Sara Itu Sangat Berbahaya

Jakarta, 7 Agustus 1998

Kepada

Yth. Bapak H.M. Soeharto

Jl. Cendana No.6

Menteng – Jakarta Pusat

SARA ITU SANGAT BERBAHAYA [1]

Dengan hormat,

Mengingat keberhasilan yang telah bapak ciptakan, khususnya dalam meletakkan dasar-dasar bagi kehidupan pluralisme dalam tatanan kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural serta jasa dan usaha Bapak untuk mempromosikan persamaan derajat setiap warga negara dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, yang bapak implementasikan dengan penuh hormat – jika bapak berkenan akan menerima bapak sebagai anggota kehormatan kami.

Kami sadari, organisasi kami bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kebesaran nama Bapak sebagai seorang negarawan. Namun sebagai seorang pandita, pengalaman dan kebijakan Bapak akan sangat bermanfaat bagi keberhasilan yayasan kami dalam mencapai tujuannya. Di negeri kita yang begitu beragam ini, bahaya Sara dan diskriminasi tidak saja berakibat pada pelecehan martabat manusia tapi juga mengancam integrasi Indonesia sebagai negara kesatuan. Kami yakin bapak tetap ingin mendharma baktikan kemampuan bapak bagi nilai­nilai kemanusiaan dan nusa bangsa. Oleh sebab itulah kami menyediakan wadah bagi bapak jika sekiranya Bapak berkenan untuk menyalurkan sari-sari pemikiran dan perenungan bapak bagi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis.

Jika sekiranya Bapak – oleh karena sesuatu dan lain hal – belum berkenan menjadi anggota kami, maka kami tidak akan berkecil hati. Setidaknya kami telah cukup bahagia karena bapak mengetahui bahwa organisasi kami merupakan bagian dari rakyat tetap menghormati dan menghargai Bapak – terlepas dari kelebihan dan kekurangan Bapak ­di tengah gencarnya insinuasi yang kerap kali kurang memberi tempat bagi rasa saling menghormati.

Demikian surat kami dan kami haturkan terima kasih atas perhatian Bapak. Dengan harapan Bapak berkenan dengan permohonan kami. (DTS)

Hormat kami,

Bambang Jatmiko MA.

Ketua Masyarakat Anti Sara Indonesia

Pasar Minggu – Jakarta

[1]       Dikutip langsung dari dalam sebuah buku berjudul “Empati di Tengah Badai: Kumpulan Surat Kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998”, (Jakarta: Kharisma, 1999), hal 315-316. Surat ini merupakan salah satu dari 1074 surat  yang dikirim masyarakat Indonesia dari berbagai pelosok, bahkan luar negeri, antara tanggal 21 Mei – 31 Desember 1998, yang menyatakan simpati setelah mendengar Pak Harto mengundurkan diri. Surat-surat tersebut dikumpulkan dan dibukukan oleh Letkol Anton Tabah.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.