SATELIT KOMUNIKASI AKAN MENJADI TREND DI ASEAN

SATELIT KOMUNIKASI AKAN MENJADI TREND DI ASEAN[1]

 

Jakarta, Antara

Penggunaan satelit akan menjadi “trend” di bidang telekomunikasi di negara-­negara ASEAN, mengingat sistem tersebut dapat menekan ongkos pembangunan fasilitas infrastruktur telekomunikasi.

Pembangunan stasiun bumi 20 tahun lalu mencapai satu juta dolar AS, sementara saat ini hanya sekitar 5.000 dolar AS dan berkurang lagi menjadi sekitar seribu dolar dua tahun mendatang, kata Dirut Asia Cellular Satellite (ACeS) Adi R. Adiwoso saat berbicara pada Pertemuan Pengusaha ASEAN I, di Jakarta, Rabu.

Hal itu membawa konsekuensi penurunan biaya rata-rata percakapan telepon dari 1,5 dolar per menit, menjadi 0,25 dolar per menit, katanya.

Perubahan yang cukup dramatis ini diharapkan dapat membuat prospek industri komunikasi dan informasi cukup cerah, ujarnya.

Melalui satelit saat ini, sambungan video kerumah-rumah dapat langsung dilayani. Bahkan, bukan tidak mungkin teknologinya akan terus meningkat hingga menjangkau telepon tangan dan multi media.

Dengan kemajuan dan inovasi teknologi satelit itu, ujar Adi, ASEAN dan Asia mendapat keuntungan yang cukup besar,ketimbang negara-negara maju.

Diharapkan, negara-negara ASEAN dapat menyejajarkan dirinya dengan negara-negara dalam bidang telekomunikasi pada 4-5 tahun mendatang, katanya.

Bukan pengikut

Melihat kenyataan tersebut, menurut Adi R Adiwoso, ASEAN harus mampu tidak hanya sekedar sebagai “pengikut” teknologi telekomunikasi dari negara-negara maju.

“Sebaliknya justru kita harus dapat menjadi pemimpin dalam teknologi telekomunikasi sesuai dengan lingkungan ASEAN.” katanya.

Ini memang lebih mudah dibicarakan ketimbang dikerjakan. Bagaimanapun juga ASEAN memang tidak punya pilihan selain ikut berkiprah dalam teknologi telekomunikasi jika memang ingin tetap terlibat secara aktif dalam kancah telekomunikasi Internasional.

ACeS merupakan usaha gabungan tiga Negara ASEAN (Indonesia, Filipina dan Thailand) bertujuan untuk menciptakan jaringan telekomunikasi yang terpadu di negara-negara ASEAN.

Dalam ACeS bergabung Pasifik Satelit Nusantara (Indonesia), Philippine Long Distance Telephone dan Jasmine International Overseas (Thailand).

Total investasi yang ditanamkan dalam perusahaan patungan ASEAN itu mencapai 1 miliar dolar AS. Adi R. Adiwoso menjadi salah satu pembicara utama dalam Pertemuan Bisnis ASEAN I yang dibuka Presiden Soeharto.

Pertemuan yang berlangsung hingga 13 Maret 1997 juga menghadirkan pembicara Menteri Industri dan Perdagangan Malaysia Datin Rafidah Aziz dan mantan Menlu Amerika Serikat Alexander Haig.

Sumber : ANTARA (12/03/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 272-273.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.