Sayidiman Suryohadiprojo: Pak Harto, Pemimpin Militer dan Negarawan

Pemimpin Militer dan Negarawan [1]

Sayidiman Suryohadiprojo [2]

 

Sebagai manusia mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah ditakdirkan oleh Pencipta maka Manusia Soeharto bukanlah mahluk sempurna, sebagaimana juga manusia-manusia yang lain di dunia. Sebagai setiap manusia yang lain, Manusia Soeharto mempunyai keunggulannya dan kekurangannya. Akan tetapi karena saya hendak mengutarakan hal-hal yang keluar dari pribadi Manusia Soeharto yang telah menjadi pelajaran bagi saya, maka yang saya tonjolkan dalam tulisan ini adalah keunggulan-keunggulan Manusia Soeharto. Sifat-sifat dan perilaku yang telah ditunjukkan oleh Manusia Soeharto hingga kini saya nilai sebagai sifat dan perilaku yang unggul, dan karena itu telah menjadi pelajaran  bagi saya dan mungkin juga patut menjadi pelajaran orang-orang lain.

Tidaklah mustahil bahwa disamping hal-hal yang akan saya utarakan dalam tulisan ini masih banyak lagi sifat-sifat dan perilaku yang unggul yang telah ditunjukkan oleh Manusia Soeharto. Akan tetapi karena tulisan ini adalah gambaran dari pikiran dan perasaan saya, maka yang keluar dalam tulisan ini adalah hasil penilaian saya. Dan karena saya pun manusia yang tidak sempurna, maka mungkin saja penilaian saya itupun kurang lengkap dan tidak sempurna. Yang pasti adalah bahwa saya usahakan untuk memberikan penilaian yang jujur berdasarkan apa yang saya alami dan ketahui secara pribadi.

Oleh karena saya seorang warga TNI, maka ingin saya mulai dengan mengutarakan tentang hal-hal yang telah memberikan pelajaran bagi saya dari Pak Harto sebagai pemimpin militer. Sebenarnya saya baru bertugas dibawah Pak Harto secara langsung pada jenjang karir yang sudah agak lanjut, yaitu setelah Pak Harto menjadi Menteri/Panglima AD pada tahun 1965. Waktu itu saya menjadi Paban Operasi dan kemudian Wakil Asisten II/Opetasi di Staf Umum AD. Meskipun begitu, sejak menjadi taruna Akademi Militer RI di Yogyakarta pada tahun 1945 saya sudah mendengar banyak tentang Pak Harto sebagai seorang prajurit. Sebab, waktu itu Pak Harto bertugas di Batalyon X yang asramanya bertetangga dengan Akademi Militer.

Karena itu sebagai taruna yang senantiasa berusaha mengikuti pengalaman-pengalaman yang menonjol dari unsur-unsur TNI, maka saya juga memperoieh cukup banyak informasi tentang kegagah-perkasaan prajurit Soeharto. Kalau tidak salah waktu itu Batalyon X mempunyai tugas tempur di front Semarang dan tidak jarang kita mendengar bahwa satuan tersebut menjalankan pertempuran yang gigih dengan pihak Belanda dan musuh lainnya. Nama prajurit Soeharto waktu itu sudah terkenal sebagai orang yang gigih dalam pertempuran dan penuh rasa tanggungjawab dalam kepemimpinannya. Inilah pelajaran yang saya petik sejak tahun 1945 dan tidak saya dapatkan dalam pelajaran di Akademi Militer.

Dalam Perang Kemerdekaan kedua saya tidak berada di daerah Yogyakarta, oleh karena setelah lulus dari Akademi Militer saya memilih dan disetujui untuk menjadi komandan pasukan di Divisi Siliwangi. Sebagai perwira muda yang telah terangsang oleh kegagah-perkasaan dan rasa tanggungjawab para tokoh TNI, antara lain Pak Harto sebagai komandan pasukan, maka saya ingin mengikuti Siliwangi berjalan kembali ke Jawa Barat dan memerdekakan daerah itu dari pendudukan Belanda. Akan tetapi akibatnya adalah bahwa, tidak seperti kawan-kawan saya yang memilih atau diangkat menjadi instruktur di Akademi Militer, saya tidak dapat bertugas di daerah Yogyakarta sehingga tidak pula berada dibawah komando Pak Harto. Namun di Ciamis, dimana saya menjalankan operasi gerilya dalam Batalyon Nasuhi, saya masih memperoleh informasi tentang sepak terjang pasukan-pasukan di Jawa Tengah. Saya mendengar tentang kegagah-perkasaan komando dibawah pimpinan Pak Harto yang waktu itu berpangkat letnan kolonel. Sebagaimana juga saya mendengar tentang kegagah-perkasaan pasukan dibawah pimpinan Letnan Kolonel Slamet Riyadi di daerah Solo. Informasi seperti itu amat penting dalam perang, khususnya perang gerilya, karena ia menimbulkan rangsangan untuk berbuat serupa dan tidak mau kalah.

