Sarno dan Cangkul Pesanan

Sarno dan Cangkul Pesanan[1]

 

Namanya Sarno (80 tahun). Ketika Pak Harto mengunjungi kampungnya, Yamansari – Lebaksiu, Tegal, Jawa Tengah, Ia sudah menjadi seorang pandai besi.

Daerahnya merupakan kawasan pertanian yang sudah barang tentu memerlukan peralatan yang lazim dihasilkan oleh pandai besi seperti cangkul, parang, garu, dan sabit. Bengkel pandai besi yang dijalankan Sarno merupakan warisan orangtuanya sejak tahun
1959-an.

Lelaki sederhana itu ingat Pak Harto singgah ke tempatnya bekerja. Bertanya apa saja yang bisa dibuatnya. Dijawab oleh Sarno bahwa ia bisa mengerjakan pembuatan cangkul, sabit, serta perlengkapan pertanian lainnya. Tentu saja Pak Harto antusias.

Lalu Pak Harto memesan cangkul dan sabit, jumlahnya mencapai ratusan. Dengan polos Sarno menjawab, dirinya tak sanggup mengerjakan. Sarno beralasana, dirinya terbiasa mengerjakan dalam seminggu tak lebih dari tiga sampai enam buah cangkul. Lalu Pak Harto menawarinya untuk membuat pabrik dengan kemampuan yang memenuhi pesanan. Lagi-lagi Sarno menolak. Menurutnya kalau membuat pabrik berarti ia harus berhutang. Sarno tidak mau. Bagi Sarno hutang akan menjadi beban bagi hidupnya. Meski begitu Sarno mengaku tetap memenuhi pesanan Pak Harto, namun sesuai kemampuannya saja.

Kisah Sarno dan cangkul pesanan memperlihatkan betapa kedatangan Pak Harto (7 April 1970) memang membawa kenangan tersendiri bagi penduduk Yamansari – Lebaksiu, Tegal. Terutama mereka yang sudah berusia lanjut, seperti Sarno masih dapat menceritakan kembali bagaimana Pak Harto menyusuri jalan desa, turun ke sawah, memasuki tempat penggilingan padi, membeli sesuatu di warung kelontong, dan berbincang-bincang dengan penduduk tentang banyak hal.

Terlebih bagi keluarga besar Kepala Desa Yamansari – Lebaksiu, Tegal. Pak Harto adalah kenalan lamanya ketika mereka sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Hari itu Pak Harto menginap di rumah mereka yang menyatu dengan balai desa. Lalu pada malam harinya penduduk memadati halaman rumah, ada pemutaran film penyuluhan pertanian yang menjadi hiburan tersendiri.

Sayang sekali, rumah dan balai desa itu sudah tiada, berganti dengan komplek ruko yang ramai. Balai desa memang sudah dialihkan ke tempat yang lebih strategis di tepi jalan raya, sementara lahan yang ditinggalkannya dimanfaatkan keluarga untuk berbagai keperluan guna melanjutkan hidup.***

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 32-33.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.