SAYA SEMPAT MENANGIS KARENA TIDAK MENDUGA

SAYA SEMPAT MENANGIS KARENA TIDAK MENDUGA[1]

 

Jakarta, Media

Hidup manusia itu seperti berputarnya roda pedati . Saat ini di atas, besok pagi bisa saja segera di bawah. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai cakra manggilingan. Hidup ini berputar. Pak Harto yang dahulu juga di bawah, kemudian menjadi orang nomor satu di republik ini.

Mulai 21 Mei kemarin Pak Harto tidak di puncak lagi. Orang boleh senang. Yang trenyuh, sedih pun tak dilarang. Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara menyambut suasana dengan guyuran hujan.

Bagi yang senang, seperti ribuan mahasiswa, pelajar dan kalangan masyarakat Yogyakarta, kemarin, melakukan sujud syukur di Boulevard Universitas Gadjah Mada setelah mendengar pernyataan pengunduran diri Pak Harto sebagai Presiden. DPW PPP DIY pun menginstruksikan agar seluruh anggota F-PP DPRD se-DIY menghentikan aksi mogok dari kegiatan legislatifnya. Lain lagi yang dilakukan Ketua PPP Solo Mudrick SM Sangidu. Dia langsung menggunduli kepalanya. Dia juga minta agar kekayaan Pak Harto diusut.

Rakyat Lampung dalam surat pernyataan yang ditandatangani Ketua DPRD Lampung Karyotomo malah menuntut Pak Harto mempertanggungjawabkan masa kepemimpinannya di depan pengadilan rakyat yang konstitusional.

Di Surabaya disambut serentak dengan gema takbir di sejumlah masjid. Suasana Pekanbaru sunyi dan lengang, saat Pak Harto mundur. Sebagian besar masyarakat berada di rumah menonton televisi. Sedangkan yang berada di pusat kota dan pusat perbelanjaan, tampak bergerombol di depan toko-toko elektronika.

Demikian juga di Ambon.

“Siapa pun yang jadi Presiden tidak ada masalah. Yang penting harga sembako diturunkan.” ujar sejumlah warga.

“Kersane, mas (Biar saja, mas). Siapa yang jadi Presiden bukan hal yang penting. Yang penting pemimpin menaruh perhatian terhadap nasib orang kecil.” kata Badri, tukang becak di kawasan Wonokromo.

Yang sedih pun tak bisa menyembunyikan perasaannya.

“Saya sungguh sedih melihat beliau. Sebab Pak Harto itu manusia yang punya karisma dan bermental baja.” ujar La Sanu pedagang ikan.

Ny. Talha, 31, warga Samarinda menangis.

“Beliau itu telah mampu membangun Indonesia sekitar 30 tahun. Saya sempat menangis, karena tidak menduga.” isaknya.

Di Manado, Kamis kemarin bersuasana perayaan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Di sejumlah gereja langsung menggelar doa syafaat untuk keselamatan negara serta keutuhan bangsa.

Sumber : MEDIA INDONESIA (22/05/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 917-918.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.