SAYA MUNDUR TIDAK MASALAH …

SAYA MUNDUR TIDAK MASALAH …[1]

 

 

Jakarta, Bisnis

Presiden Soeharto memberikan penjelasan mengenai reformasi usai bertemu tokoh masyarakat Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, Nurcholis Madjid, KHAli Yafie, Yusril Ihza Mahendra, KH Cholil Baidowi, Ahmad Bagdja, Maruf Amin, dan Surnarsono, di Istana Merdeka, kemarin. Presiden didampingi Mensesneg Saadillah Mursjid.

Hadir juga di Istana tapi tidak ikut dalam pertemuan a.l. Menhankarn/Pangab Jenderal TNI Wiranto, ketiga kepala staf dan Kapolri, Kapolda Mayjen (Pol) Hamarni Nata, Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Samsoeddin, dan Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto.

Berikut ini adalah penjelasan lengkap Presiden:

Bismillahirrahmanirrohim,

Saudara-saudara hadirin, dan saudara-saudara sebangsa setanah air,

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ini hari saya mengadakan pertemuan dengan beberapa ulama dan tokoh-tokoh masyarakat dan juga pimpinan ABRI yang antara lain saya minta beberapa pandangan dan nasehat untuk menghadapi situasi keadaan negara yang sama-sama telah kita alami dan kita bersama telah mengetahui keadaan sekarang ini.

Tentu semuanya ini adalah memprihatinkan sekali daripada kita yang punya rasa tanggungjawab terhadap keselamatan negara dan bangsa ini. Di antara lain adalah ada keinginan-keinginan agar supaya saya mundur dari kedudukan sebagai presiden. Hanya masalahnya bagi saya sebetulnya mundur dan tidaknya itu tidak menjadi masalah.

Yang perlu kita perhatikan itu, apakah dengan kemunduran saya itu kemudian segera keadaan ini akan bisa diatasi. Sebab bagi saya soal kedudukan presiden adalah bukan soal yang mutlak bagi saya. Saudara-saudara tentu tidak lupa ingat akan proses daripada pemilihan pelantikan presiden. Pada waktu saya akan dicalonkan menjadi presiden untuk 1998-2003 oleh kekuatan sosial politik danjuga disampaikan kepada fraksi-fraksinya dalam MPR, sebelumnya saya sudah mengatakan apakah benar rakyat Indonesia itu masih percaya kepada saya, karena saya juga sudah umur 77 tahun, agar supaya dicek benar-benarlah daripada semuanya itu.

Dan ternyata semua kekuatan sosial politik, PPP, PDI, Golkar maupun ABRI mengatakan memang benar sebagian besar dan pada rakyat menghendaki agar saya menerima calon kembali sebagai presiden untuk masa bakti 1998-2003.

Dan inilah kalau sekarang demikian, tentu saya terima dengan rasa tanggung jawab. Jadi saya terima bukan karena kedudukannya, tapi karena tanggung jawab. Lebih-lebih pada saat kita menghadapi kesulitan akibat berbagai krisis tersebut.

Dan rasa-rasanya kalau saya meninggalkan begitu saja lantas bisa, dikatakan tinggi gelanggang colong playu, berarti meninggalkan keadaan yang sebenarnya saya masih harus turut bertanggungjawab karena itu, pada waktu itu sekali lagi saya terima dengan rasa tanggung jawab semata-mata terhadap negara dan bangsa Indonesia ini. Sekarang ada ternyata masih timbul yang tidak seluruhnya mendukung, percaya, apa melakukan artinya unjuk rasa bahwasanya mereka sudah tidak percaya lagi kepada saya, sehingga lantas mengajukan supaya saya mundur.

Bagi saya mundurnya itu sekali lagi tidak menjadi masalah, karena juga berpendirian untuk tidak menjadi presiden, saya bertekad ngamandito. Dalam arti saya akan mendekatkan diri dengan Tuhan kemudian mengasuh anak-anak dengan sebaik­ baiknya supaya menjadi warga negara yang baik, kepada masyarakat saya akan memberikan nasehat, kepada negara dengan sendirinya tut wuri handayani menggunakan segala apa yang kita miliki untuk membantu dan negara tersebut.