Dapat dikatakan bahwa Pak Harto sebagai pemimpin militer adalah seorang ahli taktik dan operasi yang cerdas dan tangkas, disamping memiliki sifat kegigihan dan keperkasaan. Hal itu nanti dibuktikan lagi ketika beliau memimpin Brigade Mataram di Makassar pada permulaan tahun 1950. Meskipun saya sendiri tidak bertugas di sana waktu itu, namun saya mendengar berita-berita tentang beliau dari Kolonel Kawilarang yang menjadi panglima di wilayah itu. Pak Kawilarang  menceriterakan kepada saya tentang ketenangan kepemimpinan Pak Harto ketika menghadapi pemberontakan Andi Azis, yang dibantu oleh unsur-unsur KNIL, di sekitar Makassar.

Dalam perjalanan hidupnya, Pak  Harto telah membuktikan bahwa beliau sebagai pemimpin militer tidak hanya cakap dalam taktik. Ketika beliau mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang akan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda, maka beliau menunjukkan pula kecakapan dalam the art of operations atau ahli strategi kawasan (theatre strategy). Saya merasa kurang beruntung waktu itu karena tidak ditugaskan dalam Caduad yang menjadi inti dari operasi tersebut. Sebenarnya ketika Pak Harto baru diserahi tanggungjawab untuk membentuk Caduad, saya pernah mendapat panggilan untuk turut dalam staf pembentukannya.

Waktu itu saya sedang bertugas sebagai komandan resimen taruna di Akademi Militer Jurusan Teknik.

Saya menghadiri beberapa rapat yang dilakukan oleh staf persiapan pembentukan Caduad. Akan tetapi ketika diadakan pembentukannya saya tidak ikut ditugaskan dalam satuan strategis itu. Karena itu saya hanya dapat mengikuti perkembangan pelaksanaan tugas Caduad dari tugas saya di AMN. Dari observasi yang saya lakukan untuk kepentingan pelajaran militer, maka saya simpulkan bahwa Pak Harto secara cerdas menentukan kampanye yang hendak diselenggarakan serta sasaran-sasaran yang harus dicapai. Selain itu beliau juga melakukan tindakan-tindakan persiapan pasukan serta logistik untuk melaksanakan kampanye itu secara baik. Itu semua merupakan bukti kecakapan Pak Harto sebagai seorang pemimpin militer pada tingkat seni operasi atau strategi kawasan.

Setelah itu pada tahun 1965 dan sesudahnya, Pak Harto membuktikan kecakapan beliau sebagai pemimpin militer di tingkat strategi umum dan strategi nasional. Sebagai Panglima Kostrad dan kemudian sebagai Menteri/Pangad dan Menhankam/Pangab, beliau dapat menyelesaikan pemberontakan G-30-S/PKI dengan korban yang paling minimal. Pihak luar negeri sering sekali menuduh bahwa telah terjadi pembunuhan dalam jumlah besar dalam penyelesaian pemberontakan G-30-S/PKI. Akan tetapi andaikata kepemimpinan dalam penyelenggaraan operasi pembersihan G-30-S/PKI tidak seperti yang dilakukan oleh Pak Harto, maka besar kemungkin membahwa korban yang jatuh jauh lebih besar lagi.

Orang luar negeri tidak menyadari atau tidak mengetahui betapa rakyat telah merasa tertekan ketika PKI besar pengaruhnya terhadap pemerintah. Maka tidaklah mengherankan apabila perasaan tertekan itu meledak keluar ketika PKI kehilangan pengaruh dan kekuasaannya. Dan yang menjadi sasaran kemarahan rakyat adalah semua orang yang tadinya diketahui menjadi orang PKI dan yang dekat dengan PKI. Karena selama bertahun-tahun PKI sempat menyusupkan pengaruhnya dan subversinya ke segenap bagian masyarakat Indonesia, maka tidak mengherankan bahwa yang menjadi sasaran kemarahan rakyat banyak sekali dan tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam luapan emosi itu terjadi penentuan sasaran yang kurang benar. Adalah karena kepemimpinan Pak Harto bahwa kekosongan kepemimpinan di daerah sebagai akibat hilangnya pengaruh PKI dapat segera diisi, sehingga masa ketidakpastian berlangsung tidak terlalu lama. Dengan begitu, tindakan-tindakan pembunuhan dan pembalasan dapat dihentikan dan disalurkan melalui jalan hukum yang berlaku.

