Sarmento Membaca Pantun Tetum Ucapan Terima Kasih BELO NAIK HELIKOPTER BERSAMA PAK HARTO

Sarmento Membaca Pantun Tetum Ucapan Terima Kasih

BELO NAIK HELIKOPTER BERSAMA PAK HARTO[1]

 

Dili, Merdeka

Seluruh rangkaian acara kunjungan Presiden Soeharto di provinsi paling muda, Timor Timur kemarin berjalan lancar. Pak Harto banyak menebar senyum, juga kepada Uskup Bello yang baru-baru ini menerima penghargaan Nobel Perdamaian. Belo juga diajak naik Helikopter bersama Pak Harto saat meninjau monumen Kristus Raja (PKR) dari udara.

Usai mendarat kembali di Bandara Comoro, dari penerbangannya ke Tanjung Fatucama, ketika ditanya wartawan, Belo mengatakan, dalam penerbangan itu bersama-sama Presiden disinggung keadaan umat Katolik di Timtim.

“Beliau (Presiden Soeharto) bertanya berapa jumlah gereja dan umat Katolik di sini..” kata Belo.

Presiden dan Uskup Bela dengan helikopter dua kali mengelilingi PKR untuk kemudian menyisir pantai Dili melalui rumah kediaman Uskup Belo di kawasan Lecidere, Gubernur dan dermaga pelabuhan Dili untuk selanjutnya kembali ke Bandara Comoro.

Masyarakat Kota Dili menyempatkan diri melihat pemandangan menarik ketika helikopter yang ditumpangi Kepala Negara dan Uskup Bela mengitari PKR dan kemudian menyisir pantai Dili.

Kedatangan Kepala Negara di Timtim kemarin untuk melakukan serangkaian kegiatan, yakni menerima gelar sebagai Bapak Integrasi Timtim dari masyarakat setempat, dan meresmikan secara simbolis berbagai proyek pembangunan meliputi, pembangunan jalan yang menghubungkan MotaAin- Dili- Los Palos sepanjang 325 km.

Ikut diresmikan pula empat jembatan sepanjang 1.865 meter dan irigasi untuk mengairi sawah 229ha serta monumen Kristus Raja. Selain itu Pak Harto juga meresmikan sebuahjalan yang diberi nama Jalan Ny. Tien  Soeharto. Upacara peresmian tersebut dilaksanakan di halaman kantor Gubernur.

Presiden bersama rombongan di antaranya Mensesneg Moerdiono, Mendagri Yogie SM, Menhut Djamalludin, Menteri PU Radinal Mochtar dan Pangab Jenderal Feisal Tanjung sekitar pukul 09.30 WITA mendarat di bandara Comoro, Dili, dengan penerbangan khusus dari Kupang, NTT.

Dari Bandara, rombongan Kepala Negara langsung ke kantor Gubernur. Setiba di halaman Gubernur, Presiden duduk di sebuah anjungan yang dibuat khusus untuk kunjungannya. Di anjungan ini Pak Harto duduk menghadap arah utara didampingi Gubernur Abilio Jose Osorio Soares dan Radinal Mochtar.

Pada awal acara, seorang anak Timtim Eugenio Sarmento tampil membaca pantun dalam bahasa Tetum. Pantun itu mengambarkan kesenangan rakyat Timtim menerima kedatangan Presiden di daerahnya. Untuk menandai itu, Pak Harto dinobatkan sebagai Bapak Integrasi Timtim. Penobatan ini ditandai dengan penyerahan seperangkat pakaian adat Timtim bersama aksesorisnya yang diletakkan dalam sebuah kotak cendana berukir.

Seusai menandatangani prasasti peresmian proyek-proyek pembangunan, Pak Harto menyalami satu persatu pejabat Muspida Timtim yang ikut mendampingi saat penandatanganan berlangsung.

Presiden menjabat tangan Gubernur Abilio, pertama kali, disusul kemudian Menteri PU Radinal Mochtar, bupati Dili Dominggus MD Soares dan terakhir menjalani uskup Dili Mgr Carloa Filipe Ximenes Belo SDB yang ikut mendampingi Presiden saat tandatangani prasasti peresmian proyek itu.