Sekarang kalau tuntutan untuk mengundurkan diri saya penuhi secara konstitusional maka harus saya serahkan kepada wakil presiden, secara konstitusional. Kemudian timbul apakah ini juga merupakan jalan penyelesaian daripada masalah (sehingga) tidak akan timbul lagi, nanti wakil presiden juga lantas harus mengulangi pidato

Kalau begitu terus-menerus dan itu menjadi preseden atau kejadian dalam kehidupan kita bernegara, berbangsa dan berrnasyarakat dengan sendirinya negara dan bangsa kita itu akan kacau seolah-olah tidak mempunyai landasan dalam menjamin kehidupan kita bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Sedangkan kita itu memiliki dasar itu ialah Pancasila dan UUD 1945, berarti memiliki konstitusi. Kalau konstitusi itu tidak kita pegang teguh oleh setiap warga negara tentu daripada negara dan bangsa itu akhimya akan menjadi apa… artinya tidak akan langgeng berdirinya, bahkan mungkin ganti-berganti yang kemungkinan juga membawa akibat ada yang setuju, ada yang tidak dan berarti pula akan membawa akibat pertentangan yang lebih tajam, mungkin sampai pada perturnpahan darah mungkin juga sampai pada perang saudara dan lain sebagainya. Kalau ini terjadi siapa yang rugi tentu juga daripada bangsa kita sendiri.

Sebagai Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 kemudian dengan diiringi lahirnya Pancasila dan UUD 45 sehari, sesudahnya itu merupakan warisan daripada pendiri-pendiri Republik, bahkan dari warisan daripada pejuang-pejuang kita yang telah gugur agar supaya menjadi landasan yang baik daripada bangsa kita yang sangat majemuk agar supaya dalam kehidupan kita bemegara, berbangsa, bermasyarakat, benar-benar akan terus-menerus dapat dipertahankan supaya kita bisa hidup sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan juga diakui oleh bangsa-bangsa yang lain.

Sekali lagi bahwa soal mundur bagi saya tidak masalah. Hanya masalahnya rasa tanggungjawab saya perlu memikirkan bagaimana negara dan bangsa kita. Jadi saya andai kata belum mengambil keputusan mundur bukan karena saya tidak mau mundur, tidak, tapi bagaimana agar supaya kemunduran saya ini negara dan bangsa, mudah­ mudahan konstitusi kita tetap bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Berarti Pancasila dan UUD 45 pun juga akan tetap bisa disahkan, karena inilah harus diambil daripada satu langkah-langkah yang tidak meninggalkan konstitusi tapi yang bisa kita gunakan sebagai landasan untuk menyelesaikan daripada masalah, ialah daripada mengatasi berbagai krisis akibat krisis moneter maupun juga krisis kepercayaan. Bahkan ditambah lagi dengan pengerusakan yang teijadi akhir-akhir ini dengan sendirinya menambah daripada kemampuan negara dan bangsa menjadi lebih kecil. Sehingga untuk mengadakan rehabilitasi apalagi juga urusan pembangunan membutuhkan ketenangan, membutuhkan apa namanya, kesiapan untuk perencanaan maupun juga pelaksanaannya.

Untuk itulah saudara-saudara sekalian sebangsa dan setanah air, kita harus memikirkan betul-betul agar supaya ada satu fase yang bisa menjamin kelangsungan negara dan bangsa di mana tidak menimbulkan lagi kerusuhan, tetapi apa yang diinginkan ialah reformasi dan sebagainya itu bisa berjalan dengan baik.

Karena itu saya akan mengambil langkah-langkah, karena sampai sekarang saya masih sebagai Presiden/Mandataris, mempunyai wewenang atas dasar UUD 45 maupun juga GBHN dan ketetapan-ketetapan lainnya, mengambil suatu langkah­ langkah dan pemikiran ini akan disampaikan kepada masyarakat untuk dapat direnungkan benar-benar demi kepentingan negara dan bangsa, demi kepentingan daripada pembangunan yang sedang dan akan kita lanjutkan agar supaya kita bisa masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu bisa tercapai.

Sekali, semua ini adalah harus kita pikirkan sedalam-dalamnya, jangan dengan emosi tetapi juga dengan segala kesadaran. Semuanya harus kita arahkan untuk kepentingan negara dan bangsa kita. Janganlah kita menyaksikan daripada negara dan bangsa yang telah banyak pengorbanan daripada usaha  kita untuk mendirikan Republik ini, akhirnya menjadi hancur berantakan yang berarti ya kita tidak menghormati, menghargai daripada para pahlawan yang telah mengorbankan segala sesuatunya untuk berdirinya negara Republik Indonesia.

Karena itu saudara-saudara sekalian, jadi (teks Pernyataan Presiden Republik Indonesia, Jakarta, 19 Mei 1998) setelah saya mendengarkan saran-saran daripada tokoh-tokoh dan juga daripada pimpinan ABRI, maka untuk menyelamatkan negara dan bangsa, pembangunan nasional, Pancasila dan UUD 1945, serta kesatuan dan persatuan bangsa, saya mengambil keputusan sesuai dengan wewenang yang diberikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), saya sebagai Presiden/ Mandataris MPR saya akan melaksanakan dan memimpin reformasi nasional secepat mungkin.