Kepemimpinan Pak Harto dalam penyelesaian G.30-S/PKI dapat saya ketahui dengan baik, karena saya bertugas sebagai Paban Operasi di Staf Umum AD. Pertama adalah tindakan beliau yang tepat untuk mengamankan pusat Jakarta dari kemungkinan menjadi arena pertempuran. Waktu itu, pada tanggal 1 Oktober 1965, dua batalyon yang sudah kena inflitrasi PKI sudah mengambil kedudukan di Lapangan Merdeka. Dengan begitu mereka menguasai RRI dan Kantor Pusat Telepon, selain mengarah langsung kepada Istana Presiden, markas Departemen Pertahanan Keamanan, markas Staf Umum AD dan markas Kostrad. Kalau Batalyon 454 dan 530 itu tidak mau meninggalkan Lapangan Merdeka, maka pasti akan terjadi pertempuran hebat di tempat itu. Sebab kekuatan Pancasila pasti akan mengusir dua batalyon itu untuk mengamankan berbagai proyek strategis di daerah tersebut. Namun Pak Harto bertindak dengan cerdik sekali, sehingga kedua batalyon itu meninggalkan daerah Lapangan Merdeka atas prakarsa sendiri.

Pada kesempatan itu Pak Harto telah menjalankan satu tindakan yang menjadi idam-idaman setiap panglima militer, yaitu memenangkan pertempuran atau mencapai tujuan pertempuran tanpa menggunakan kekerasan. Sejak Sun Tsu, ahli strategi Cina dari abad ke-5sebelum masehi, telah ada prinsip (maxim) yang penting untuk diusahakan oleh setiap panglima yang baik, yaitu bagaimana dapat mencapai tujuan perang dan tujuan pertempuran dengan menggunakan kekcerasaan sesedikit mungkin. Itulah yang ditunjukkan oleh Pak Harto sebagai Panglima Kostrad pada tanggal 1 Oktober 1965. Kedua komandan batalyon yang berada di Lapangan Merdeka itu beliau ajak bicara. Dan dengan kepribadian serta daya meyakinkan beliau, maka kedua komandan batalyon itu kemudian menyingkir dari daerah Lapangan Merdeka. Dengan begitu ancaman militer utama yang dapat dilakukan oleh kekuatan G-30-S/PKI terhadap kekuasaan Republik Indonesia dapat dipatahkan.

Setelah itu Pak Harto secara cepat mengidentifikasi bahwa sasaran berikut adalah pangkalan Halim Perdanakusuma. Dan dengan segera beliau menugaskan RPKAD dibawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhie untuk juga membebaskan tempat yang menjadi sumber ancaman itu. Dengan langkah-langkah itu G-30-S/PKI telah berakhir sebagai kekuatan militer yang dapat mengancam Republik Indonesia. Langkah-langkah militer berikut sebenarnya hanya merupakan gerakan pembersihan (mopping-up actions) saja, khususnya di Jawa Tengah. Memang G-30-S/PKI sebagai ancaman politik masih terus berbahaya sesudah itu, akan tetapi sebagai ancaman militer ia tidak mempunyai arti lagi, oleh karena ia tidak mampu untuk menyusun perlawanan militer yang berarti. Bahkan perlawanan gerilya tidak muncul dengan segera, dan baru ada pada tahun 1966 di daerah Blitar Selatan. Dengan begitu aksi politik G-30-S/PKI tidak memperoleh dukungan kekuatan militer. Hal ini merupakan satu sebab mengapa ia kemudian dapat diselesaikan secara tuntas.

Dalam pemberontakan G-30-S/PKI Pak Harto dapat membuktikan diri sebagai seorang strateeg in action. Ketika menghadapi Irian Barat beliau belum sempat membuktikan hal itu, karena masalah kita dengan Belanda dapat diselesaikan di meja diplomasi sebagai akibat dari mediasi pihak AS. Dalam hal itu Pak Harto baru membuktikan diri sebagai seorang strategis ulung dalam persiapan dan penempatan kekuatan militer, tetapi belum membuktikan diri dalam penggunaannya. Baru dalam penyelesaian G-30-S/PKI serta epilognya Pak Harto menunjukkan keahliannya dalam pelaksanaan strategi secara lengkap.

Khusus dalam epilog G-30-S/PKI masih terdapat ancaman militer yang ternyata jauh lebih gawat dari pada aksi militer G-30-S/ PKI sendiri. Ketika itu timbul bahaya perpecahan yang lebih besar dalam ABRI, yaitu menyangkut hubungan dengan Bung Karno. Dalam G-30-S/PKI sendiri ada satuan-satuan tertentu dalam AD yang sudah kena infiltrasi PKI, tetapi jumlah satuan itu terbatas. Juga pimpinan AU berpihak kepada G-30-S/PKI, tetapi mereka kurang mampu untuk membawa seluruh AURI dalam satu gerakan militer yang berarti, karena mereka memang kurang sekali pengalamannya dalam dunia militer. Akan tetapi dalam epilog G-30-S/PKI timbul situasi dimana Bung Karno tetap tidak bersedia mengambil sikap tegas terhadap G-30-S/PKI. Maka dalam situasi demikian timbul kemungkinan besar adanya perpecahan di lingkungan ABRI, yaitu antara mereka yang tidak setuju dengan sikap Bung Karno yang tidak tegas terhadap G-30-S/PKI, dan mereka yang. dalam segala hal setia kepada Bung Karno.

