SEBUAH GAGASAN MONOLOG TENTANG SOEHARTO ‘DARI KEKUASAAN MENGALIR AIR MATA’’

SEBUAH GAGASAN MONOLOG TENTANG SOEHARTO ‘DARI KEKUASAAN MENGALIR AIR MATA’’[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

SEORANG pekerja teater kini tengah bekerja keras Ia tengah menyusun naskah monolog tentang perjalanan politik Soeharto ketika menjabat presiden hingga sesudah lengser keprabon. Naskah itu akan digelarnya di panggung teater untuk tontonan umum dalam waktu dekat.

Satu hal yang mendorong pekerja teater itu harus secepatnya menyelesaikan karya seninya, menurut anggapannya, karena antusias masyarakat kini sedang meluap-luap untuk mengetahui segala sesuatu yang menyangkut Soeharto.

“Tidak ada salahnya kalau dunia kesenian turut melayani masyarakat atas kehausan informasi tentang mantan presidennya. Lagi pula teaterkan juga berfungsi sebagai pencatat budaya masyarakatnya.” kata pekerja teater yang namanya diminta dirahasiakan itu.

Selain karena dorongan tersebut, pemimpin bangsa Indonesia yang sudah 32 tahun berkuasa itu adalah juga merupakan sosok fenomenal, unik dan tentu banyak menyimpan kisah. Sosok demikian itu pun menarik diwujudkan ke dalam naskah drama.

Bayangkan, katanya, di tengah-tengah pergaulan bebas antar bangsa-bangsa yang serba modern, Soeharto dapat dengan mudah memimpin negeri ini hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Mengapa kekuasaan yang penuh kejanggalan itu bisa. berlangsung mulus, menurut peteater ini, termasuk fenomena yang cukup unik.

Dua Penyebab

Dia berpendapat, sedikitnya ada dua penyebab sehingga memungkinkan Soeharto tidak lengser keprabon selama 32 tahun. Penyebab pertama, selain dia maruk kekuasaan, Soeharto sangat kuat, dan sebaliknya rakyat serta para politisi negeri ini rupanya tidak punya integritas alias miskin kualitas.

Penyebab kedua, Soeharto kemungkinan bukanlah orang kuat, namun konco­konconya sejak periode awal kepemimpinannya hingga Kabinet VII selalu berlomba­lomba memberinya dukungan. Tujuannya, hanya demi kepentingan pribadi dari sang anak buah, para pembantunya dan politisi yang berjiwa penjilat.

Setelah seluruh jajarannya menjauh dan kini nampaknya sedang kocar-kacir, Soeharto yang selama ini terlihat bagaikan raksasa itu ternyata bisa ambruk dan secara mengenaskan pula.

Nah, dua kemungkinan yang menyebabkan Soeharto bercokol lama di Istana Merdeka itu, di atas panggung sandiwara bisa dikembang-kembangkan sesuai dengan kebutuhan estetika panggung, ujarnya.

“Penontonlah yang tinggal menafsir-nafsirkan, kemungkinan mana yang lebih dominan sehingga Soeharto dipilih lagi, dipilih lagi, hingga tujuh kali,” ia menambahkan.

Ibarat besi panas, selagi panas akan lebih mudah dibentuk. Begitu juga naskah monolog ini, selagi tema yang dibicarakannya hangat akan makin bergairah pula membuatnya.

Satu hal lagi, ujarnya, bila penyakit lupa datang masalah yang penting seperti fenomena kekuasaan Soeharto, bisa juga terlupakan.

“Sayang bila nasib buruk bangsa yang menguras air mata dan banjir darah ini tidak dicatat dunia kesenian.”

Naskah monolog (dimainkan secara tunggal) yang sedang digarap itu untuk sementara diberi judul ‘Dari Kekuasaan Mengalir Air Mata’. Tokoh utamanya adalah Soeharto, mantan presiden Indonesia yang berhenti berkuasa sejak 21 Mei 1998 lalu.

Dilihat dari satu segi, judul ini memang terkesan melankolis dan agak senafas dengan judul-judul sinetron yang ditayangkan televisi. Tetapi dari segi lain, judul tersebut tampaknya hendak mengungkapkan kepedihan dari sekelompok masyarakat.

Tetapi pekerja teater yang tinggal di Jakarta itu berpendapat, apa pun kesan yang ditimbulkan oleh judul itu sah-sah saja. Isi naskahnya, tentu saja dimaksudkan sebagai saksi terhadap sejarah pahit suara bangsa. Pesan moralnya, agar seluruh bangsa terutama bangsa Indonesia senantiasa waspada terhadap setiap penguasa di negerinya.

Tragedi-Komedi

“Isinya jauh dari penghujatan. Tidak ada caci maki. Ini menyangkut estetika kesenian. Sebagaimana monolog, pemerannya yang tunggal bicara tentang dirinya sendiri dan lingkungannya. Karenanya, bentuknya kisah tragedi-komedi,” katanya.

Referensinya untuk memperkaya alur kisah monolog, dikatakan, tidak begitu sulit. Dia mengambil dari beragam bahan bacaan.

Sejak Soeharto jadi mantan presiden banyak beredar jenis bacaan di tengah masyarakat, berisi tentang kehidupan bisnisnya dan usaha konglomerasi anak-cucunya, termasuk sepak terjang politiknya selama berkuasa. Bacaan mengenai orang-orang yang pernah berkonco atau orang yang pernah berperan sebagai ujung tombak pembelanya, juga ‘membanjir’ di mana-mana saat ini. Ada yang resmi seperti dari buku, koran dan majalah. Ada juga bahan-bahan dari selebaran atau foto kopian dari internet.

Kisah monolog itu seluruhnya berlangsung di rumah Soeharto, yaitu setelah dia tidak presiden lagi. Menurut analisisnya, biasanya orang Indonesia yang sudah jadi mantan dari suatu jabatan, akan semakin kesepian apalagi saat ia sendirian. Soeharto yang juga sebagai seorang ayah dan kakek dari sejumlah cucunya pasti akan mengalami hal sama.

Rasa kesepian itu semakin menyesakkan lagi. Sebab setelah Soeharto tumbang, para anak buahnya pun meninggalkannya. Sebagian lagi mantan anak buahnya malah menghujat dan mencaci makinya berikut mencaci maki sanak keluarganya. Ini bisa kita saksikan baik melalui koran, majalah, televisi, maupun radio. Tentu semuanya itu turut menambah tekanan berat terhadap mantan Presiden Soeharto yang nasibnya amat buruk.

“Bila itu diterjemahkan ke dalam estetika panggung teater, saya yakin akan menjadi pertunjukan drama yang menakjubkan.” katanya.

(Pembaruan/Thomas Hutasoit)

Sumber : SUARA PEMBARUAN (07/06/1998)

_________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 651-653.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.