Untuk itu saya akan segera membentuk Komite Reformasi yang anggota­-anggotanya terdiri atas tokoh-tokoh masyarakat dan para pakar dari dunia perguruan tinggi dengan tugas untuk segera menyelesaikan Undang-Undang Pemilihan Umum, Undang-Undang Kepartaian, Susunan DPR/MPR dan DPRD, Undang-Undang Antimonopoli, Undang-Undang Antikorupsi, dan lain-lainnya sesuai dengan keinginan daripada masyarakat. Pemilihan Umum akan dilaksanakan secepat-cepatnya berdasarkan Undang-Undang Pemilu yang baru itu. Melaksanakan Sidang Umum MPR hasil pemilihan umum tersebut antara lain untuk menetapkan DPR, memilih presiden dan wakil presiden dan ketetapan-ketetapan MPR lainnya.

Saya dengan ini menyatakan bahwa saya tidak akan bersedia lagi untuk dicalonkan sebagai presiden. Untuk melaksanakan tugas-tugas yang sangat berat, karena berbagai krisis di bidang ekonomi, politik, dan hukum maka saya segera akan mengadakan reshuffle kabinet, sehingga Kabinet Pembangunan Vll berubah menjadi kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi.

ABRI supaya menjaga kewaspadaan dan keselamatan nasional, menjaga keamanan dan ketertiban bersama-sama dan bergandengan tangan dengan seluruh masyarakat.

Kesempatan ini saya gunakan untuk menyampaikan duka cita yang sedalam­ dalamnya kepada korban-korban peristiwa dan korban-korban kerusuhan yang terjadi. Semoga arwah para korban diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan sebaik-baiknya. Kepada anak, sanak keluarga daripada korban kiranya diberikan kekuatan iman dan ketabahan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirnya saya menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya atas dukungan masyarakat dalam melaksanakan reformasi nasional yang sedang kita laksanakan. SemogaAllah SWT melindungi bangsa dan negara Republik Indonesia. (Presiden Republik Indonesia Soeharto).

Sekali lagi saudara-saudara sebangsa dan setanah air hendaknya supaya kita benar-benar meresapkan, pikirlah nasib daripada negara dan bangsa Indonesia, pikirlah keselamatan daripada rakyat dan bangsa Indonesia. Jangan sampai karena emosi tidak terkendali, kemudian bangsa kita itu akan menjadi lebih miskin dan lebih menderita, sedangkan cita-cita pejuang kita untuk memproklamasikan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 itu, untuk mensejahterakan daripada rakyat Indonesia.

Kita berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun agar supaya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu benar-benar akan bisa terwujud. Sekali lagi dalam mengambil jalan yang saya kemukakan tadi, semata-mata untuk menyelamatkan negara dan bangsa daripada segala sesuatu yang harus kita laksanakan berdasarkan konstitusi kita. Saya harapkan semuanya dapat dimengerti dan tidak perlu, apa namanya, khawatir bahwasanya akan mempertahankan untuk menjadi Presiden, sama sekali tidak. Ada yang mengatakan, seperti tadi dikatakan, untuk tidak menjadi Presiden, kembali kepada anggota masyarakat lainnya, masih bisa berguna untuk negara dan bangsa dan masih banyak pengabdian yang saya berikan.

Jadi demikianlah, ada yang juga mengatakan bersahaja, dalam bahasa Jawanya tidak menjadi presiden, tidak akan patheken, katanya. Jadi kembali kepada warga negara biasa, itu tentunya juga memberikan hormat, tidak kurang terhormat daripada Presiden; asalkan bisa memberikan pengabdian kepada negara dan bangsa.

Jadi harapan bangsanya, jangan dinilai saya sebagai penghalang daripada semuanya, tidak sama sekali. Semata-mata karena tanggungjawab saya untuk memikirkan keselamatan negara dan bangsa inilah kita harus mengambil langkah­-langkah yang konstitusional, tapi juga yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan jalan-jalan yang benar.

Kita mengharap agar supaya semuanya dimengerti oleh rakyat secara keseluruhan, sehingga lantas hentikanlah daripada segala kegiatan-kegiatan yang akhirnya akan berakibat daripada kependeritaan daripada rakyat kita, dengan menghasut kemudian lantas mendorong rakyat untuk berbuat salah, dan sebenarnya rakyat itu tidak mempunyai jiwa untuk berbuat salah, tetapi karena kemudian dia disuruh, didorong, dan sebagainya, sampai lantas lupa dan ini memang harus kita akhiri karena bisa membawa nama dan martabat bangsa kita.

Sekali lagi terima kasih atas perhatian daripada para wartawan dan juga saudara­-saudara para ulama.

Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh.

Sumber: BISNIS INDONESIA (20/05/1998)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 384-389.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.