Mereka yang disebut terakhir itu bukannya setuju dengan G-30 S/PKI; mereka tidak mau melepaskan kesetiaan mereka yang total kepada Bung Karno. Orang-orang dengan sikap demikian banyak dan terdapat dalam seluruh ABRI. Bahkan satuan Marinir dipimpin oleh seorang perwira yang secara terang-terangan berkata: ”Putih kata Bung Karno, Putih bagi KKO; merah kata Bung Karno, merah bagi KKO”. Ada pula yang mengatakan: “Hidup atau mati ikut Bung Karno” (pejah gesang nderek Bung Karno). Pendekatan yang dilakukan Pak Harto untuk mencegah terjadinya bentrokan fisik antara kedua kekuatan yang berhadapan itu telah mengamankan negara kita dari bencana perpecahan yang justru diharapkan oleh PKI.

Keunggulan Pak Harto sebagai pemimpin militer itu, baik di tingkat taktik, seni operasi maupun strategi, bukan diperoleh melalui satu rangkaian pendidikan formal yang biasanya dipunyai oleh para pemimpin militer lainnya. Pendidikan militer untuk menjadi perwira PETA di zaman Jepang boleh dikatakan amat elementer. Dan selama dalam tugas TNI Pak Harto hanya menempuh pendidikan di Kursus C Seskoad, yaitu satu kursus singkat yang diselenggarakan untuk para perwira senior TNI-AD untuk memperoleh orientasi tentang perkembangan dunia militer. Akan tetapi kemampuan ber­ pikir Pak Harto yang beliau bina sendiri cukup kuat untuk mengimbangi kekurangan dalam pendidikan formal itu, sehingga menjadikan beliau seorang pemimpin militer yang bahkan lebih unggul dari. pada mereka yang menempuh pendidikan formal.

Selain itu, saya pikir kekuatan .Pak Harto sebagai pemimpin militer terletak dalam keseimbangan·antara kemampuan berpikir dan·intuisi. Intuisi beliau amat tajam dan ini amat bermanfaat untuk mengambil keputusan, khususnya dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Terutama untuk tingkat taktik, ketajaman intuisi amat berguna karena pada tingkat itu harus diambil keputusan dan penentuan arah kegiatan dalam kondisi yang biasanya kurang informasi. Akan tetapi ia diperlukan juga pada tingkat operasi dan strategi, sebab dengan pikiran saja kita kurang dapat mendalami atau “merasakan” persoalan yang lebih mendasar. Kita melihat bahwa di kalangan ilmu pengetahuan juga hanya orang-orang dengan intuisi tajam, disamping kemampuan berpikir secara jernih, yang berkembang sebagai tokoh-tokoh besar ilmu pengetahuan. Einstein dan Darwin adalah contoh dan bukti jelas dari tokoh demikian.

Perlu kita pelajari bagaimana Pak Harto telah menumbuhkan dan membina kemampuan berpikir dan berintuisi yang kuat itu, tanpa memperoleh pendidikan formal yang biasanya ditempuh seorang perwira profesional. Apakah cara Pak Harto menumbuhkan dan membina kemampuan berpikir dan berintuisi dapat dijadikan pula cara untuk orang lain yang ingin mempunyai kemampuan berpikir dan berintuisi yang serupa? Kalau jawabannya positif; apakah hal itu dapat digabungkan dalam pendidikan perwira yang kita adakan, agar dengan begitu kita dapat membentuk pemimpin­pemimpin militer untuk masa depan yang juga ampuh dan dapat diandalkan? Ini adalah hal-hal yang penting untuk kita perdalam.

Ketika pada tahun 1967 Pak Harto diangkat untuk menggantikan Bung Karno memimpin Republik Indonesia, belum banyak yang mengenal beliau kecuali sebagai seorang pemimpin militer. Jangankan orang-orang di luar negeri, di Indonesia sendiri banyak pula yang masih bertanya-tanya siapa itu Jenderal Soeharto. Memang dalam masa pemerintahan Bung Karno, Pak Harto tidak termasuk orang yang berada di lingkungan dalam, sekalipun memimpin Kodam Diponegoro dan Caduad yang diserahi operasi Irian Barat. Oleh sebab itu kemampuan Pak Harto untuk menjadi pemimpin Republik Indonesia yang menonjolkan prestasi yang penting dalam masa 20 tahun kemudian menunjukkan bahwa beliau seorang negarawan yang patut dicatat dalam sejarah. Tidak hanya sejarah Indonesia, tetapi juga sejarah dunia.