Saat disalami Presiden, Belo bersikap membungkuk. Tak ada kata yang ke luar, kecuali saling tersenyum. Salaman untuk Belo diberikan lagi tatkala Pak Harto akan meninggalkan Gubernur Dili, menuju bandara Comoro, dengan menggunakan helikopter melihat dari dekat pembangunan patung Kristus Raja yang terletak di bukit Fatucama, desa Meti Aut, kecamatan Dili Timur.

Dalam acara peresmian proyek-proyek pembangunan oleh Pak Harto, Belo menjadi perhatian banyak pihak. Tidak saja kalangan wartawan dalam dan luar negeri yang meliput kunjungan Kepala Negara ini, masyarakat yang hadir juga sangat memperhatikan kehadiran Belo.

Uskup Belo sudah tiba tempat acara tepat pukul 09.00 WITA, mendamping Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Pietro Sambi, dan Kardinal Julius Darmo Atmodjo. Saat Uskup Belo, Pietro Sambi dan Kardinal Julius memasuki halaman kantor Gubernur itu, tak pernah lepas dari bidikan kamera sekitar 50 orang wartawan.

Belo bersama dubes Vatikan, dan sejumlah menteri yang menyertai kunjungan Kepala Negara, menempati posisi duduk hampir sederet dengan Kepala Negara. Namun posisi duduk Belo sedikit agak ke belakang, dan diapit oleh Pangab Feisal Tandjung serta Dubes Vatikan Mgr Pietro Sambi.

Selain mendapat salaman dariPresiden,Belojuga sempat disalamani oleh Pangab Feisal Tanjung perihal hadiah Nobel yang baru diperolehnya. Saat kedatangan Pangab, bersama Mensesneg, Mendagri dan Menhut, serta merta Belo berdiri untuk menyalami satu persatu petinggi negara itu.

Pangab yang mendapat kesempatan terakhir bersalaman berujar pendek

“Selamat Pak Uskup atas hadiah nobel yang diperoleh.” mendengar kalimat itu, Belo pun membalas menyapa dengan mengucapkan terima kasih kepada Pangab. Belo sendiri kemarin mendapat banyak jabat tangan.

Dari halaman Kantor Gubernur Dili, Belo menumpang bus bersama Mendagri, Mensesneg, Menhut dan Pangab menuju ke bandara Comoro Dili. Dari Bandara Comoro ini Belo bersama rombongan Presiden mengunakan Heli untuk melihat lokasi patung Kristus Raja dari udara.

Seusai meninjau patung itu Presiden bersama rombongan kembali ke Jakarta.

Sementara sejumlah wartawan asing yang mendapat izin masuk ke Timtim untuk meliput kunjungan Kepala Negara ada yang langsung kembali dengan pesawat yang mereka carter namun ada pula yang akan berangkat hari ini.

Bersyukur

Dalam sambutan peresmiannya, Presiden Soeharto menegaskan, bangsa Indonesia bersyukur mempunyai Pancasila sebagai falsafah negara. Dengan Pancasila sebagai dasar negara, kita mampu menikmati hubungan yang sebaik-baiknya antara negara kebangsaan dan umat beragama yang menjadi warganya.

“Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila telah memberikan sifat khas kepada negara kebangsaan kita. Dengan sila ini negara tidak memaksa dan tidak akan memaksakan sesuatu agama untuk dipeluk oleh warga negaranya.” kata Pak Harto dalam amanat seusai peresmian sejumlah proyek pembangunan, di Timtim senilai Rp 83 miliar di Dili, kemarin.

Menurut Pak Harto, negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Kebebasan beragama merupakan salah satu hak asasi yang paling mendasar. Sebab, langsung berkaitan dengan martabat manusia sebagai pribadi dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Dengan  demikian, kemajemukan  agama tidak merupakan kerawanan, kemajemukan agama bahkan dapat merupakan kemajemukan potensi dan kekuatan yang dapat kita dayagunakan untuk mendorong maju pembangunan.

Di samping memeluk agama dan keyakinan yang berbeda masyarakat Indonesia juga memiliki aneka ragam kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah ini sangat diperhatikan oleh negara karena di situlah terdapat akar-akar kebudayaan nasional.

“Dalam kaitan inilah saya sangat menghargai prakarsa untuk membangun patung Kristus Raja di propinsi yang sebagian besar penduduknya beragama Katholik. Pembangunan patung ini juga menunjukan, setelah Timtim menjadi bagian dari Indonesia, nilai-nilai yang bersifat sakral dan religius di daerah ini terus tumbuh dan berkembang. Saya berharap dengan dibangunnya patung Kristus Raja ini keimanan saudara-saudara yang beragama Khatolik akan terus terpelihara, bahkan makin bertambah mendalam dan kukuh.” kata Pak Harto.

