruang Jepara Istana Merdeka.

Penandatanganan sebuah pernyataan bersama setelah kunjungan resmi seorang kepala negara di depan wartawan seperti yang terjadi Sabtu lalu itu, jarang terjadi sepanjang ingatan orang.

Dalam suasana yang nampak penuh persahabatan dan saling pengertian Presiden Soeharto berdampingan dengan PM Pham Van Dong memasuki ruang Jepara, yang telah dinantikan oleh anggota delegasi kedua pihak.

Dari pihak Indonesia nampak menyaksikan acara itu, Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Sesneg Soedharmono serta sejumlah pejabat tinggi Deplu dan Dubes RI untuk Vietnam Hardi SH.

Sementara dari pihak Vietnam nampak, Wakil Menlu Phan Hien, Menteri Perdagangan Luar Negeri Dang Viet Chao, serta Dubes Vietnam untuk RI Tranh My.

Setelah kedua Kepala Pemerintahan itu mengambil tempat duduk dibelakang meja yang diatasnya telah tersedia dua naskah pernyataan, tanpa basa basi yang rumit, Kepala Protokol Negara Joop Ave mempersilahkan kedua negarawan itu membubuhkan tanda tangannya.

Segera setelah itu, kedua pemimpin Asia Tenggara itu berdiri dan saling menukar dokumen yang telah mereka tanda tangani dibarengi dengan bersalaman.

Kemudian diluar dugaan wartawan yang nampak mengerumuni acara itu, kedua negarawan itu berdekapan dengan akrab sampai pipi mereka bertemu. Tepuk tanganpun berderai memenuhi ruang Jepara.

Menjelang jam 09.00, tamu negara itu berkenan mengadakan pertemuan dengan pers di Wisma Negara. Pham Van Dong yang semula dianggap sangat mahal senyum seperti pada upacara kedatangannya di Halim Perdanakusumah, dalam acara itu nampak cukup ramah.

Selama tahun-tahun terakhir ini belum ada seorang tamu negara pun yang memberikan jawaban wartawan sambil berdiri, seperti halnya wartawan setiap mengajukan pertanyaan.

Bila wartawan bertanya, Van Dong duduk, setelah pertanyaan diterjemahkan kedalam bahasa Vietnam, ia segera berdiri dan menjawab dengan singkat dan padat. Walaupun banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara langsung.

Ia nampak nya berusaha memberikan kepuasan kepada semua penanya, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab ia memberikan penjelasan yang sangat diplomatis. Kadang-kadang bergurau.

Pada akhir kunjungan, seorang tamu negara bersalaman dengan Kepala Pelayan lstana adalah biasa, tapi bersalaman dan foto bersama dengan hampir semua pelayan dan sopir yang melayani rombongannya jarang. Tapi ini dilakukan oleh PM yang lanjut usia itu.

Sebelum ia berpamit dengan Kepala Negara dan lbu Tien Soeharto di Istana Merdeka, Dong menyempatkan diri untuk bersalaman dan foto bersama dengan hampir semua sopir dan pelayan di Wisma Negara.

Kepada mereka Van Dong berkata,

"tanpa bantuan kalian, kunjungan saya ini tidak akan mencapai sukses."

Setelah pamitan di Istana Merdeka, lbu Tien Soeharto mengantar tamunya sampai tangga depan Istana yang diakhiri dengan foto bersama serta bersalaman.

Kemudian dengan didampingi Presiden Soeharto dalam iring-iringan kenegaraan menuju Halim Perdana Kusuma.

Dalam satu upacara kebesaran negara, PM Pham Van Dong dilepas meninggalkan Indonesia, pulang kenegerinya. (DTS)

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (25/09/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 725-728.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.