Prestasi sebagai negarawan dimulai dengan kemampuan untuk mengadakan penggantian pimpinan negara secara damai dan lancar, meskipun kondisi masyarakat Indonesia amat ruwet oleh pem­ berontakan G-30-S/PKI dan ketidaksediaan Bung Karno untuk membubarkan PKI dan malahan terus memujinya. Bahkan Bung Karno tidak dituntut di depan pengadilan. Peradilan seperti. itu, andaikata terjadi, akan merupakan satu noda yang besar bagi bangsa Indonesia, sebab bagaimanapun juga Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama dan telah berhasil mempersatukan bangsa kita dari Sabang hingga Merauke. Akan tetapi sekalipun Bung Karno tidak diadili, pergantian kekuasaan tetap terjadi secara tegas dan lengkap. Ada orang menamakan cara Pak Harto menghadapi masalah penggantian kekuasaan dari Bung Karno sebagai slicing the salami.

Prestasi berikut adalah mengubah sama sekali haluan politik luar negeri yang sedang ditempuh Bung Karno. Politik luar negeri Bung Karno berpihak kepada negara-negara komunis, Uni Soviet dan RRC, dan melakukan konfrontasi terhadap Malaysia. Pak Harto mengembalikan politik luar negeri Republik Indonesia kepada sikap yang bebas aktif serta menghentikan konfrontasi dengan Malaysia dan malahan bersama-sama dengan negara-negara Asia Tenggara yang lain membentuk ASEAN. Perubahan politik luar negeri tersebut terlihat pembenarannya ketika kemudian di RRC terjadi pembahan mendasar setelah Mao Zedong meninggal dan Deng Xiaoping membawa bangsanya kepada Program Empat Modernisasi. Kemudian juga Uni Soviet, dengan munculnya Mikhail Gorbachev serta program perestroika dan glasnost yang dibawanya.

Dengan perubahan itu Indonesia meninggalkan sikap Bung Karno yang berpendapat bahwa “revolusi belum selesai”, dan digantikan dengan penyelenggaraan pembangunan nasional. Program negara tersebut mendapat dukungan kalangan luas di Indonesia yang telah jemu mengalami keadaan “serba revolusioner” yang juga serba hipokrit, oleh karena nyatanya kalangan di sekeliling Bung Karno sendiri tidak hidup “serba revolusioner”. Juga dari luar negeri terdapat dukungan, karena mereka berkepentingan akan kemajuan Indonesia sehingga dapat menjadi mitra dagang yang baik kemudian.

Pembangunan nasional yang bertitik berat pada bidang ekonomi telah berhasil membawa perubahan yang cukup besar di Indonesia, meskipun mungkin dibandingkan dengan kemajuan yang dapat dicapai oleh Korea Selatan dalam ukuran waktu yang sama, Indonesia masih kalah cepat. Pembangunan nasional tersebut mempakan hasil pekerjaan banyak orang, tetapi tidak dapat diingkari bahwa Pak Harto sebagai Kepala Negara telah berperan besar dalam menentukan arah yang harus ditempuh. Yang jelas memperoleh tekanan beliau dan kemudian memberikan hasil yang besar adalah:

Bidang Pertanian

Dalam masa Bung Karno memang selalu dikatakan bahwa Indonesia harus dapat mengusahakan swasembada beras. Juga ada usaha untuk memperoleh bibit padi yang unggul untuk mendukung keinginan itu. Akan tetapi mungkin karena kurangnya konsentrasi dan perhatian yang disertai komitmen, maka produksi beras khususnya, dan bidang pertanian umumnya, tidak pernah mengalami kemajuan yang berarti. Apalagi karena kemudian faktor politik turut berpengaruh, khususnya PKI dengan Barisan Taninya, maka tidak pernah ada kemajuan dalam produksi pertanian.

Hal ini berlainan sekali dengan Pak Harto. Karena beliau sendiri merasa sebagai anak petani, maka perhatian yang dilimpahkan kepada produksi pertanian serta komitmen yang diberikan untuk itu cukup besar. Hasilnya, mau tidak mau, datang kemudian berupa kemampuan Indonesia untuk swasembada beras. Memang untuk terus memelihara kemampuan swasembada beras dengan peningkatan penduduk yang masih cukup besar, khususnya di Jawa, dan tanah persawahan yang makin surut, terutama di Jawa, bukanlah hal yang mudah dan ringan. Akan tetapi sekurang-kurangnya sudah dapat dibuktikan bahwa Indonesia yang tadinya merupakan pengimpor beras terbesar di dunia dapat berubah menjadi negara yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri.