Menurut Pak Harto, meskipun kebudayaan daerah kita beraneka ragam, namun kita masih berketapan hati untuk menja di satu bangsa Indonesia. Persatuan dan kesatuan nasional kita sama sekali tidak akan meniadakan kemajemukan bangsa.

“Persatuan dan kesatuan bangsa tetap menghormati perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas khas dari rakyat kita. Adalah mustahil meniadakan keanekaragaman rakyat kita, justru sebaliknya, keanekaragaman mempakan sumber dan masukan yang amat kaya untuk pengembangan kebudayaan nasional. Saya minta agar dalam pembangunan lahir batin sekarang ini rakyat Timtim juga menggali, memperkuat dan mengembangkan kebudayaan daerah ini. Karena itulah saya merasa bangga hari ini menerima seperangkat pakaian adat Timtim.” tambah Pak Harto.

Kepala Negara kembali mengingatkan, negara Indonesia adalah negara yang menganut paham kebangsaan. Berarti menyatu dengan seluruh rakyatnya tanpa membedakan golongan yang satu dengan lainnya. Negara berdiri di atas semua golongan dan perseorangan, dan setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama, terlepas dari latar belakang suku, agama atau ras, asal usulnya.

“Paham kekeluargaan yang kita anut juga termasuk : membolehkan diskriminasi dalam bentuk dan dasar apa pun. Kita tidak membedakan mayoritas dan minoritas, apalagi mempertentangkannya. Yang kita kembangkan adalah kerukunan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan.” tegas Pak Harto.

Dalam akhir amanatnya, Presiden secara pribadi dan mewakili keluarganya merasa haru dan mendapat kehormatan mendengar keinginan yang tulus dari rakyat Timtim untuk mengabadikan nama almarhumah lbu Tien Soeharto, pada salah satu mas jalan di kota Dili. Karena itu Presiden menyampaikan terima kasih sedalam dalamnya kepada rakyat Timtim.

Dampak Pembangunan

Gubernur Timtim Abilio Jose Osorio Soares menyatakan, selama 20 tahun Timtim berintegrasi dengan saudara-saudaranya di negara Republik Indonesia telah dilaksanakan serangkaian proses pembangunan di segala bidang. Hal ini diungkapkan Presiden Soeharto dalam peresmian kemarin.

Dampak dari pembangunan itu, lanjut Abilio, kini telah terjadi perubahan pembahan yang berarti dari semua segi kehidupan. Baik aspek perekonomian, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

“Semua kemajuan ini membuat rakyat Timtim merasa telah menemukan kembali harga diri martabat dan kehormatannya sebagai bangsa bagian integrasi dari negara kesatuan Republik Indonesia yang bebas, merdeka dan berdaulat.” kata Abilio.

Dari segi perekonomian, telah dibangun infrastruktur berupa jalan sepanjang 4.905 kilometer dan jembatan sepanjang 5.500 meter. Hasil nyata yang dirasakan rakyat juga terjadi pada pendapatan per kapita, yakni pada 1976 baru sekitar Rp.80 ribu, namun sekarang meningkat drastis menjadi Rp.850. 000. Karena itu sebagai pernyataan rasa syukur maka rakyat Timtim mendaulat Presiden Soeharto sebagai Bapak Integrasi Timor Timur.

“Mengingat betapa besar jasa Bapak Presiden di mana 20 tahun silam dengan rela menerima kehendak yang sangat dalam dari seluruh rakyat Timtim untuk menyatu dengan saudara-saudara kami di dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Hal ini merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak terhingga karena hasrat rakyat tersebut mendapat sambutan Bapak Presiden.” kata Abilio.

Menurut Abilio, pengangkatan Pak Harto sebagai Bapak Integrasi berdasarkan usul dari seluruh masyarakat Timtim yag ditampung oleh wakil-wakilnya di setiap kabupaten melalui keputusan DPRD IT. Aspirasi ini selanjutnya mendapat pengesahan dari wakil rakyat yang duduk di DPRD Tk I.

“Hal ini benar-benar telah menjadi keinginan yang tulus dari seluruh rakyat Timtim.” tegas Abilio.

Sumber : MERDEKA (16/10/1996)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 204-208.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.