Juga ada perhatian besar kepada bidang pertanian lainnya, dan nasib para petani. Seperti diadakannya Tebu lntensifikasi Rakyat yang mengusahakan agar petani tebu tidak hanya menjual hasil tanamannya kepada pabrik gula, tetapi mempunyai andil dalam keseluruhan produksi gula. Memang, segala usaha belum berhasil sepenuhnya untuk mengatasi kemiskinan para petani, sebab hal itu tidak lepas dari faktor pemilikan tanah dan makin menciutnya tanah pertanian di Pulau Jawa. Akan tetapi sudah dapat dihilangkan rasa putus asa yang di masa lampau terbawa oleh kesengsaraan yang tidak kunjung henti. Hanya saja, yang masih timbul pertanyaan pada saya adalah mengapa Pak Harto, sebagai orang yang juga suka sekali kepada kehidupan di laut, tidak berhasil menciptakan keadaan yang sekurang-kurangnya sama bagi para nelayan. Apakah perhatian beliau kepada nelayan tidak sebesar kepada petani? Dan apakah itu dipengaruhi oleh kenyataan bahwa beliau orang yang tidak berasal dari daerah pantai?

Bidang Pendidikan Umum.

Perhatian Pak Harto kepada pendidikan tertuju terutama kepada pemberian pendidikan bagi seluruh rakyat. Hal ini mempunyai dampak yang besar sekali kepada perkembangan bangsa Indonesia. Selama 20 tahun belakangan ini berpuluh juta rakyat Indonesia telah menempuh pendidikan, sehingga pikiran dan perasaan mereka menjadi lebih terbuka. Memang buta huruf belum sepenuhnya hilang karena dari generasi tua masih banyak yang tidak sempat masuk sekolah. Dan mungkin dari generasi muda juga ada yang tidak masuk sekolah karena berbagai faktor. Tetapi jumlah anak sekolah bukan main bertambahnya dalam tahun-tahun belakangan ini.

Memang harus diakui bahwa mutu pendidikan di sekolah belum memuaskan dan umumnya lebih rendah dari pada di zaman penjajahan Belanda. Akan tetapi karena jumlah orang yang masuk sekolah jauh berlipat ganda maka dampaknya tetap besar. Apalagi kalau lambat-laun mutu pendidikan di sekolah dapat ditingkatkan dan disamping itu juga ada perhatian lebih banyak kepada pendidikan di lingkungan keluarga dan rumah tangga. Sebagai hasil pendidikan di lingkungan keluarga serta diperkuat oleh kemampuan berpikir dan kecakapan bekerja sebagai hasil pendidikan di sekolah maka dapat dibina manusia Indonesia dengan watak dan kepribadian yang kuat. Dengan makin banyaknya pemuda yang menempuh pendidikan di sekolah malahan kita sekarang harus juga menciptakan kesempatan kerja yang memadai. Dan itu meliputi angka yang tidak sedikit setiap tahunnya.

 Bidang Keluarga Berencana

Bahwa Pak Harto menunjukkan arah yang tegas untuk melakukan program Keluarga Berencana dibuktikan oleh tanda penghargaan yang beliau terima dari PBB pada tahun 1989. Indonesia diakui oleh PBB sebagai negara yang termasuk sukses dalam menjalankan program KB. Dan peranan Pak Harto sejak permulaan jelas sekali, meskipun yang menjadi pelaksananya adalah orang lain. Bahwa program KB penting sekali bagi kita dapat dilihat pada kenyataan dimana dengan program yang dilakukan secara sukses, pertumbuhan penduduk kita masih sekitar 1,8 hingga 2 persen setahun. Jadi andaikata tidak ada program KB atau program itu kurang sukses, maka dapat dibayangkan berapa besar tingkat pertumbuhan penduduk kita. Dan yang penting sekali adalah akibatnya terhadap kehidupan masyarakat.

Sekarang dengan program KB yang sukses, kita harus sanggup menyediakan kesempatan kerja untuk angkatan kerja yang setiap tahun meningkat sekitar dua juta orang. Bagaimana andaikata tidak ada program KB atau program itu kurang sukses? Juga dampaknya terhadap penyediaan kesempatan pendidikan di sekolah, baikSD, SMP, SMA hingga pendidikan tinggi; sekarang saja setiap tahun kita selalu menghadapi persoalan itu yang menimbulkan pening kepala bagi setiap orang tua dan anak. Dan tentunya juga ada dampak terhadap hal lain, seperti perumahan, bahan makanan dan lainnya.

Bidang Angkutan dan Komunikasi

Pembangunan nasional telah berhasil menciptakan jaringan angkutan dan komunikasi yang menjadikan Indonesia benar-benar tanah air yang satu bagi segenap penduduknya. Angkutan udara telah menghubungkan Jakarta dengan setiap ibukota provinsi pada setiap hari kerja. Dan jaringan angkutan udara itu makin meluas dan merapat. Selain itu angkutan darat dengan kendaraan bermotor telah memungkinkan pemindahan orang dari Aceh sampai ke Bali. Demikian pula di Kalimantan dan Sulawesi makin banyak jalan­jalan yang terbuka dan dapat digunakan untuk angkutan darat. Sayang sekali bahwa angkutan laut belum dapat menyamai kemajuan itu, begitu pula angkutan kereta api. Boleh dikatakan bahwa dua macam angkutan itu masih harus dibenahi dengan serius, oleh karena masih belum dapat menyamai kondisinya di zarnan penjajahan Belanda, baik dalam volume maupun mutu, ketepatan waktu serta kenyamanannya.

Akan tetapi prestasi yang tercapai melalui angkutan darat bermotor serta angkutan udara cukup besar untuk memungkinkan mobilitas barang dan orang yang jauh lebih besar daripada masa lampau. Selain itu juga kemajuan di dalam komunikasi, khususnya hubungan telepon dan radio. Dengan segala kekurangan yang masih terdapat pada penyelenggaraan telekomunikasi, namun sekarang orang sudah dapat berbicara dengan jelas dan cepat antara kota­kota utama di Indonesia dan juga dengan luar negeri. Ini penting sekali untuk pembangunan nasional kita dan untuk kehidupan bangsa kita. Peranan Pak Harto dalam perwujudan hal itu tidak kecil. Sebagai negarawan beliau selalu menunjukkan pentingnya·angkutan dan komunikasi untuk persatuan bangsa.

Empat hal yang menonjol dalam pembangunan nasional kita itu adalah hasil dari kenegarawanan Pak Harto yang sukar di pungkiri oleh siapa saja. Mungkin masih ada hal lain dalam pembahgunan nasional yang merupakan bukti kenegarawanan beliau, tetapi dengan membatasi pada empat hal itu sudah dapat kita tunjukkan bukti yang cukup mantap.

Hal lain sebagai hasil kenegarawanan Pak Harto adalah tercapainya konsensus nasional untuk menerima Pancasila sebagai satu-satu­nya asas dalam kehidupan kita bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Terbentuknya konsensus itu merupakan suatu kemajuan yang amat penting dalam kehidupan kita di Indonesia. Dengan penerimaan itu maka dapat dilakukan konsentrasi bangsa yang lebih mantap terhadap masalah-masalah utama yang harus kita hadapi sebagai bangsa. Kita tidak lagi terlena oleh masalah yang sebenarnya merupakan masalah sampingan, akan tetapi oleh kalangan tertentu masih dianggap sebagai masalah utama.

Karena prestasi-prestasi beliau sebagai negarawan itu sepatutnyalah Pak Harto tercatat tidak saja dalam sejarah Indonesia, tetapi juga dalam sejarah dunia. Sebagaimana juga sepatutnya Bung Karno tercatat sebagai negarawan dalam sejarah dunia karena prestasinya mempersatukan bangsa Indonesia. Bukankah banyak orang dulu menyangsikan kemungkinan Indonesia menjadi negara dan bangsa yang satu, mengingat luasnya wilayah, aneka ragam adat istiadat serta bahasa, dan sukarnya komunikasi? Tetapi dapat dibuktikan bahwa Indonesia menjadi negara dan bangsa yang satu. Itu merupakan hasil kenegarawanan Bung Karno; dan kemudian kenegarawanan itu dilanjutkan oleh Pak Harto melalui kepemimpinan beliau dalam pembangunan nasional.

Kiranya belum lengkap kalau kita belum melihat Pak Harto sebagai manusia. Sebab, Soeharto sebagai manusialah yang menjadikan Soeharto sebagai pemimpin militer yang ulung dan negarawan yang berprestasi. Karena saya tidak termasuk lingkungan keluarga atau juga bukan lingkungan yang dekat sekali, maka gambaran ini adalah hasil pengamatan dari luar sebagai anak buah dalam operasi. Yang jelas sekali nampak adalah bahwa Pak Harto menaruh minat yang besar sekali kepada keluarga beliau. Meskipuh menghadapi berbagai kegiatan resmi dan pekerjaan tanpa hentinya beliau selalu mempunyai waktu untuk keluarga. Dan terhadap keluarga itu tampak sekali sikap dan sifat beliau sebagai ayah dan kakek yang penuh tanggungjawab. Sikap yang hangat dan ‘mesra terhadap lbu Tien Soeharto, putera-puteri dan para cucu menunjukkan bahwa Pak Harto adalah seorang manusia keluarga (family man) yang patut diteladani.

Sebagai seorang dari suku Jawa, khususnya dari daerah Yogyakarta, beliau berpegang teguh pada adat istiadat Jawa. Cara menghormat para orang tua tidak pernah ditinggalkan. Dalam hubungan dengan orang lain tampak sikap yang selalu sopan, tetapi juga selalu memelihara jarak (reserved). Itu beda sekali dengan sifat orang yang berasal dari Jawa Timur umpamanya, yang umumnya lebih spontan. Sesuai dengan adat istiadat Jawa yang menghendaki manusia untuk selalu mengendalikan diri, maka Pak Harto selalu menunjukkah sikap yang tenang dan sukar diduga. Ini menjadi kekuatan beliau sebagai pemimpin militer dan dalam hubungan atau diplomasi dengan pihak asing. Dalam mengejar sikap dan sifat yang sesuai dengan budaya Jawa, maka beliau termasuk orang yang gemar menjalankan ilmu kejawen. Menurut beliau sendiri hal demikian tidak mengurangi kepercayaan beliau kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kewajiban sebagai penganut agama Islam, melainkan malahan dapat lebih memperkuat iman dan takwa beliau. Mungkin sekali hal-hal inilah yang menjadi sumber kekuatan untuk tumbuhnya harmoni dalam pikiran dan intuisi yang sudah saya kemukakan sebelumnya.

Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang pejabat tinggi dalam bidang ekonomi, pada waktu Pak Harto baru menjadi Presiden Rl, beliau selalu rajin mencatat hal-hal yang disampaikan oleh pejabat tersebut kepada beliau, yaitu bersangkutan dengan perkembangan ekonomi nasional dan internasional. Akan tetapi setelah tahun 1980 kebalikannyalah yang terjadi. Kalau pejabat itu menghadap Pak Harto untuk membicarakan hal yang berkenaan dengan ekonomi, justru Pak Harto yang kini bicara dan pejabat itulah yang mencatat. Dengan cerita itu pejabat tersebut hendak menggambarkan bagaimana dalam waktu 15 tahun Pak Harto telah berkembang dari seorang yang masih awam dalam ekonomi menjadi orang yang mengetahui dan mendalami seluk beluk dunia ekonomi. Itu berarti bahwa Pak Harto dapat berpikir dengan tajam, sekaligus pula beliau mempunyai intuisi yang peka, hal mana dibuktikan oleh berbagai keputusan yang beliau ambil dalam macam-macam bidang yang kemudian menunjukkan kebenarannya. Dengan harmoni antara pikiran,dan intuisi, nampaknya Pak Harto ingin menghasilkan sesuatu yang arif bijaksana. Dan peranan kehidupan spiritual yang beliau praktekkan mempunyai saham tidak sedikit dalam pengembangan kemampuan itu.

Sebagai manusia Pak Harto banyak sekali hobby-nya. Dan hobby itu banyak yang berkembang menjadi kecakapan yang cukup tinggi mutunya. Yang segera nampak adalah hobby beliau dalam pertanian. Dalam waktu senggang beliau seringkali terjun dalam hobby ini. Itulah yang kemudian menghasilkan tanah pertanian Tapos yang merupakan satu kegiatan yang bermutu tinggi. Kalau Pak Harto sedang menjelaskan kepada para tamu yang datang di Tapos, maka tampak sekali bahwa tidak saja beliau amat menyenangi apa yang beliau kerjakan di tanah pertanian itu, tetapi juga bahwa beliau menguasai seluk beluk pertanian yang beliau kerjakan. Demilkian pula hobby pergi ke laut dan memancing, yang bukan sekadar suatu kegiatan yang memberikan ketenangan batin (relaxation), tetapi lebih dari itu beliau tabu betul tentang seluk beluk perikanan laut.

Memang Pak Harto sebagai manusia pandai sekali mengkonsentrasikan diri. Karena itu hobby beliau dapat berkembang menjadi kecakapan yang bermutu. Tentang konsentrasi PakHarto itu juga dapat kita lihat kalau beliau bermain golf. Meskipun baru pada usia yang cukup lanjut mulai bermain golf, yaitu ketika menjadi panglima Kostrad sekitar tahun 1963, namun beliau dapat menghasilkan permainan golf yang berhandicap rendah. Menurut pandangan saya, hal ini karena kemampuan Pak Harto untuk berkonsentrasi, sehingga pukulan beliau selalu lurus, meskipun mungkin tidak terlalu jauh, dan dalam chipping dan putting tepat arah dan kekuatannya. Konsentrasi tinggi adalah hasil dari kendali diri yang kuat. Bahwa Pak Harto bersedia belajar terbukti dari peningkatan pengetahuan beliau dalam berbagai bidang, padahal pendidikan formal yang dialami tidaklah tinggi. Karena itu saya duga bahwa beliau juga bersedia membaca, sebab peningkatan pengetahuan tidak mungkin hanya didasarkan pada pendengaran saja.

***



[1]     Sayidiman Suryohadiprojo, ” Pemimpin Militer dan Negarawan”, dalam buku “Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 871-886.

[2]       Letjen. TNI (Purn.); mantan Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional periode 1974-1978; dan Duta Besar RI untuk Jepang, 1979-1983.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.